Masyarakat Harus Tahu Penanganan Tepat pada Luka Bakar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Luka bakar merupakan kejadian yang sering ditemui pada keseharian manusia. Tapi seringkali, masyarakat tidak melakukan penanganan secara tepat.

Manajer Pelayanan Medis RS Yarsi, dr. Afriyanti Sandhi, SPBP-RE, MARS, menyatakan pada kasus luka bakar yang berat, hanya ada dua keadaan, yaitu mati atau bertahan.

Manajer Pelayanan Medis RS Yarsi, dr. Afriyanti Sandhi, SPBP-RE, MARS, saat menjadi pembicara di RS Yarsi Jakarta, Minggu (16/2/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Mayoritas kejadian luka bakar itu terjadi di rumah. Data menunjukkan 69 persen kasus luka bakar terjadi di rumah. Biasanya berasal kompor, listrik dan tabung gas,” kata dr. Afriyanti saat menjadi pembicara di salah satu acara, Minggu (16/2/2020).

Penanganan awal pada kasus kebakaran, menurutnya, akan menjadi penentu bagaimana kondisi korban selanjutnya.

“Walaupun kasusnya banyak tapi belum banyak masyarakat yang mengetahui bagaimana penanganannya secara tepat,” ujarnya.

Bahkan, kecenderungan masyarakat untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai, lebih sering dijumpai di lapangan.

“Contohnya, kalau kena luka bakar, bisa diberikan kecap, mentega, pasta gigi atau telor. Ini sama sekali tidak benar. Malah akan berpotensi menimbulkan iritasi,” urainya.

Apalagi kalau menggunakan es batu atau alkohol, yang akan menyebabkan pembuluh darah korban menjadi rusak.

“Harusnya, saat ada kejadian luka bakar, yang harus dilakukan adalah membasahi area yang terbakar dengan air mengalir. Misalnya menggunakan air keran. Atau jika tidak ada, bisa menggunakan air dari botol. Tapi harus mengalir,” kata dr. Afriyanti.

Kalau yang terpapar masih tertutupi pakaian, artinya harus dilepaskan dahulu, baru dialirkan air ke atasnya.

“Jika area luka bakar tidak terlalu besar, prosesnya bisa dilakukan sekitar 10 menit atau lebih. Biasanya 20 menit. Tapi kalau luas atau dalam grade yang lebih tinggi, artinya membutuhkan waktu yang lebih lama,” tambahnya.

Setelah itu, luka bakar harus dibungkus atau dibalut untuk mencegah masuknya kuman.

“Kalau ada pakai perban. Kalau nggak ada, bisa mempergunakan plastic warp,” ujarnya.

Dengan melakukan penanganan tepat, kasus luka bakar berat akan mampu recovery hingga 68 persen.

“Angkanya bervariasi, tapi di Indonesia bisa mencapai 70 persen. Kalau saya pribadi, pernah menangani, hingga recovery 68 persen. Untuk luka bakar ringan, ya seperti grade 2a dan 2b, itu bisa maksimal. Walaupun terkadang ada scar,” pungkasnya.

Lihat juga...