Kakek Sembilan Cucu ini Akhirnya Punya Buku Nikah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Meskipun mengaku capek karena harus berangkat pagi buta dari Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, namun Waridi (84) bersama istrinya, Tuwiyem (60) tampak bahagia. Kebahagiaan tersebut karena sebuah buku kecil yang dipegangnya dan sesekali dibuka-buka.

“Iya sudah punya buku nikah, rasanya senang, karena sudah puluhan tahun menikah dan baru hari ini bisa pegang buku nikah yang tertera nama saya dan istri,” tutur kakek dengan 9 cucu dan 1 buyut ini, Jumat (28/2/2020).

Waridi bercerita, sebenarnya ia sudah menikah resmi dengan Tuwiyem. Namun, saat akan mengambil buku nikah, penghulu pernikahannya meninggal dunia. Sehingga ia menunda untuk mengambil buku nikah tersebut.

Sampai lama tidak diambil karena kesibukan dengan hidup barunya bersama istri, saat Waridi bermaksud mengambil, keluarga penghulu tersebut sudah pindah.

Sehingga sampai saat ini, ia belum pernah memegang buku nikah. Waridin sendiri sudah lupa kapan tepatnya tanggal pernikahannya dulu.

“Sudah lupa tahun berapa menikahnya, sudah lama sekali,” katanya.

Saat ini Waridin dan istri sudah mempunyai empat orang anak, 9 orang cucu dan satu buyut. Meskipun sudah tidak muda lagi, namun memiliki buku nikah merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Waridin.

Setidaknya, ia sekarang ingat akan hari pernikahannya bersama istri tercinta. Dan buku nikah tersebut bisa dijadikan saksi janji suci mereka untuk hidup bersama.

Lain lagi cerita yang disampaikan Muryadi (60) bersama istrinya Sarinah (60). Warga Desa Cingebul, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas ini sebenarnya sudah menikah resmi dan memiliki buku nikah. Hanya saja, mereka terkena musih, rumahnya kebakaran dan seluruh dokumen surat penting terbakar, termasuk buku nikah miliknya.

“Pernah mau mengurus buku nikah baru, tetapi tidak ada bukti atau dokumen yang menjelaskan kalau kami sudah menikah, karena semua surat-surat terbakar. Sehingga satu-satunya jalan untuk mendapatkan buku nikah dengan mengikuti acara nikah massal ini,” kata Muryadi yang mengaku tidak memiliki biaya jika menggelar pernikahan sendiri.

Muryadi dan Sarinah saat ini sudah dikaruniai dua orang anak dan satu cucu. Sehari-hari Muryadi bekerja sebagai buruh tani di desanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Sangat senang ikut acara nikahan ini, bisa berdandan seperti pengantin di rumah gedongan dan disaksikan oleh pak bupati lagi. Dulu saya waktu menikah, berhiasnya tidak seperti ini,” tutur Sarinah.

Baik Waridi dan Tuwiyem maupun Muryadi dan Sarinah merupakan bagian dari 143 pasangan yang ikut acara Banyumas Mantu. Tempat tinggal mereka sangat jauh, berada di ujung timur dan ujung barat Banyumas, namun dilandasi keinginan memiliki legalitas pernikahan, mereka rela menempuh jarak yang jauh.

Dalam acara ini, Banyumas berhasil membagikan kebahagiaan kepada warganya, sehingga hiruk-pikuk perayaan HUT Kabupaten Banyumas tak hanya milik sekelompok orang saja.

Lihat juga...