Masih Banyak Wilayah Udara Belum Terpantau Radar

Mantan Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI (Pur) Agus Supriatna, saat diskusi, Technology and Security: Whats Next?, di Jakarta, Sabtu (15/2/2020) – Foto Ant

JAKARTA – Masih banyak wilayah udara di Indonesia yang belum terpanta radar untuk mencegah pesawat asing masuk. Oleh karenanya, Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI Agus Supriatna meminta, pemerintah menambah peralatan radar.

Penambahan untuk melengkapi wilayah-wilayah yang selama ini belum terpantau radar. “Wilayah udara banyak yang belum tercover,” kata Agus, usai menjadi pembicara diskusi, Technology and Security: Whats Next?, di Jakarta, Sabtu (15/2/2020).

Menurutnya, wilayah-wilayah yang saat ini masih belum tercover pemantauan radar, harus segera dilengkapi radar, baik radar militer maupun penerbangan sipil. “Kalau semua sudah tertutupi dan terintegrasi dengan baik, tidak mungkin ada pesawat asing akan masuk. Itu harus dipenuhi,” kata mantan Kepala Staf Umum TNI AU tersebut.

Agus menyebut, kejadian pesawat asing melewati wilayah udara Indonesia, yang sempat ditemuinya ketika menjabat Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar. Saat itu dia langsung mengerahkan pesawat Sukhoi, untuk memaksa pesawat asing tersebut mendarat. Setelah diperiksa, ternyata pesawat mengangkut pasukan PBB dari Timor Leste ke Timur Tengah.

Dari pemeriksaan itu, Agus mengatakan, kru pesawat ternyata sudah mengantongi izin memasuki wilayah udara negara lain, seperti Singapura, Malaysia, hingga Thailand. Tetapi tidak mengantongi izin dari Indonesia. “Saya tanya kenapa enggak ada izin? Kata mereka sudah berapa kali lewat sini aman. Akhirnya, mereka didenda. Tetapi, dulu dendanya masih murah,” katanya.

Namun sekarang, peraturan perundang-undangan sudah menerapkan hukuman yang lebih berat dan denda yang lebih besar jika ada pesawat melanggar wilayah kedaulatan RI. Agus menyebut, Alat Utama Sistem Persenjataan (alutsista) yang dimiliki negara ini masih kurang. Hal itu mempertimbangkan luasan Indonesia yang sedemikian besar. Dan semuanya diklaim masih bisa disiasati. “Kesiapan alutsista harus ada di wilayah-wilayah kita, misalnya di Sumatera sudah ada, Kalimantan sudah ada. Harusnya, seperti di Natuna ada sistem aplus,” rincinya.

Artinya, pesawat tempur tetap siap siaga melakukan patroli di kawasan perbatasan. Tetapi ada mekanisme pergantian personel yang bertugas mengoperasikan, termasuk di Tarakan dan Papua. “Zaman dulu, waktu saya di A-4, Skyhawk itu ada di mana-mana pesawat keliling. Pergantian pilotnya saja, pesawat stand by di sana,” jelasnya. (Ant)

Lihat juga...