Manis Pedas Kelezatan Soto Ayam Semarang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Soto ayam, menjadi menu wajib yang harus dicoba saat berkunjung ke Semarang. Ada banyak warung soto yang siap menjadi pelepas lapar dengan ciri khas masing-masing.

Salah satunya soto ayam Pak Man. Begitu legendarisnya, banyak tokoh nasional yang rela menyempatkan diri untuk menikmati kelezatan soto tersebut.

Sejumlah foto pemilik bersama para tokoh nasional pun terpasang di dinding warung soto. Mulai dari Presiden Joko Widodo, Menkeu Sri Mulyani, mantan Kapolri Timur Pradopo hingga tokoh lainnya.

Disajikan dalam mangkuk kecil berisi nasi, bihun, suwiran daging ayam, tauge, potongan daun bawang, irisan tomat, kemudian disiram dengan kuah bening panas, kesegaran soto ayam Pak Man memiliki citra rasa tersendiri yang bikin ketagihan.

Ditambah sambal pedas, kecap manis, dan jeruk nipis, kenikmatan soto ayam Pak Man bakal makin membuat lidah bergoyang.

Jika tidak suka kecap, kuah sate pelengkap soto bisa menjadi rekomendasi. Terlebih, kuah sate bertekstur kental ini sudah berbumbu merica.

Perpaduan antara rasa manis dan pedas, menjadikan soto ayam Pak Man kian istimewa. Dipastikan, makan semangkok soto akan terasa kurang.

Tidak sendiri, beragam lauk tambahan tersedia siap menemani kita saat mencicipi semangkok soto.

Pilihannya beragam, mulai tempe goreng, perkedel, hingga bermacam sate kuah, seperti sate ayam, usus, kerang, telur puyuh hingga uritan.

Bagi yang mau menikmati cita rasa berbeda, sate uritan menjadi rekomendasi. Sate ini berbahan dasar telur ayam, yang belum jadi sempurna. Uritan ini kemudian dimasak bacem, setelah masak kemudian dijadikan sate.

“Saya hampir setiap minggu ke sini. Mencicipi soto ayam Pak Man. Cita rasanya berbeda dibanding soto yang lain, meski sama-sama soto Semarangan dengan kuah bening,” papar Rifai, warga Pucanggading, Kabupaten Demak, di soto ayam Pak Man, Jalan Purwosari Raya, Semarang, Sabtu (15/2/2020).

Warung soto Pak Man memiliki sejumlah cabang di Kota Semarang. Selain warung utama di Jalan Purwosari Raya Semarang, atau sebelah Pasar Burung Karimata, juga terdapat di Jalan Telogosari Raya, Jalan Veteran, Jalan Pamularsih Raya dan Jalan Perintis Kemerdekaan, Pudak Payung Semarang.

“Cita rasa semua cabang sama, karena semua dipasok, tapi kalau saya pribadi lebih memilih warung di Jalan Purwosari,” tambah Rifai.

Harga yang ditawarkan juga relatif terkangkau. Semangkok soto dihargai Rp 12 ribu, aneka sate kuah Rp 7 ribu, aneka gorengan Rp 2 ribu, es teh manis/tawar Rp 3.500, es jeruk Rp 5 ribu.

Jika berkunjung di jam sibuk, terutama akhir pekan, kita harus bersiap untuk antre. Namun tidak perlu khawatir, pelayanan yang cepat membuat antrean tidak terlalu lama.

Sementara, di sela melayani pembeli, salah seorang pegawai, Ateng, menuturkan, soto Pak Man diambil dari nama pemilik, Sudarmanto atau akrab dipanggil Pak Man.

Salah seorang pegawai saat melayani pembeli di warung utama, Jalan Purwosari Raya Semarang, Sabtu (15/2/2020). Foto: Arixc Ardana

Usaha soto tersebut dirintis sejak tahun 1990-an. Awal usaha, Pak Man berjualan keliling di Jalan Purwosari-Krakatau-Halmahera-Lingga pada tahun 1990.

Cara itu dilakukannya hingga pertengahan 90-an, sebelum kemudian memutuskan menetap dan memilih di Jalan Purwosari Raya, dengan pertimbangan tempat tersebut paling ramai pembelinya.

“Sebelah warung ini kan Pasar Burung, jadi ramai orang lalu lalang, jadi memilih lokasi ini,” paparnya.

Seiring waktu, warung soto tersebut terus berkembang hingga kini memiliki 5 cabang, yang tersebar di sejumlah lokasi di Semarang.

Dipaparkan, untuk menjaga cita rasa, Pak Man terjun langsung dalam meracik bumbu kuah soto hingga sate kuah. Termasuk pengawasan di setiap cabang.

Cita rasa khas membuat soto ayam Pak Man digemari. Dalam sehari, ratusan bahkan ribuan mangkok soto disajikan di seluruh cabang warung soto tersebut.

Lihat juga...