Pertanian Hidroponik, Solusi Tepat bagi Masyarakat Perkotaan

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Pertanian dengan sistem hidroponik, menjadi solusi bagai masyararakat perkotaan yang ingin bercocok tanam namun memiliki keterbatasan lahan. Sistem ini memungkinkan masyarakat, menanam sayur mayur dimana saja, termasuk di atas gedung, teras rumah atau pun sudut rumah lainnya.

“Kebutuhan konsumsi sayuran masyarakat semakin meningkat, seiring dengan peningkatan kesadaran kesehatan dan nutrisi. Tidak hanya itu, masyarakat kini juga sudah banyak beralih mengonsumsi makanan yang dihasilkan oleh pertanian organik. Hal tersebut dikarenakan banyak jenis penyakit yang disebabkan oleh makanan, yang dalam proses produksinya menggunakan bahan kimia,” papar Kepala Lab Biologi UPGRIS, dr Muhammad Saipul Hayat di Greenhouse Biologi kampus I UPGRIS Semarang, Senin (24/2/2020) petang.

Kepala Lab Biologi UPGRIS, dr Muhammad Saipul Hayat di Greenhouse Biologi kampus I UPGRIS Semarang, Senin (24/2/2020) petang. -Foto: Arixc Ardana

Disatu sisi, agar kebutuhan akan sayuran terpenuhi diharapkan setiap masyarakat mampu memproduksi sendiri. Sementara itu, persoalan lahan menjadi kendala bagi masyarakat perkotaan untuk bercocok tanam.

“Sistem hidroponik menjadi solusinya. Ada beragan teknik hidroponik, salah satunya hidroponik sistem sumbu, dengan menggunakan sumbu kain flanel yang ditempelkan pada pot hidoroponik atau netpot. Nantinya air akan terserap oleh akar tanaman, medianya tanamnya pun bisa menggunakan baskom, paralon, atau bambu,” lanjutnya.

Beragam tanaman hortikultura seperti salanova lattuce atau selada air, pakchoy, kangkung, bayam merah hingga tomat, pun bisa ditanam dengan sistem ini.

“Kita tidak menggunakan teknik hidroponik yang airnya mengalir atau aquaponik, sebab memerlukan tandon air, hingga aquator untuk mengalirkan air. Namun cukup menggunakan teknik sumbu, sehingga air bisa terserap pada tanaman. Peralatan yang digunakan pun sederhana dan bisa dibuat dengan mudah,” tambahnya.

Pihaknya pun memberikan pelatihan kepada masyarakat, di setiap kesempatan atau mereka yang datang ke green house tersebut untuk belajar.

“Kuncinya dalam pertanian hidroponik, harus cukup asupan mineralnya, bisa kita tambahkan ke dalam air. Lalu intensistas pencahayaan matahari, tidak bisa terkena langsung, sehingga kelembaban juga terjaga,” tambah MS Hayat.

Sementara, dosen Biologi sekaligus pelatih hidroponik, Rivanna Citraning Rachmawati MPd, menjelaskan sejauh ini respon masyarakat, khususnya para konsumen akan produk hortikultura organik, yang dikembangkan melalui sistem urban farming tersebut sangat tinggi.

“Tanaman ini rata-rata bisa dipanen dalam kurun waktu tiga bulan sekali, hasilnya sudah kita distribusikan ke sejumlah pedagang di Semarang, Demak dan sekitarnya. Harapan kedepan, teknik urban farming ini semakin dikenal masyarkat dan UPGRIS siap melakukan pendampingan,” tandasnya.

Lihat juga...