Paduan Suara TMII Bangkitkan Kecintaan Budaya Daerah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Lagu ‘Sik Sik Sibatumanikam’ menggema di ruangan Perpustakaan Taman Mini Indonesia (TMII). Harmoni suara nan merdu menggambarkan keceriaan para penyanyinya.

Mereka adalah peserta paduan suara TMII, yang sangat antusias berlatih menyanyi untuk persiapan perayaan HUT ke 45 TMII.

“Kita berlatih nyanyi untuk tampil di HUT TMII pada tanggal 20 April mendatang. Lagu-lagu daerah yang akan dinyanyikan, bernuansa Indonesia,” kata Pembina Paduan Suara TMII, Ertis Yulia Manikam kepada Cendana News, saat ditemui di sela latihan, di ruang perpustakaan TMII, Jakarta, Jumat (28/2/2020) sore.

Pembina Paduan Suara TMII, Ertis Yulia Manikam (hijab hitam) saat ditemui di sela latihan menyanyi di ruangan perpustakaan TMII, Jakarta, Jumat (28/2/2020) sore. Foto: Sri Sugiarti

Paduan Suara TMII ini telah berdiri sejak tiga tahun lalu. Adapun tujuan dibentuknya, adalah kata Ertis, bisa menjadi wadah silaturahmi antar manajemen TMII dengan berbagai unit yang ada di TMII.

“Siapa pun keluarga besar TMII, yang memiliki hobi nyanyi diwadahi di sini. Menjalin silaturahmi sambil mengembangkan hobi berkesenian,” ujarnya.

Ertis berharap ke depan paduan suara ini juga akan bermanfaat bagi TMII.” Siapa tahu kita bisa mengharumkan TMII di kompetisi nasional maupun internasional,” tukasnya.

Paduan suara ini menjadi bagian untuk mendukung berbagai acara yang digelar TMII. Seperti acara tingkat nasional yaitu Parade Busana Daerah, Parade Tari Daerah dan lainnya.

“Apresiasi lagu yang dibawakan lagu daerah dan lagu cinta tanah air atau perjuangan yang membangkitkan semangat nasional,” ucapnya.

Lagu-lagu daerah yang telah dipelajari, dan disajikan dengan harmoni suara berpadu alunan musik. Diantaranya, lagu khas Aceh, Sumatera Barat, Jawa, Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan lainnya.

Paduan Suara TMII jelas dia, bertujuan untuk menanamkan rasa bangga dan cinta pada budaya daerah.

“Kita kan tidak bicara satu daerah kalau di TMII, tapi harus mewakili semua unsur budaya Indonesia. Jadi harus memiliki rasa cinta budaya bangsa,” tegas Ertis Yulia Manikam yang juga menjabat sebagai Manajer Program Budaya TMII.

Sehingga kata dia, tampil dalam sebuah acara itu bukan hanya sekedar kepentingan bagi peserta paduan suara TMII. Tetapi terpenting untuk menjalin silaturahmi antara keluarga besar TMII.

Karena menurutnya, latihan paduan suara ini juga bagian dari refreshing setelah kesibukan bekerja kita bisa melepas penat. Dengan mencoba berlatih dan belajar nada vokal.

Harmoni suara itu terus dijalin, dengan jiwa toleransi dan kebersamaan memiliki rasa tanggungjawab serta dedikasi. Karena sesama peserta harus saling menghargai untuk membuat satu harmoni.

Selain itu juga jelas dia, kepentingan teknik menyanyi itu kita harus mengolah rasa. Bukan semata mau menang sendiri, tapi ada rasa toleransi, belajar konsentrasi dengan membaca partitur nada.

“Belajar dari partitur itu kan mengasah kecerdasan kita, selain logika kita dan konsentrasi. Ini juga menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.

Peserta Paduan Suara TMII, berlatih seminggu sekali tepatnya setiap hari Jumat pukul 16.00-19.00 WIB. Sebelum bergabung mereka terlebih dulu akan dites vokal. Ini bertujuan untuk membangun harmoni suara dengan peserta lainnya.

Pemberlakuan tes ini, menurut Ertis, karena paduan suara itu ibarat kereta kuda, kalau kita memiliki target.

“Kereta itu kecepatan kan akan mengikut kuda yang paling lemah. Jadi kecepatan itu. Kalau kita ngejar target untuk sebuah pertunjukan pasti membutuhkan tim paling tidak memiliki kuantitas dan kualitas yang seperti diharapkan,” ungkapnya

Apalagi paduan suara ini sudah berjalan, minimal untuk membuat satu paduan atau harmoni, bukan suara seperti Solo yang bagus dengan karakternya sendiri.

“Justru tidak boleh menonjolkan karakter masing-masing. Kita membuat satu harmoni. Jadi bukan suara bagus, tapi dia mampu membuat satu harmoni dengan lainnya,” ujarnya.

Suasana saat Paduan Suara TMII berlatih intensif di ruangan perpustakaan TMII, Jakarta, Jumat (28/2/2020) sore. Foto: Sri Sugiarti

Yakni setiap peserta itu harus bisa menyesuaikan, tidak menonjolkan egonya. “Inilah yang dibilang toleransi. Dan kita harus berlatih teknik vokal menjadi suara, yang dikeluarkan harus selaras,” imbuhnya.

Ada empat jenis suara, yakni tenor, bas alto dan sopran. Keempat jenis suara ini mengalun merdu saat mereka berlatih menyanyi di Paduan Suara TMII.

Yang utama bisa menyanyi adalah bagaimana kita bisa memproduksi suara sebaik-baiknya.

“Peka terhadap nada atau paham dana. Teknik pernapasan, kontrol picht, buat dinamika dalam penyajian,” ujarnya.

Ertis berharap paduan suara ini menjadi wadah silaturahmi keluarga besar TMII, yang terbalut dalam harmoni suara kecintaan kepada budaya daerah.

“Kita ajang silaturahmi untuk membangun rasa saling menghargai. Kita juga berusaha bidik anak muda bagaimana hobi seni jadi manfaat dalam upaya pelestarian budaya bangsa,” pungkasnya.

Lihat juga...