Olahan Kuliner Berbahan Daun Kelor Miliki Nilai Gizi Tinggi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Pemanfaatan potensi bahan pangan yang ada di sekitar lingkungan bisa menjadi alternatif sajian kuliner.

Ni Wayan Srini, salah satu anggota PKK dari kelompok kerja (Pokja) Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) menyebut, daun kelor jadi salah satu alternatif bahan pangan. Wanita asal Desa Tri Dharmayoga Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) itu mengaku daun kelor kaya manfaat.

Ni Wayan Srini, menikmati puding daun kelor hasil kreasi anggota PKK pokja UP2K, Desa Tri Dharma Yoga, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Sabtu (15/2/2020) – Foto: Henk Widi

Tanaman yang dikenal dengan merunggai dengan nama ilmiah Moringa oleifera itu kerap ditanam warga. Umumnya tanaman merupakan pagar hidup yang sengaja digunakan sebagai pembatas halaman dan kebun.

Sebagian warga di desanya kerap mengolah daun kelor sebagai sayuran. Selanjutnya anggota PKK pokja UP2K membuat kreasi sejumlah olahan daun kelor agar menjadi variasi makanan yang lezat.

Ni Wayan Srini menyebut olahan yang dibuat diantaranya puding atau agar-agar, bolu, nuget, mi, keripik, es krim jus kelor. Olahan berbahan kelor menurutnya menjadi alternatif agar tingkat konsumsi terutama bagi anak-anak lebih baik.

Sebab selama ini olahan kelor dengan hanya disayur jarang disukai anak-anak. Alternatif olahan kelor yang bergizi membuat anak-anak menyukai makanan tersebut karena tampilan lebih menarik.

“Tumbuhan yang sangat melimpah di wilayah kami ternyata bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan gizi keluarga dan jika diolah dengan kreativitas, maka bisa menjadi nilai tambah bagi keluarga,” beber Ni Wayan Srini, saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (15/2/2020).

Penggunaan daun kelor menurutnya sekaligus menjadi asupan gizi yang cukup bagi tumbuh kembang anak. Sebab daun kelor memiliki nilai gizi tinggi dengan per porsinya mengandung energi, protein, lemak, karbohidrat dan zat besi.

Zat warna hijau mengandung klorofil yang alami menurutnya menjadi sumber gizi yang baik meski dijadikan berbagai variasi olahan.

Tukar pikiran antar anggota PKK berjumlah sekitar 50 orang menurutnya menjadikan varian olahan kelor beragam. Selama ini Ni Wayan Srini menyebut dalam kehidupan sehari-hari daun kelor hanya dibuat menjadi bakwan, campuran kroket atau disayur bening.

Selanjutnya daun kelor mulai diolah menjadi puding atau agar-agar, roti, peyek, jus hingga es krim. Sejumlah olahan berbahan daun kelor bahkan masih terus dikreasikan.

“Sebagian hasil olahan berupa es krim, puding kerap dijual di sekolah dan warung banyak disukai anak-anak,” papar Ni Wayan Srini.

Solehatunah, salah satu anggota PKK lain menyebut pengolahan kelor cukup sederhana. Sebab daun kelor bisa dikombinasikan dengan bahan makanan lain. Pembuatan puding misalnya bahan baku puding berupa tepung dan agar-agar dicampur dengan perasa manis.

Daun kelor yang akan dicampurkan bisa diblender dalam kondisi segar dan dikukus hingga matang bersama adonan puding.

Setelah dingin puding bisa dicetak dengan warna asli putih dan warna hijau dari daun kelor. Pembuatan roti bolu juga dilakukan dengan mencampur bahan roti dengan daun kelor.

Semua proses pembuatan makanan dengan komposisi yang tepat membuat olahan berbahan daun kelor bisa disajikan menjadi makanan yang lezat.

“Pembuatan peyek, nuget daun kelor bisa dilakukan dengan mudah namun nilai gizi tetap bisa dipertahankan,” beber Solehatunah.

Samsiah, pembina PKK Pokja UP2K Kabupaten Lamsel menyebut, terobosan membuat olahan daun kelor patut diapresiasi.

Samsiah, pembina tim penggerak PKK Pokja UP2K, Kabupaten Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News, Sabtu (15/2/2020) – Foto: Henk Widi

Ia menyebut olahan daun kelor menjadi beragam kuliner bisa menjadi sumber gizi yang baik. Sebab bagi anak-anak olahan daun kelor bisa mencegah gangguan tumbuh kembang anak atau stunting.

Selanjutnya olahan daun kelor bisa dimanfaatkan bagi anggota PKK untuk mendapatkan penghasilan karena bisa dijual.

“Olahan yang dibuat sudah cukup bagus namun perlu teknik pengemasan yang menarik sehingga disukai konsumen,” cetus Samsiah.

Ia berharap PKK Lamsel bisa melakukan pembinaan bagi kaum wanita dalam pengolahan daun kelor. Sebab selain memiliki gizi yang tinggi olahan daun kelor akan memancing kreativitas kaum wanita.

Berbagai olahan dari daun kelor menjadi alternatif kuliner dengan variasi yang beragam agar tidak membosankan. Selain mengenyangkan olahan daun kelor dipastikan menyehatkan.

Lihat juga...