Lekun, Kue Lokal Sikka Dibakar di Bambu

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Lekun merupakan salah satu makanan  lokal jenis kue masyarakat di Maumere Timur, Wolet maupun Tana Ai di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Biasa dijumpai saat antar belis atau mahar dalam pesta pernikahan maupun disuguhkan dalam acara-acara adat, dimakan saat minum teh atau kopi.

“Lekun bagi kami orang Wolet merupakan kue yang biasa dimakan sebagai teman saat minum kopi atau teh pada pagi atau sore hari,” kata Severinus Jonson, pemilik rumah makan Kuliner Jones di Pasar Wairkoja, Sabtu (01/2/2020).

Severinus Jonson, pemilik rumah makan Kuliner Jones di Pasar Wairkoja, Kecamatan Kewapante, Sikka, yang menjual lekun saat ditemui Cendana News, Sabtu (1/2/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Jones sapaannya mengatakan,kini lekun sudah mulai banyak dijual orang sehingga bisa dikonsumsi kapan saja dan mulai banyak dikonsumsi oleh seluruh masyarakat setiap saat.

Dirinya mengatakan, lekun dijualnya setiap malam minggu saat acara car free night di kampung Kabor Kelurahan Kabor, kota Maumere dan banyak pengunjung yang tertarik membelinya.

“Minggu lalu kami jual 20 potong dan habis, sehingga nanti malam kami akan jual lebih banyak lagi karena banyak pengunjung yang suka dan membawa pulang untuk dikonsumsi,” tuturnya.

Untuk satu potong yang masih diletakkan di dalam bambu, terang Jones, dijual dengan harga Rp10 ribu hingga Rp20 ribu tergantung ukurannya sementara untuk satu bambu sepanjang sekitar 40 sentimeter dijual seharga Rp50 ribu.

Sementara Resta Balik menjelaskan, lekun dibuat dari campuran beras biasa dan beras ketan hitam dimana beras digiling terlebih dahulu setelah itu baru dicampur dengan air dan gula aren.

Adonan beras dan gula aren diaduk sambil dimasukan  santan serta sedikit ampas kelapa parut baru sesudahnya masukan sedikit gula pasir sambil terus diaduk hingga adonan  merata.

“Bambu muda dipotong dengan ukuran panjang sekitar 30 sampai 40 sentimeter dan dibersihkan bagian dalamnya. Setelah itu masukan adonan tersebut ke dalamnya,” ungkapnya.

Bambu tersebut, ujar Resta, dibakar di api hingga bagian luar bambu terbakar dan berwarna kehitaman pertanda lekun tersebut sudah matang sehingga siap diangkat dan didinginkan.

Bambu berisi lekun tersebut lalu dipotong-potong sesuai ukuran untuk dijual atau dikonsumsi sendiri dan bila hendak dimakan maka bambu dibelah sehingga lekun akan berbentuk bundar.

“Lekun berbentuk bundar tersebut pun dipotong sesuai ukuran dan siap dihidangkan sebagai kue untuk dimakan saat minum teh atau kopi,” pungkasnya.

Lihat juga...