Mahasiswa di Semarang Gelar Festival Budaya Jepang

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Belasan tokoh animasi tiba-tiba menyerbu kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, jalan Imam Bonjol, Minggu (16/2/2020). Tidak hanya sekadar datang, mereka pun unjuk aksi sesuai peran masing-masing tokoh.

Tidak hanya dari baju atau kostum, mereka juga meniru gaya rambut, hingga penampilan gaya dari tokoh anime. Pengunjung yang datang pun antusias melihat tampilan para peserta yang menarik dan penuh kreativitas.

Rupanya, para cosplayer tersebut tampil dalam Bunkasai, yakni festival budaya Jepang yang digelar himpunan mahasiswa Sastra Jepang (Hikari) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Udinus.

“Hampir setiap tahun selalu hadir meramaikan ajang Bunkasai. Kali ini, saya tampil dengan balutan kostum tokoh Raven Veteran Commander dari game Elsworld. Pembuatan kostum ini sekitar tiga bulan, ada yang beli, namun juga ada yang buat sendiri,” papar cosplayer Reliano, salah satu peserta saat ditemui di sela perlombaan.

Pemuda asal Kabupaten Temanggung tersebut mengaku senang dengan ajang kompetisi cosplayer. Menurutnya tidak hanya menumbuhkan antusiasme masyarakat terhadap beragam karakter, juga mengasah kreativitas dari para pemain cosplayer.

“Ide selalu ada. Jadi, kita berusaha untuk mencari tokoh yang sesuai dengan karakter kita. Belajar tentang gaya dan penampilan mereka, ini tidak mudah, namun menjadi tantangan. Termasuk membuat detail busananya, seperti warna kostum juga harus sama,” paparnya.

Hal serupa disampaikan Cindy Wulandari, yang memerankan tokoh Nezuko dari Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, sebuah seri manga Jepang.

“Ini merupakan ajang pertama saya ikut lomba, selama ini hanya sebatas tampil bareng teman-teman atau even cosplay,” papar siswi SMK Semarang tersebut.

Ada banyak alasan, yang menurutnya menjadi daya tarik dalam cosplay. Salah satunya, dirinya bisa menjadi tokoh lain yang berbeda dari keseharian.

“Bisa dibilang menjadi wadah kita untuk mengekspresikan diri, sekaligus melepas rutinitas sehari-hari,” tandas gadis berusia 18 tahun tersebut.

Sementara, ketua pelaksana Yonathan Pradana, menjelaskan Bunkasai menjadi salah satu cara untuk mengenalkan budaya Jepang, sekaligus jurusan Sastra Jepang Udinus kepada masyarakat umum.

Bunkasai juga menjadi momen bagi mahasiswa, untuk mengembangkan softskill mereka. “Jadi kita tidak hanya belajar bahasa Jepang dan budaya mereka secara teori saja, tapi bisa diimplementasikan langsung melalui Bunkasai ini,” tuturnya.

Dijelaskan, ada tujuh perlombaan yang terbuka untuk umum. Dari mulai menggambar manga, cosplay, sing cover, dance cover, photography serta seiyuu.

Seiyuu sebutan untuk pengisi suara di Jepang, kita mengenalnya dengan dubbing atau sulih suara. Jadi, lomba mengisi suara untuk anime, permainan video, atau film Jepang,” ungkapnya, lebih lanjut.

Selain menghadirkan JKT 48 ‘Team J’ untuk makin menyemarakkan kegiatan, juga digelar tradisi Soran Bushi, berupa tarian tradisional asal Jepang yang dibawakan para mahasiswa Udinus.

Gerakan tarian menggambarkan rutinitas nelayan dan kehidupannya, dari gerakan gelombang laut, nelayan menyeret jaring, hingga menarik tali.

Selain itu, juga ada acara mengarak Omikoshi atau replika kuil Shinto, yang di Jepang sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah kemakmuran, dan bagian dari doa agar meraih masa datang yang lebih baik.

Lihat juga...