Kuliner Pondok Raos di Sikka, Pesan Dulu Baru Diolah

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Mentari terasa mulai menyengat dan waktu pun terus beranjak mendekati siang saat satu per satu pelanggan  dan penikmat kuliner mulai berdatangan  ke rumah makan Pondok Raos di Centrum kota Maumere.

Deretan kursi degan jumlah terbatas di rumah makan yang berada di kompleks perumahan di kota  Maumere Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur  ini mulai terisi.

Setiap tamu yang datang pun ditanyakan apa makanan dan minuman yang diinginkan baru setelah itu pemilik rumah makan mulai mengolah dan menghidangkan kepada pembeli.

“Kami tidak menyajikan makanan yang sudah dimasak dan dipajang di estalase dan pembeli memilihnya. Tapi setelah pembeli datang dan memesannya baru kami memasak dan menghidangkannya,” sebut  Simon Subandi Keytimu, pemilik rumah makan Pondok Raos, Sabtu (8/2/2020).

Simon Subandi Keytimu, pemilik rumah makan Pondok Raos saat ditemui, Sabtu (8/2/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Keinginan berbisnis kuliner, kata Simon berawal dari minatnya akan makanan lokal dimana setiap kali ke sebuah daerah dirinya selalu mencari apa makanan khas daerah tersebut.

Dia melihat di Sikka bisnis ini masih berpeluang besar sebab orang dalam kondisi apa pun, dalam situasi ekonomi apa pun  pasti butuh makan dan dalam beberapa tahun terakhir bisnis ini kian berkambang.

“Di Maumere ini dalam beberapa tahun ini tumbuh usaha-usaha kuliner yang mengolah sumber daya lokal. Saya tertarik terjun ke bisnis ini karena peluang bisnisnya pun cerah dan menjanjikan,” ucapnya beralasan.

Selain itu tambah Simo, semua bahan baku untuk kuliner tergolong  lengkap di kota Maumere hanya saja  perlu diolah dengan baik supaya kulinernya bisa disukai oleh pembeli.

Nama Pondok Raos jelasnya, diartikan sebagai tempat berkumpul  atau berteduh yang menyediakan kuliner yang enak. Kata Raos sebutnya berasal dari bahasa Sunda yang artinya enak karena kebetulan isterinya lahir dan besar di Bandung, tanah Pasundan.

“Tetapi Romo Laurensius, Pr saat memberkati rumah makan ini awal September 2019  spontan mengatakan, Raos itu singkatan dari Rancangan Allah Oke Selalu,” ujarnya.

Selama 5 bulan membangun usaha, ternyata perkembangan  bisnisnya bagus dimana market share atau pangsa pasar yang dibidiknya yakni para karyawan dan pegawai kantoran.

Suami Carolina Yni ni ini mengatakan, warung makannya hanya dibuka menjelang siang hingga malam hari  untuk melayani konsumen yang ingin makan siang dan makan malam.

Pondok Raos  juga melayani delivery order atau pesanan dari konsumen  di kota Maumere yang malas keluar rumah dan biasanya  melakukan pembelian lewat online di media sosial maupun menelpon.

“Dalam sehari pendapatan berkisar antara Rp.1,5 hingga Rp.2 juta. Kami juga melayani orderan untuk prasmanan maupun nasi kotak bagi perusahaan atau kantor yang memesan. Pemesanan menu disesuaikan dengan keinginan pembeli ,” paparnya.

Ikan bakar dan kuah asam yang disajikan  rumah makan ini hampir dijual di rumah makan lainnya di kota Maumere, namun pembeli tetap berdatangan ke tempat ini setelah menyantapnya pertama kali.

Warung makannya, kata Simon, juga menjual mi tek-tek, mi kampung dengan harga yang terjangkau serta aneka sayuran yang disajikan sesuai dengan pesanan dengan harga jual bervariasi.

“Rentang harga untuk ikan tergantung besar kecilnya ikan dan jenis ikan  mulai dari Rp20 ribu hingga Rp200  ribu. Kendalanya terkadang stok ikan kurang dan karena pangsa pasar kami para pekerja kantoran, saat hari libur warung kami sedikit sepi,” ujarnya.

Pondok Raos sering menjadi tempat nongkrong dan berdiskusi berbagai kalangan sambil menikmati hidangan sehingga warung ini pun selalu saja disambangi pelanggan.

Dalam waktu dekat Simon berencana membangun tempat usahanya menjadi dua lantai serta membuka  cabang di kota-kota lainnya di NTT. Dia pun mengolah sendiri ikan kuah asam sementara masakan lainnya diolah sang isteri.

“Saya lebih fokus kepada pemasarannya lewat media apa pun termasuk promosi lewat media sosial. Dengan memiliki usaha, saya tidak diatur waktu atau diatur orang lain, saya bebas mengatur waktu,” tuturnya bangga.

Simon ini dengan membuka rumah makan, menjadi salah satu sarana memberikan edukasi kepada masyarakat yang mengeluh sulitnya mendapatkan pekerjaan bahwa sebenarnya kita bisa lakukan apa pun asal ada kemauan.

Mantan  anggota DPRD Sikka ini mengaku setelah tidak terpilih duduk di kursi legislatif kembali, dirinya mulai berbisnis apa saja sementara banyak temannya bingung mau kerja apa, ada semacam post  power syndrome bahkan ada yang belum bisa move on.

“Kebetulan saya kuliah di IPB Bogor dimana sejak kuliah sudah diajari untuk berwirausaha sehingga saya tidak berpikir untuk menjadi pegawai negeri. Saya tertantang agar saya jangan menjadi pengangguran sehingga apa pun yang bisa menghasilkan uang akan saya kerjakan,” ucapnya.

Bisnis kuliner jadi pilihan karena Simon berpikir masakan isterinya enak jadi awalnya coba dipasarkan lewat media online dan ternyata respon pembeli bagus hingga akhirnya membangun warung makan.

Semua masakan dibuat tanpa bahan penyedap rasa pabrikan hanya mengandalkan bahan alami. Dirinya mengaku merasa puas karena bisa membuka usaha kuliner dan bisa mempekerjakan dua orang karyawan untuk saat ini.

Dia memberi resep berusaha, tetap menjaga kualitas, menjaga rasa dan memberikan pelayanan yang terbaik. Selain itu, harus cepat juga dalam penyajian masakannya agar penikmat kuliner merasa puas.

“Saya senang dengan satu kalimat yang mengatakan sukses itu perjalanan bukan tujuan,” ucapnya.

Gusti Poah salah seorang pelanggan mengaku sering menikmati makanan di Pondok Raos bahkan selalu mengajak teman dan merekomendasikan kepada tamunya untuk mencicipi aneka masakan di rumah makan berdinding bambu ini.

Gusti mengaku masakan di rumah makan ini pun tergolong enak dan lezat sebab makananya baru diolah setelah dipesan sehingga rasanya pun berbeda bila dibandingkan dengan makanan yang telah lama dimasak.

“Makanannya juga enak serta cepat dalam penyajiannya setelah kita memesan. Tempatnya juga nyaman meskipun berada di dekat jalan raya,” tuturnya.

Lihat juga...