Peternak Unggas di Lamsel Kesulitan Cari ‘Dedak’

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah peternak unggas di Ketapang, Lampung Selatan, mulai kesulitan mencari pakan seiring musim penghujan yang makin tinggi.

Kaswari, peternak unggas di Desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang, mengaku memanfaatkan dedak ( bekatul) sebagai pakan. Namun berkurangnya dedak penggilingan padi berimbas ia kekurangan pakan untuk ternak bebek, angsa, ayam dan entok.

Pasokan dedak penggilingan padi dominan berasal dari stok pabrik saat masa panen. Dedak atau bekatul yang kerap dijual dengan harga Rp40.000 per karung seberat 50 kilogram, kini naik menjadi Rp60.000. Sejumlah pemilik pabrik penggilingan padi bahkan memilih menggiling sekam untuk campuran dedak.

Pemanfaatan sekam yang dibuat menjadi dedak, menurutnya dilakukan akibat berkurangnya padi yang akan digiling.

Kaswari, warga Desa Sri Pendowo, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, peternak unggas jenis ayam,angsa putih, bebek dan entok memanfaatkan dedak sebagai pakan dicampur dengan pecahan keong mas, Senin (17/2/2020). -Foto: Henk Widi

Penggunaan dedak yang diberi campuran sekam, menurut Kaswari harus tetap diberi tambahan nutrisi. Alternatif yang digunakan memakai bubuk kerang, daging keong mas, ikan asin sampah. Bubuk kerang, ikan asin sampah diperoleh dari tempat pendaratan ikan Ketapang.

“Kulit kerang saya peroleh dari usaha pengupasan kerang, setelah itu direbus hingga matang bersama ikan asin dan dihaluskan dalam lumpang batu bersama keong mas, lalu dicampur dedak,” terang Kaswari, saat ditemui Cendana News, Senin (17/2/2020).

Kaswari menyebut, usaha ternak tradisional menghasilkan telur yang menjanjikan. Puluhan bebek bisa menghasilkan telur, termasuk entok dan angsa. Telur yang dihasilkan selain bisa dikonsumsi untuk keluarga bisa dijual ke sejumlah warung. Telur bebek dipesan oleh pembuat telur asin di wilayah tersebut, dan telur angsa dijual kepada pemesan.

Harga telur bebek Rp3.000 per butir menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Sementara jenis telur angsa yang memiliki ukuran lebih besar dijual Rp100.000 per butir.

Dalam kondisi telur angsa tidak ditetaskan dan menjadi busuk, harga bisa menjadi Rp75.000 per butir. Harga telur angsa yang tinggi, menurutnya diakibatkan tidak banyak warga yang memelihara unggas tersebut.

“Kebutuhan pakan memanfaatkan alternatif keong mas, kerang dan ikan asin bisa merangsang unggas cepat bertelur,” tuturnya.

Telur ayam, bebek, entok dan angsa sebagian ditetaskan untuk mendapat bibit. Sebagian ayam kampung yang ditetaskan akan dijual ke pasar untuk sejumlah usaha kuliner. Jenis ayam kampung siap potong bisa dijual mulai Rp75.000 hingga Rp100.000 per ekor. Hasil penjualan akan dipergunakan untuk membeli tambahan pakan dedak dan ikan asin.

Mei Dwiono, peternak bebek di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, mengaku juga memanfaatkan pakan alternatif keong mas. Memelihara ratusan ekor bebek pedaging, ia menggunakan pakan pelet pabrikan, dedak yang dibeli. Sebagai cara efesiensi pakan, keong mas yang kerap menjadi hama di sawah digunakan sebagai sumber pakan bebek. Petani yang memiliki sawah kerap menjual keong mas dengan harga Rp3.000 per kilogram.

“Selain mencari di sawah, saya mendapat pasokan pakan keong mas yang dijual oleh petani,” beber Mei Dwiono.

Bebek pedaging, menurutnya bisa dijual saat usia tiga bulan seharga Rp35.000 per ekor. Bebek tersebut memiliki berat hampir satu kilogram. Pemberian pakan alternatif memakai keong mas, dedak selain pelet pabrikan akan menambah bobot daging bebek.

Permintaan bebek pedaging rutin diminta oleh pemilik usaha kuliner pecel lele yang menyiapkan menu bebek goreng.

Sementara itu petani di desa Pasuruan, Mujono, menyebut pemanfaatan keong mas untuk pakan membantu pengurangan hama. Keong mas yang berkembang dengan cepat bisa diminimalisir melalui pemungutan rutin. Penggunaan keong sebagai pakan bebek dan entok sekaligus mengurangi biaya pembelian pakan. Unggas yang diberi pakan keong mas, lebih mudah bertelur karena keong mas mengandung banyak protein.

Lihat juga...