Pelaku Usaha Lobster di Padang Terdampak Wabah Corona

Editor: Koko Triarko

PADANG – Pelaku usaha ekspor lobster di Kota Padang, Sumatra Barat, turut merasakan dampak penutupan seluruh kran ekspor impor, akibat wabah virus Corona yang melanda di negara Cina, yang merupakan negara tujuan terbesar ekspor hasil perikanan Kota Padang.

Kondisi tersebut juga menyebabkan harga lobster di Kota Padang anjlok hingga lebih 50 persen lebih. Biasanya, harga lobster mulai dari Rp250 ribu per kilogram hingga Rp500 ribu per kilogram, tergantung ukuran, kini turun menjadi Rp100 ribu per kilogram hingga Rp350 ribu per kilogram. Kondisi demikian terjadi sejak terjadinya wabah virus Corona di Cina akhir Januari lalu.

Pengusaha lobster di Padang, Ho Kwing Hwang, mengatakan, usahanya sempat mengalami tutup buku selama setengah bulan ini, akibat anjloknya harga lobster. Meski lobster yang dijualnya via Jakarta dan terbang ke Cina dan Hongkong, lobster asal Padang juga turut mengisi kebutuhan lobster domestik.

“Hanya saja kebutuhan lobster secara domestik tidak terlalu besar, sehingga membuat produksi perikanan yang melimpah ini, berdampak kepada kondisi harga yang jauh dari untung,” katanya, Kamis (20/2/2020).

Saat ini, Ho Kwing Hwang kembali memberanikan diri membuka usahanya melalui UD Karya Bahari di Batang Arau Muaro Padang, dengan tujuan pengiriman domestik.

“Saya rasa tidak mampu lagi jalani usaha ini, bagaimana mau ambil untung, harga lobsternya murah. Saya punya empat pekerja, dan ada puluhan nelayan yang tampung hasil tangkapan lobsternya. Tidak tega saya kasih harga murah, karena biaya melaut itu mahal, risikonya tinggi,” ujarnya.

Kondisi demikian membuat perempuan yang akrab di sapa Missho, ini memilih untuk menutup usahanya sementara waktu, menunggu situasi pulih. Selain Cina, bisa dikatakan tidak ada negara lainnya yang memiliki minat untuk membeli lobster dari laut Sumatra Barat ini.

Ia mengaku jika kondisi Cina masih belum pulih dalam jangka yang panjang, maka kondisi usaha lobster mengalami situasi yang berada di ambang kebangkrutan. Jika pun ada mengekspor ke negara seperti Malaysia dan Hongkong, nkebutuhannya hanya kecil.

“Saya melakukan pengiriman lobster ini per hari, jumlahnya pasokan yang masuk. Jadi kita pasarkan mulai 20 kilogram hingga dari 200 kilogram, tergantung dari lobster yang dibeli dari nelayan. Semua lobster yang dijual adalah lobster hidup dan sehat, serta tidak mengirim lobster yang tengah bertelur,” ungkapnya

Menurutnya, pengiriman dilakukan per hari, karena lobster butuh makan seperti karang. Sementara di tempat karantina lobster tidak memiliki makanan karang, sehingga daripada lobster mati, berapa pun jumlah yang ada, langsung di kirim per hari untuk tujuan domestik.

Situasi seperti ini pun diakui oleh Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu (BKIPM) Padang, di mana terjadi penurunan pengiriman lobster dari Sumatra Barat dengan tujuan ekspor. Sementara untuk tujuan domestik, BKIPM memantau terbilang masih normal hingga Februari ini.

Kasubsi Tata Pelayanan BKIPM Padang, Rini Sardi, mengatakan, berdasarkan data pengiriman lobster hidup dengan tujuan domestik via Batam, Jakarta dan Surabaya, pada Januari 2020 mencapai 34.323 ekor. Sedangkan selama Februari hingga hari ini, jumlah pengiriman lobster hidup tujuan domestik via Batam dan Jakarta, baru mencapai 17.786 ekor.

“Dengan adanya dampak virus Corona, pengiriman lobster ke Cina mengalami penurunan, tapi tidak terlalu signifikan. Di Padang ini ekspor lobster via Jakarta, dan untuk pengiriman lobster secara domestik ini pun bisa dikatakan masih stabil,” jelasnya.

Lihat juga...