Penerbit Indie, Dewa Penolong Penulis Muda

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Dunia penerbitan indie tengah bergeliat sepuluh tahun belakangan. Kehadiran mereka telah menjadi alternatif bagi penyedia buku bacaan, selain penerbit mayor.

Sifatnya yang lebih idealis dalam memilih naskah dan oplah cetak yang relatif sedikit, membuat mereka punya kesempatan menerbitkan naskah-naskah tak populer hingga karya dari penulis daerah.

Di kota-kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta, penerbitan indie sudah marak hingga memunculkan festival hingga perhimpunan yang cukup solid.

Ini berbeda dengan Semarang, yang relatif masih sedikit memunculkan penerbit indie. Padahal di Semarang, ada banyak penulis yang potensial. Akhirnya, mereka yang ingin menerbitkan karya, memilih menerbitkan ke penerbit indie di luar Semarang.

Hal itu lalu membuat pasangan suami istri, Widyanuari Eko Putra dan Santi Al Mufaroh tergerak mendirikan Penerbit Beruang.

“Kami merasa ekosistem perbukuan di Semarang sangat minim. Ketinggalan jauh dari kota lain. Atas dasar itulah kami pun berinisiatif mendirikan penerbit,” ungkap Widyanuari Eko Putra, saat ditemui di kantor penerbit tersebut, jalan Peterongan Timur No 335, Semarang, Jumat (28/2/2020).

Sejak Januari 2019, Penerbit Beruang mulai beroperasi dengan menerbitkan buku-buku dari penulis muda Semarang. Menurutnya, keberadaan penerbit indie sangat menyokong ekosistem perbukuan.

“Saya juga penulis, dan saya sadar Semarang masih sangat lemah untuk urusan perbukuan indie. Dari situlah saya merasa perlu ada gerakan penerbitan indie agar lebih menyokong keberadaan para penulis muda,” tegas penulis buku ‘Perihal Nama’ ini.

Dalam setahun ini, Penerbit Beruang telah menerbitkan sembilan judul, diantaranya kumpulan cerpen ‘Talnovo’ karya Santi Al Mufaroh, buku esai ‘Menggelar Tikar’ karya Muhajir Arrosyid, buku puisi ‘Sajak dan Perih Satu Fragmen’ karya Malikul Alam, buku puisi ‘Waktu Indonesia Bagian Bercerita’ karya Setia Naka Andrian, dan lainnya.

“Sejauh ini memang kami mengutamakan penulis muda Semarang atau naskah lama, yang punya relasi kuat dengan kota Semarang,” tandas Wiwid, panggilan akrabnya.

Selain mengupayakan penerbitan indie secara profesional, pihaknya juga menyebut penerbitnya tak ingin melepas begitu saja buku yang diterbitkan.

“Saya selalu mengusahakan agar buku dari penulis Beruang diacarakan dalam forum bedah buku,” terangnya.

Bagi Wiwid, untuk membangun ekosistem perbukuan yang kuat harus dibenahi dari hulu ke hilir. “Setelah diterbitkan, buku harus dipertemukan dengan publik. Dengan begitu bisa merangsang anak muda untuk menulis,” lanjutnya.

Sementara, Santi Almufaroh menyampaikan bahwa, penerbitannya itu punya target setahun minimal enam naskah untuk diterbitkan.

“Sejak memulai beroperasi, penerbit kami alhamdulilah mendapat respons baik dari publik ya, jadi meski oplah tidak besar tapi stabil,“ ungkap editor Penerbit Beruang ini.

Diakuinya, target sebanyak enam naskah atau buku tersebut relatif sedikit, namun itu semata-mata untuk memastikan agar buku terbitan mereka bisa tergarap dan terpasarkan dengan baik.

Santi juga menambahkan bahwa penerbitannya dijalankan oleh dia sendiri beserta suami. “Kami bagi tugas secara ketat. Saya misalnya ngurus editing dan penjualan, sedangkan Mas Wiwid fokus ke pracetak dan mencari naskah,” lanjutnya.

Perempuan kelahiran Jepara ini mengaku selalu melibatkan pegiat desain kreatif, untuk menggarap buku-bukunya, terutama untuk menguratori ilustrasi dan sampul buku.

“Ada dari Jakarta, Yogyakarta, Semarang, hingga Solo. Kami ajak mereka bekerja sama menggarap estetika buku terbitan kami. Sekalian itu untuk menjalin relasi juga,” pungkasnya.

Lihat juga...