Ratusan Hektare Lahan Jagung di Kangae Layu dan Tumbang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Ratusan hektare lahan jagung di kecamatan Kangae, kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terserang hama ulat Grayak kini kondisinya semakin parah. Karena tidak ada hujan sehingga tanaman jagung banyak yang mulai layu dan tumbang ke tanah dan diperkirakan mengalami gagal panen.

Selain itu, tanaman jagung tersebut meskipun sudah berbunga namun tidak ada tongkol jagungnya sama sekali karena terkena panas dan layu. Selain itu pula pangkal buahnya habis dimakan ulat Grayak yang masif menyerang ladang jagung sejak bulan Januari 2020.

“Dua lahan jagung saya di depan rumah dan di samping rumah semuanya pasti mengalami gagal panen. Jagungnya sudah layu dan meskipun berbunga namun tidak berbulir,” kata Florida Nona, petani jagung di desa Habi, kecamatan Kangae, kabupaten Sikka, provinsi NTT, Jumat (21/2/2020).

Florida Nona, warga petani jagung di desa Habi, kecamatan Kangae, kabupaten Sikka, provinsi NTT saat ditemui di ladang jagungnya yang mengalami gagal panen, Jumat (21/2/2020). Foto: Ebed de Rosary

Florida menyebutkan, jagung Hibrida di lahan sekitar seperempat hektar di depan rumahnya yang ditanami jagung Hibrida sejak tanggal 11 Januari sebagian besar tidak bertumbuh serta ada yang layu dan mulai mati.

Sementara jagung yang ditanam di lahan di samping rumahnya dengan jagung jenis Pulut yang dibeli dari pasar serta jagung Hibrida juga nasibnya sama karena berbunga sebelum waktunya akibat tidak ada hujan.

“Banyak jagung juga yang sudah mulai layu dan tumbang karena batangnya sudah tidak kuat terkena panas. Apalagi kalau ada angin kencang maka pasti banyak yang tumbang,” sebutnya.

Yanto petani lainnya, menambahkan, hampir semua lahan jagung di kecamatan Kangae yang berada di dataran rendah sudah bisa dipastikan mengalami gagal panen karena sudah mulai layu dan berbunga sebelum waktunya.

Di desa Habi, Langir dan Watuliwung kata dia, hampir semuanya sudah mulai tumbang sehingga petani sudah tidak ada lagi yang ke kebun untuk mengecek kondisi jagungnya.

“Hampir tidak ada lagi petani yang mengecek kebun jagungnya karena semuanya sudah pasrah karena pasti mengalami gagal panen. Tahun lalu saja di lahan seperempat hektare panen melimpah,” tuturnya.

Martinus Ben, kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kecamatan Kangae, menyebutkan, dari total 1.900 hektare lahan jagung di 9 desa di wilayah kecamatan ini, hanya desa Mekendetung saja yang lahan jagungnya belum terserang hama ulat Grayak.

Martinus membenarkan sudah bisa dipastikan tanaman jagung mengalami gagal panen padahal lahan jagung kecamatan Kangae produksi jagungnya bisa mencapai 4 ribu ton jagung.

“Yang paling parah desa Tanah Duen, Watumilok, Habi, Langir dan Watuliwung. Tanaman jagungnya berumur antara dua minggu hingga lima minggu,” terangnya.

Lihat juga...