Inovasi Pertanian Menjawab Senjakala Kedaulatan Pangan

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Keengganan anak-anak muda untuk turun ke sawah sudah menjadi fenomena yang terjadi hampir di seluruh daerah. Kondisi ini menyebabkan sebagian orang menganggap bahwa senjakala kedaulatan pangan sudah di ujung mata. Namun inovasi serta perkembangan teknologi pertanian mampu mematahkan anggapan tersebut.

Bupati Banyumas, Achmad Husein dalam acara sambung rasa orang biasa yang membahas Senjakala Kedaulatan Pangan di Pendopo Sipanji, Kamis (20/2/2020) malam menyampaikan, tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan akan senjakala kedaulatan pangan. Sebab manusia dikarunia otak untuk berpikir.

“Jika penyebab senjakala kedaulatan pangan adalah generasi muda yang enggan bertani, maka kita mempunyai kewajiban untuk membuat mereka tertarik dan mau turun ke sawah. Ada teknologi pertanian, ada berbagai macam inovasi yang bisa dilakukan dan membuat hasil pertanian menjadi berdaya jual tinggi,” kata Husein.

Bupati mengakui, selama ini Indonesia masih minim riset pertanian yang hasilnya spektakuler. Namun bukan berarti tidak ada, hanya saja belum banyak dan belum diketahui masyarakat luas.

“Harus ada solusi supaya produk-produk pertanian kita menjadi produk unggul yang berdaya jual tinggi. Sekarang sudah ada kultur jaringan serta inovasi di bidang pertanian lainnya, tinggal bagaimana menyampaikan hal tersebut kepada generasi muda secara luas,” tuturnya.

Pernyataan Bupati tersebut menjawab kegundahan yang disampaikan salah satu petani yang juga seniman, Titut Edy Purwanto. Menurutnya, fenomena area sawah dijual dan dijadikan lahan untuk membangun perumahan sudah banyak terjadi di Banyumas. Hal tersebut disebabkan karena para petani sekarang sudah memasuki masa tua dan anak-anak mereka tidak mau meneruskan bertani.

“Di desa saya, ada petani usianya sudah 60 tahun dan ia mengerjakan lahan seluas 200 ubin sendirian, dari mulai mengolah tanah, mencangkul hingga menanam,” cerita Titut.

Saat ini, lanjutnya, di desa-desa tidak ada petani yang usianya di bawah 45 tahun. Usia produktif sekarang lebih memilih untuk mencari pekerjaan yang dianggapnya lebih baik, seperti melamar menjadi pegawai dan lainnya.

Hal ini tentu mengundang rasa keprihatinan, dimana tingkat kepercayaan generasi muda terhadap dunia pertanian menurun. Padahal, lanjut Titut, ia membuktikan sendiri, bahwa dengan bertani mampu untuk menghidupi keluarga, mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

“Saya katakan senjakala kedaulatan pangan sudah terjadi, termasuk di Banyumas karena para petani kita sudah tua semua dan anak-anak mudanya lari ke kota mencari pekerjaan,” katanya.

Acara sambung rasa yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan pihak lainnya ini berlangsung gayeng. Ratusan warga yang sebagian merupakan petani, mahasiswa, ormas dan lain-lain memadati Pendopo Sipanji hingga tengah malam.

Lihat juga...