Menombak Matahari

CERPEN RULY RIANTIARNO

SAAT penduduk Mangir heboh karena tergeletaknya mayat lelaki paruh baya di mana bekas tombakan tepat di jantung mayat itu, maka kukatakan dalam hati kalau Sutawijaya hanya melakukan kesia-siaan semata.

Melihat ciri-ciri yang ada di tubuh mayat itu sekilas seperti aku yang telah melakukan kejahatan padanya, tapi Sutawijaya belum sepenuhnya tahu bagaimana ketika aku membunuh lawan dengan tombakku.

Perlu kujelaskan kalau ada ciri-ciri yang kutinggalkan ketika aku membunuhnya. Pertama, tentu saja aku akan menombak tepat di jantung orang yang akan kubunuh, dengan begitu aku tak perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk melenyapkan nyawanya.

Ciri lain, seakan tidak ada bekas sayatan tombak. Dua ciri itu jelas ada di mayat yang baru saja ditemukan. Namun, kuyakini, tidak ada kejahatan yang benar-benar sempurna, terlebih cara-cara yang dilakukan Sutawijaya untuk menghasut penduduk di tanah Mangir ini agar membenciku.

Kuakui, sebenarnya nyaris sempurna apa yang dilakukannya, tapi aku yakin hal semacam itu tak memengaruhi keteguhan penduduk untuk memercayaiku.

Banyak hal yang tidak diketahui Sutawijaya terhadap tanah ini, tanah yang telah diwariskan moyangku. Tidak akan sejengkal pun kuberikan tanah ini pada Mataram. Sutawijaya kuanggap terlalu angkuh dan tidaklah menawarkan perdamaian.

Hal itu bisa kukatakan dengan jelas karena dia tidak mengirim sanak-saudaranya untuk pergi ke sini, namun justru mengutus Reksabaya dan tiga pengawalnya saja. Tidak ada kata yang keluar dari Tumenggung itu ketika dia kuberi buah mangir.

Aku sebenarnya menghargai dan mengambil manfaat dari kedatangan utusan Sutawijaya itu, karena dengan begitu, aku juga tahu kalau Sutawijaya sedang banyak berbantahan dengan Pajang.

Begitulah yang kudengar dari utusannya dan sebenarnya bukan menjadi masalah yang cukup berarti bagiku.

Aku sengaja memanggil tiga orang kepercayaanku dan mengumpulkan mereka di pendopo ageng. Mereka langsung menawarkan jalan keluar yang mereka rasa cukup tepat untuk mengatasi masalah ini.

Mboten usah mawon (tidak usah saja),” kataku menanggapi saran Dimas Sedayu untuk segera mengumpulkan beberapa orang dan melatih mereka selayaknya prajurit.

Aku menebak dia ingin segera membuat perhitungan dengan Sutawijaya. Kupikir, hal semacam itu terlalu gegabah jika dilakukan sekarang.

Pripun Ki Ageng menawi ngirim utusan dateng Sutawijaya? (Bagaimana jika mengirim utusan ke Sutawijaya?)” usul Ki Demang Pandak.

Dia menjelaskan kalau aku tidak mengambil tindakan cepat, Mataram bisa segera nggropyok atau menyerbu dan semua persiapan rahasia kami bisa segera diketahui Sutawijaya.

Kujawab agar Ki Demang Pandak tenang karena rahasia dan rencana itu masih bisa disimpan rapat-rapat, meski Sutawijaya mengirim banyak telik sandi  atau mata-mata mereka.

“Apa mungkin ada yang sengaja memancing di air keruh, Ki Ageng?”

“Pajang begitu maksud Ki Demang?”

Mboten (bukan) Ki Ageng.” Ki Demang Pandak lantas menjelaskan kalau janggal sampai Pajang ikut campur dengan mengirim pasukan ke tanah ini.

Kupikir itu masuk akal. Sejak moyang hingga aku sekarang yang memimpin tanah ini, Pajang sama sekali tidak mencampuri urusan yang ada di sini.

Baca Juga

Ki Demang Pandak menjelaskan kalau kecurigaannya justru pada pengkhianat yang berkeliaran di tanah Mangir.

“Tenang Ki Demang Pandak. Tidak mungkin,” potong Ki Demang Srandak lantas menjelaskan semua penyelidikannya tentang mayat itu, “Nyuwun pangapunten Ki Ageng menawi laporan kula dereng jangkep (maaf jika laporan saya belum lengkap),” tutup Ki Demang Srandak.

“Apa ini ada hubungannya seperti kematian lurah Slarong, dulu?” tanya Dimas Sedayu.

Aku bergegas menjawab semua anggapan itu. Kujelaskan pada mereka kalau ini semua jelas ulah Sutawijaya, lantas bertanya bagaimana jalan keluarnya supaya bisa menunjukkan kalau siasat yang digunakan Sutawijaya tidak ada gunanya.

Pendopo Agung mendadak senyap. Kupejamkan mata dan coba berpikir. Semilir angin dari pohon-pohon di sekitar tempat ini benar-benar menenangkan pikiranku.

Nyuwun pangapunten (maaf) Ki Ageng, bagaimana kalau menggelar pertunjukan saja?”

Usul dari Ki Demang Pandak membuat lamunanku buyar. Dia lantas menjelaskan tentang cara menggelar itu. Kupikir usulan itu bagus, meski tidak sepenuhnya aku sepakat. Aku mencoba berpikir tentang cara lain yang mungkin bisa menjadi jalan keluar.

Kuedarkan pandanganku ke sekitar. Suara burung-burung yang berkicau di atas pohon membuatku akhirnya menemukan untuk mengatasi kegelisahan ini. Akan kutunjukan pada Sutawijaya atau paling tidak telik sandi yang sengaja dia kirim ke tanah Mangir ini. Kukatakan usulanku dan tiga orang di hadapanku mengangguk sepakat.

Keesokan harinya, saat matahari belum sempurna menyinari tanah Mangir ini, aku sudah bangun. Kukatakan pada seorang abdi untuk menyiapkan kuda, lantas mengatakan rencanaku. Kuberi dia tugas tambahan untuk sesegera mungkin menyebarkan kabar ke polosok tanah ini.

Kutimbang dan kupikir masak-masak semua rencana ini dan aku yakin ini semua akan purna siang nanti.
***
RAMAI orang berkumpul di tanah luas seperti yang kukatakan pada abdiku. Aku mendekat, memberi sedikit pengantar agar mereka melihat baik-baik dengan apa yang akan kutunjukkan.

Di atas kuda cokelat ini aku perlahan mendekat pada targetku. Lima debog sudah disiapkan abdiku sebagaimana yang kuperintahkan. Kuedarkan pandangan ke sekitar, banyak yang saling menukar bisik di antara kerumunan.

Pelan aku mundur mengambil jarak juga mengambil senjataku meski ini bukan tombak yang biasa kugunakan, juga menjadi andalanku. Sengaja aku mulai mempercepat langkah kuda. Bising kerumunan samar-samar kudengar.

Slap!

Tombakan pertamaku tepat mengenai sasaran. Kucabut senjata itu. Kuulangi semuanya sampai tombak memberi bekas tancapan yang sempurna pada lima debog.

Tidak perlu kukatakan pada mata yang memandang karena aku yakin mereka akan tahu sebenarnya bagaimana caraku melempar tombak agar mengenai sasaran.

Aku paham bahwa warga di sini pasti akan melihat debog dan jika diperhatikan baik-baik tentu akan ada sedikit saja getah yang menetes pasti, dan satu hal, yang tidak ada di mayat yang kemarin membuat geger warga adalah darah.

Tak lain kulakukan semua ini agar Sutawijaya tahu dia bagai menombak matahari ketika coba menuduhku melakukan kejahatan kemarin. ***

Ruly Riantiarno, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul Terminal  (Nomina, 2019).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain, baik cetak, online, atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan tak ada kabar dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...