Kue Gipang Berbahan Ketan, Sajian Saat Momen Istimewa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kue gipang atau jipang salah satu camilan tradisional berbahan ketan. Proses pembuatan yang membutuhkan waktu lama menjadi ciri khas makanan bercita rasa manis gurih ini.

Theresia Lisdaryanti, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut membuat gipang untuk acara arisan keluarga.

Theresia Lisdaryanti (kanan) warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, melakukan proses pemotongan kue gipang atau jipang yang sudah dicetak menggunakan cetakan kayu, Sabtu (22/2/2020) – Foto: Henk Widi

Acara yang menghadirkan anggota keluarga besar tersebut membuat kue gipang dijadikan oleh-oleh. Bahan pembuatan gipang disebut Lis sapaan akrabnya, memakai beras ketan, gula pasir dan air asam jawa, vanili.

Sebelum membuat gipang ia menyiapkan beras ketan yang sudah dikukus, dijemur satu bulan sebelumnya. Beras ketan yang sudah dikukus akan dijemur hingga kering.

Beras ketan yang sudah kering atau dikenal karak menurutnya akan disimpan pada wadah plastik kedap udara. Kualitas karak akan tetap baik jika disimpan dengan wadah kedap udara.

Karak beras ketan akan diberi warna merah memakai pewarna makanan dan sebagian dibiarkan putih seperti aslinya. Proses penjemuran sempurna dengan sinar matahari akan menghasilkan karak ketan yang renyah.

“Karak ketan tidak harus dibuat langsung menjadi gipang karena bisa disimpan agar tidak terlalu mendadak menyiapkan bahannya, jika sudah ada karak tinggal menyiapkan asam jawa, gula pasir,” terang Theresia Lisdaryanti saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (22/2/2020).

Lis menyebut menyiapkan bahan gipang dari ketan dalam waktu lama karena akan membuat dalam jumlah banyak. Sebanyak lima kilogram beras ketan dibuat untuk porsi puluhan keluarga yang akan datang.

Proses pembuatan yang lama dan peralatan sederhana dibantu oleh ibu dan anggota keluarga lain. Cetakan kue gipang memakai kayu khusus yang telah diberi ukuran.

Proses awal pembuatan gipang menurut Lis dimulai dari menggoreng karak ketan yang sudah kering. Penggorengan beras ketan menurutnya dilakukan menggunakan minyak panas agar ketan bisa mengembang.

Tiriskan ketan yang sudah digoreng dengan pemisahan warna merah dan putih. Sebab proses pencampuran akan dilakukan saat pemberian adonan gula pasir, asam jawa dan vanili.

“Sembari meniriskan beras ketan yang sudah digoreng, dibuat perekat sekaligus perasa menggunakan gula pasir, asam jawa dan vanili,” tutur Lis.

Sang ibu, Fransisca Suyatinah menyebut, adonan perekat dari gula pasir, asam jawa dan vanili dipanaskan dalam wajan. Proses pembuatan bahan-bahan itu dikenal dengan membuat karamel yang berguna merekatkan beras ketan dan sekaligus menambah rasa.

Fransisca Suyatinah mengemas kue gipang yang telah dicetak dan dipotong akan digunakan sebagai oleh-oleh bagi keluarga yang berkunjung, Sabtu (22/2/2020) – Foto: Henk Widi

Setelah karamel tercampur sempurna bahan karak ketan yang telah digoreng dimasukkan dalam wajan.

Proses pencampuran karamel dengan bahan beras ketan menurutnya dilakukan pada wajan. Beras ketan yang tercampur dengan karamel selanjutnya dituang bertahap dalam cetakan kayu.

Sesuai dengan ukuran cetakan kayu dibuat dengan panjang 9 petak dan lebar 6 petak. Sebanyak 45 kotak kue gipang menurutnya bisa diperoleh setelah karak ketan dipadatkan dengan alat khusus.

“Proses pengirisan gipang harus memakai pisau yang tajam dengan tekanan dari bilah kayu,” beber Fransisca Suyatinah.

Kue gipang yang sudah dipotong selanjutnya akan dikemas dengan jumlah 27 potong. Sebagian kue gipang yang tidak dikemas dimasukkan dalam toples kedap udara agar awet.

Kue gipang dengan aroma wangi vanili, manis dan asam bisa disajikan kepada tamu yang hadir saat arisan keluarga. Meski kue gipang kini menjadi kue yang dianggap kuno namun masih disukai.

Kue gipang yang disimpan dengan baik pada toples menurutnya akan bertahan dalam waktu lama. Berbahan beras ketan, kue gipang menurutnya cocok disajikan saat pagi hari atau saat bersantai.

Dinikmati dengan secangkir kopi atau teh camilan tradisional tersebut disajikan saat momen istimewa. Kue gipang bahkan kerap disajikan ketika acara pernikahan, hari raya dan acara-acara khusus sebagai sajian istimewa bagi tamu.

Lihat juga...