Pestisida Nabati, Jadi Alternatif Petani di Lamsel Atasi Hama

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Memasuki tanaman padi berbulir, petani di Lampung Selatan (Lamsel) mengeluhkan hama tikus. Mengantisipasi kerusakan tanaman padi akibat hama tikus saat masa tanam pertama (MT1) petani memilih menggunakan pestisida nabati.

Stevanus Sukoco, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan memilih memanfaatkan daun sirsak, buah mengkudu dan sereh. Pembuatan pestisida nabati menurut Sukoco, sapaan akrabnya dikarenakan pestisida kimia dibeli dengan harga mahal.

Satu botol ukuran 150 mililiter menurutnya dibeli dengan harga sekitar Rp100ribu. Pestisida kimia tersebut kerap diaplikasikan dengan beras atau gabah agar dimangsa tikus. Namun penggunaan pestisida kimia kurang efektif menghalau dan memusnahkan hama tikus.

Harga pestisida kimia yang mahal menurutnya mengakibatkan biaya operasional meningkat. Kenaikan harga pestisida kimia menurutnya diakibatkan hama tikus yang merusak tanaman padi. Sejumlah bahan alami untuk pembuatan pestisida menurut Sukoco bisa diperoleh dari kebun. Pilihan daun sirsak, buah mengkudu, sereh dipilih karena memiliki aroma menyengat yang tidak disukai hama.

“Semua bahan pembuatan pestisida nabati bisa diperoleh dari kebun karena setiap warga selalu menanam bahan bahan alami tersebut untuk tanaman obat keluarga,” terang Stevanus Sukoco saat ditemui Cendana News, Selasa (25/2/2020).

Daun sirsak sebagai alternatif pestisida organik yang digunakan untuk mengusir hama tikus dimanfaatkan oleh Stevanus Sukoco warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan, Lamsel, Selasa (25/2/2020). -Foto: Henk Widi

Pembuatan pestisida nabati atau organik menurut Stevanus Sukoco sangat sederhana. Setelah daun sirsak atau anonna moricata diperoleh proses penghalusan dilakukan dengan pemotongan memakai pisau. Pemotongan memakai pisau dilakukan untuk menghaluskan, proses alternatif dilakukan dengan menumbuk daun sirsak. Setelah ditumbuk air perasan bisa ditampung dalam ember atau wadah khusus.

Sukoco memilih menggunakan cara mencacah daun sirsak memakai pisau. Setelah daun sirsak dengan takaran sekitar sepuluh kilogram diperoleh bahan lain dari daun dan buah mengkudu atau morinda citrifolia juga digunakan. Buah dan daun yang dikenal sebagai pace tersebut dihaluskan memakai blender. Memiliki aroma yang menyengat proses penghalusan buah mengkudu dilakukan dengan menggunakan masker.

“Aromanya cukup menyengat bahkan mengakibatkan mual,pusing jadi harus hati hati dan memakai masker,” beber Sukoco.

Selain buah, daun mengkudu batang dan sereh juga digunakan untuk aplikasi pestisida nabati. Batang sereh yang memiliki aroma menyengat dihaluskan dengan cara ditumbuk. Setelah ketiga jenis bahan tersebut diperoleh proses pencampuran dilakukan pada ember kedap udara. Hasil fermentasi selama satu hari membuat campuran pestisida nabati tersebut bisa digunakan.

Penggunaan pestisida nabati menurutnya bisa dilakukan dengan proses penyemprotan cairan. Selain itu ia menggunakan pestisida nabati dengan cara menebarkan endapan pestisida tersebut pada petak sawah. Penebaran pestisida nabati pada petak sawah menurutnya akan menghalau hama tikus. Pestisida nabati menurutnya efektif digunakan menghemat pembelian pestisida kimia.

“Penggunaan bahan nabati untuk pestisida mudah diperoleh sehingga tidak mengeluarkan biaya operasional yang besar,” tutur Stevanus Sukoco.

Pembuatan pestisida nabati menurutnya sudah digunakan selama dua kali masa tanam. Penggunaan pestida alami menurutnya diaplikasikan pada serangan hama tikus,walang sangit. Sejumlah bahan alami yang diperoleh dari alam membuat hasil padi yang dihasilkan aman dikonsumsi.  Keterampilan menciptakan pestisida nabati menurutnya juga mulai ditularkan ke petani lain.

Jumono, petani lain di Desa Pasuruan menyebut hama tikus muncul saat penghujan. Saat memasuki masa padi berbulir ia menyebut tikus memakan batang,daun muda. Hama tikus masih akan terus menyerang hingga padi menguning sehingga pestisida nabati perlu digunakan. Bahan baku daun sirsak, mengkudu dan sereh yang mudah diperoleh.

“Sekarang harga pestisida kimia meningkat karena tanaman jagung terkena hama,” beber Jumono.

Penggunaan pestisida nabati menurutnya masih jarang digunakan petani. Namun dengan harga pestisida kimia yang semakin mahal ia memilih menggunakan bahan alami yang ada. Penggunaan bahan alami yang mudah didapat menurutnya sekaligus mendorong warga menanam sejumlah tanaman. Sejumlah tanaman yang bisa digunakan sebagai pestisida alami mengurangi kerusakan pada tanaman padi.

Lihat juga...