Musim Penghujan, Penyintas Tsunami Huntara Kunjir Rutin Bersihkan Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Penyintas tsunami di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel) rutin membersihkan lingkungan.

Astuti, salah satu warga asal Desa Kunjir menyebut, selama penghujan pembersihan rutin dilakukan mencegah penyakit demam berdarah dengue (DBD). Sebab sebagian saluran air berpotensi menggenang untuk sarang nyamuk.

Astuti, salah satu penyintas tsunami di huntara Desa Kunjir, tepatnya di belakang SMAN 1 Rajabasa, Lampung Selatan membersihkan saluran air mencegah genangan air penyebab sarang nyamuk, Rabu (26/2/2020) – Foto: Henk Widi

Lokasi huntara di belakang SMAN 1 Rajabasa menurutnya dihuni sekitar 90 kepala keluarga (KK) sejak setahun silam. Sebab usai tsunami pada 22 Desember 2018 silam warga belum mendapatkan hunian tetap (huntap).

Tinggal di huntara dengan bangunan dari atap rangka baja, papan grc menurutnya lebih nyaman saat hujan. Sebab saat kemarau suhu udara meningkat.

Selama setahun lebih menempati huntara, sejumlah selokan mulai tersumbat. Sebab material tanah, lumpur dan sampah kerap menutupi sebagian selokan.

Kesadaran warga penyintas tsunami yang tinggal di huntara membersihkan lingkungan kerap tanpa komando. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran.

“Meski tinggal di huntara namun rasa memiliki tetap ditanamkan pada semua penghuni sembari menunggu akan dibangun huntap. Sebagian warga juga sudah bekerja seperti biasa. Sebagian di kebun serta melaut,” beber Astuti saat ditemui Cendana News, Rabu (26/2/2020).

Astuti menyebut sebagian besar penghuni huntara bertahan karena tidak memiliki tempat tinggal. Meski hanya sementara Astuti dan sejumlah penyintas tsunami lain menganggap huntara sebagai kampung. Upaya menjaga kebersihan lingkungan terus dilakukan termasuk meminimalisir sampah.

Sejumlah tempat sampah disediakan untuk pembuangan sementara. Selanjutnya sampah akan dibuang pada lokasi pembuangan akhir.

Upaya menjaga kebersihan lingkungan secara komunal dilakukan juga pada fasilitas kamar mandi, toilet. Sebab fasilitas tersebut digunakan secara bersama sejak dibangun oleh Kementerian PUPR.

“Lingkungan yang bersih serta fasilitas yang terjaga menjadi tanggung jawab bersama di huntara,” beber Astuti.

Penyintas tsunami lain bernama Dewi menyebut sebanyak 40 warga tinggal di huntara dekat SMPN 1 Rajabasa. Selama penghujan ia memastikan kondisi huntara cukup nyaman dihuni.

Dewi membersihkan huntara agar tidak mendatangkan nyamuk selama musim penghujan pada rumah sementara yang ditinggalinya sejak setahun silam, Rabu (26/2/2020) – Foto: Henk Widi

Sebab lokasi yang dibangun berada pada lereng kaki Gunung Rajabasa. Kebersihan pada sejumlah saluran air menurutnya menjadi tanggung jawab semua penghuni huntara.

“Saat para suami bekerja sebagian wanita bisa melakukan pembersihan lingkungan secara gotong royong,” beber Dewi.

Meski belum ditemukan gejala penyakit DBD, penyakit lain namun ia menyebut kebersihan tetap dijaga. Upaya sosialisasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) rutin dilakukan bersama Puskesmas Rajabasa.

Penyintas tsunami yang masih memiliki lahan untuk ditanami bunga, sayuran memilih memanfaatkan lahan yang ada sebagai penghijauan dan sumber sayuran memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Lihat juga...