Reuni di Makam Kahlil Gibran

CERPEN SUNARYO BROTO

TENGAH malam cuaca Yogya dingin. Sudah lama tak hujan. Kalau siang panas hingga debu-debu jalanan beterbangan menimpa kamar-kamar kos di pinggir jalan ini.

Di sebuah kos-kosan sederhana, hanya beberapa meter dari Selokan Mataram di pinggiran kampus ternama, seorang anak muda lulusan SMA dari daerah masih terjaga. Dia sedang belajar mempersiapkan ujian masuk PTN untuk menatap masa depannya.

Dia menumpang kamar kakaknya. Dari sebelah kamarnya dia mendengar suara mesik ketik teratur. Ada lobang lampu di tembok bagian atas pada dinding tembok pemisah kamar sehingga waktu malam suara itu terdengar jelas.

“Tak…tik…tak…tik…tak….tik,” begitu terus sampai larut malam. Entah sampai jam berapa karena anak muda itu tertidur juga. Bukan hanya malam itu. Malam berikutnya, suara mesin ketik itu juga menghiasi menjelang lorong mimpi.

Kadang terselip suara lagu Ebiet G Ade, Cita-cita Kecil si Anak Desa atau Lagu untuk Sebuah Nama dari kamar lain. Atau lagunya Chrisye, Malam Pertama. Kadang juga Esok Masih Ada dari Utha Likumahuwa.

Beberapa hari kemudian terdengar suara beberapa rekan berkomentar kalau ada artikel penghuni kos itu dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat.

“Ayo…ayo makan-makan, syukuran. Honor menulis he..he..” komentar beberapa rekannya. Penulisnya, hanya tertawa riang. Aku hanya terpana dan membatin, “Wow, malam-malam suara mesin ketik itu pertanda menulis artikel ya…. Boleh juga ini…”

Selang beberapa bulan kemudian, si anak lulusan SMA itu sudah menjadi mahasiswa baru dan tinggal di kos itu bersama kakaknya yang juga kuliah di universitas sama. Mahasiswa baru itu saya, lalu kenal dengan penulis artikel itu yang kuliah di Sastra.

Mas Yasin, penulis artikel itu mahasiswa yang aktif. Kuliah di dua universitas. Dan dia satu kampung dengan saya. Di sela waktu kuliah dia masih sempat menulis artikel dan dimuat di koran.

Aku sering mengobrol dengannya. Bertanya satu dua isu dunia mahasiswa. Mas Yasin yang ramah dengan senang hati menjelaskannya. Kalau menjelaskan wajahnya antusias. Meski kadang suka bercanda pemikirannya tak bisa dipandang sebelah mata.

Kalau malam-malam terdengar ada suara mesin ketik sampai larut malam berarti beberapa hari akan keluar artikelnya di koran. Lalu ritual teriakan “makan-makan” dari teman-temannya pun mengiringinya.

Aku dan juga teman lainnya akan merubung sebuah artikel di koran dan membacanya bergantian. Semua mengacungi jempol.

Lalu berita itu terdengar lagi. Mas Yasin memenangi salah satu lomba menulis artikel dari Departemen Agama dan mendapat hadiah jutaan plus umrah. Lalu ritual teriakan “makan-makan” dari teman-temannya pun mengiringinya.

Wah hebat betul. Masih mahasiswa sudah bisa ke luar negeri dan umrah. Tak ada yang berani, mahasiswa penghuni kos itu bermimpi pergi ke luar negeri. Tapi Mas Yasin tak perlu mimpi, dia sudah pergi ke luar negeri rupanya, hmmm.

Pernah suatu saat, aku diajak mengambil sebuah ketikan dengan berboncengan motor. Di jalan dekat kampus universitas negeri agama itu banyak jasa pengetikan skripsi. Mas Yasin menghampiri salah satu kios.

Lalu mengambil hasil ketikan. Katanya skripsi. Lalu aku ikut melihat halaman dalam dan kaget karena semua ketikan berhuruf Arab.

“Lho ketikan berhuruf Arab, ada ya?” tanyaku.

“Ya ada. Nyatanya itu sudah jadi skripsinya he..he…” jawab Mas Yasin.

“Gimana membacanya ini. Arab gundul he..he…” Aku baru tahu ada jasa pengetikan skripsi bahasa Arab.

“Wah hebat. Sudah lulus ya, mas? Selamat mas…”

Beberapa bulan kemudian Mas Yasin wisuda dan bekerja sebagai dosen di Semarang. Kadang sekali waktu Mas Yasin masih mengunjungi teman-temannya di kos. Bercanda dan bernostalgia.
***
ITU kenangan mahasiswa yang menari-nari di pelupuk mataku. Waktu berlalu tak bersisa. Aku sudah pensiun dari kerja selama hampir 30 tahun di sebuah perusahaan kimia di belantara Kalimantan dan sekarang tinggal di kota kecil kampung halaman, lereng Gunung Lawu.

Menunggu vila dan berkebun. Merawat sehat dan kesenangan. Sekali-kali menulis di blog atau koran dan melukis yang aku bisa.

Semenjak lulus dan berpisah tempat, kami tak berhubungan lagi. Tapi belakangan terdengar kabar sejak era reformasi, Mas Yasin menjadi anggota dewan di pusat. Dan belakangan menjadi Petinggi Dewan. Kami bisa berkomunikasi lagi sejak ada teknologi terkini WA (WhatsApp).

Aku masih berpikir pada tawaran teman senior di kos dulu, Mas Yasin. Siapa sangka Mas Yasin sekarang menjadi petinggi kedutaan di Lebanon, tempat kelahiran pujangga besar Kahlil Gibran. Memang pantas dia meraih itu semua.

Waktu mahasiswa sudah kelihatan talentanya. Bisa menulis di koran dan bisa ceramah di publik. Dan dia menawari saya dan teman-teman lain penghuni kos berkunjung ke sana. Dia ingin diskusi buku serial knowledge manajemen dengan saya.

Memang sesekali saya menulis buku knowledge manajemen seorang tokoh dengan menjadi semacam ghost writer. Tidak menyangka ketrampilan menulis buku ini bisa menjadi kegiatan positif setelah pensiun. Sudah ada lebih dari 5 buku serial knowledge manajemen diterbitkan waktu saya kerja.

“Mulai November sudah bisa melihat salju di Lebanon. Kapan lagi he..he…” kata Mas Yasin, via WA.

“Kenapa diskusi dengan saya tentang tulisan berbau knowledge manajemen? Apa ini tidak berlebihan? Kan saya hanya penulis nanggung? Tidak terkenal, tidak profesional dan tidak produktif.”

“Saya sudah baca profilmu dari Google. Sudah banyak menulis buku. Dari esai, traveling, puisi, cerpen sampai novel. Terutama serial buku knowledge manajemen. Dapat award nominasi pegiat literasi itu sudah mumpuni untuk urusan literasi he..he… Saya tertarik pada buku knowledge manajemen yang kamu buat. Sepertinya menarik…”

“Mas kan penulis lebih terkenal dari saya. Ulasannya dalam dan pengalamannya hebat. Kenapa tertarik tulisan serial knowledge manajemen?” tanyaku sambil mengukur diri.

“Saya penasaran dengan tulisan serial knowledge manajemen itu apa, supaya cerita tentang pribadi yang cenderung subyektif bisa dikurangi he..he..”

“Supaya anda dan teman-teman ke sini. Kapan lagi? Di sini suasananya asyik. Nanti kita bisa reuni kecil-kecilan. Syukur bisa besar-besaran. Di sini banyak bahan menulis cerpen or novel dengan setting Lebanon he..he..”

Saya masih ragu. Meyakinkan diri. Reuni kok di Lebanon, kayak mau meliput perang saja. Reuni di Makam Kahlil Gibran, reuni yang tak biasa.

Sesekali kita harus menjalani hal yang tak biasa. Supaya beda.

“Ayolah… nanti bisa lihat makam dan museum Kahlil Gibran. Kalau sudah merasakan alam pegunungan Lebanon bisa ketularan Kahlil Gibran, idolamu dulu.”

“Kok tahu kalau idola?”

“Lha, dulu buku Kahlil Gibran berderet di rak buku. Kamu suka mengutip syair, anakmu bukan anakmu tetapi anak sang kehidupan… ha..ha..”

Aku ingat buku-bukuku dulu yang ditaruh di rak kayu yang ditempel di dinding. Di antaranya Sang Nabi dan Sayap-Sayap Patah. Kahlil Gibran salah satu idola mahasiswa. Bukunya yang paling laris Sang Nabi dan Sayap-Sayap Patah.

Baca Juga

Sepatu Bola

Ruang Tamu

Gulma

Kutipan sajaknya dikutip di beberapa publikasi. Yang paling terkenal sajak Anakku. Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu/ Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri/ Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu/ Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu/ Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri…

Mendengar kata Kahlil Gibran, memantik hasrat. Sepertinya saya harus ke sana. Melihat kuburan sang idola waktu mahasiswa.

Saya terbang ke Beirut bersama istri memakai Saudi Air dari Jakarta. Ada beberapa teman bergabung. Transit di Jedah. Setelah terbang belasan jam, di Bandara Beirut, kami dijemput staf kedutaan. Baru sekali itu saya mendapat kehormatan dijemput kedutaan. Mimpi apa ini.

Setelah bertemu Mas Yasin, kami bernostalgia dan mengobrol hingga tak ada jeda. Mas Yasin menunjukkan beberapa buku yang telah ditulisnya. Semua buku berbobot. Lalu kami diajak keliling kota Beirut.

“Ada 22 negara di Liga Arab yang berbahasa Arab. Lebanon adalah negeri Arab satu-satunya yang libur di hari Ahad. Lainnya libur di Hari Jumat. Jangan cari padang pasir di sini karena memang tak ada he..he..” kata Pak Dubes bak guide.

“Saya lihat-lihat pohon kurma nggak ketemu dari tadi he..he..”

“Lebanon memiliki musim salju terlama. Dari November bisa sampai Mei. Penduduk Lebanon sekitar 5 juta, yang beragama Kristen 37%, sisanya muslim. Presidennya harus beragama Kristen. Perdana menteri beragama Islam. Separo kabinet dan parlemen harus beragama Kristen. Bahasa sehari-hari memakai Arab, Perancis dan Inggris. Di sini banyak universitas karena masyarakatnya kaya dan berpendidikan tinggi.”

“Wow, unik juga negeri ini.”

“Penduduk Lebanon yang tinggal di luar negeri dua kali lipat lebih dari yang tinggal di Lebanon. Kebanyakan di Amerika Selatan. Warga Lebanon boleh berwarganegara ganda, bahkan tiga. Para ekspatriat kaya yang tinggal di luar negeri ini menjadi penopang ekonomi Lebanon.”

“Untuk buku-buku gimana?” tanyaku. Setiap pergi di suatu tempat saya biasanya mencari buku lokal. Atau suvenir berhias aksara setempat.

“Beirut pusat penerbitan buku dunia. Tetapi tak banyak toko buku. Buku-buku yang dicetak di Beirut langsung diekspor. Ada guyonan, buku-buku ditulis di Mesir, dicetak di Lebanon, dibaca di Irak, Iran, ha..ha…”

Bila pergi ke suatu tempat, kunjungan wajibnya adalah ke museum. Kami ke Museum Nasional Beirut di Damaskus street. Museumnya megah dan bersih. Bangunan depan dengan tiang besar model Spanyolan. Kami nikmati guci-guci kuno, keramik berbagai bentuk, aneka patung wajah. Juga relief dan patung era Yunani. Patung Pharaoh dan obelisk Mesir juga ada.

Lalu kami city tour dengan melihat Gemmayzeh Street yang banyak bangunan kuno dan grafiti. Asyik sekali. Lalu ke Corniche menikmati pinggir laut dan Masjid Mohammad Al-Amin yang beratap biru di Martyrs Square.

Empat menaranya yang lancip menjulang ke langit. Kami lalu menuju Aldelkhamar. Di pusat kota atau Delalkhamar Square, ada sebuah bangunan dengan pancuran air kuno. Pengunjung dapat meminum air pancuran tersebut karena sangat bersih yang mengalir langsung dari Bukit Barukh.

Di waktu luang, saya mengunjungi museum Kahlil Gibran di Bsharri, sebuah kota di utara Lebanon. Di kota inilah Kahlil Gibran dilahirkan pada 6 Januari 1883.

Pada usia 10 tahun, Gibran bersama ibu dan kedua adik perempuannya pindah ke Boston, Amerika Serikat. Setelah 16 tahun mendiami Boston, Gibran kembali ke Lebanon.

Mulanya Gibran membeli sebuah biara di Bsharri sebagai tempat menghabiskan masa tuanya. Gibran membeli biara itu waktu ia tinggal di New York, tahun 1926. Biara itu baru diubah menjadi museum pada tahun 1975 dan Gibran National Committe merestorasi biara serta menambah bangunan baru di sisi timur.

Gibran meninggal di New York, AS, pada 10 April 1931. Jenazahnya kemudian dibawa ke desa kelahirannya dan dikebumikan di sebuah bukit. Pengunjung dapat memasuki makam Gibran yang ditempatkan dalam sebuah ruangan di bukit itu.

Kawasan Kadisha berada pada ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut. Kawasan Candi Cetho di kampungku ketinggiannya sekitar 1.500 meter dan Candi Sukuh sekitar 1.200 meter. Hawanya dingin dan sering berkabut.

Ini lebih tinggi lagi. Dikenal sebagai kawasan White Lebanon (kawasan bermain ski). Kadisha yang paling indah dari kelima kawasan White Lebanon karena memiliki hutan pohon cedar atau ara, mirip cemara kipas tetapi besar.

Di musim dingin seperti awal Desember, salju tak bisa menutupi kehijauan pepohonan cedar. Pohon ini juga dikenal sebagai pohon keabadian dan tetap menghijau di empat musim. Pohon yang bisa hidup ratusan tahun. Kayunya kuat, berserat indah dan berbau wangi, seperti kayu cendana.

Usai ke rumah kumuh tempat Gibran dilahirkan, kami langsung ke makamnya. Makamnya bekas bangunan biara para Rahib Karmelit yang dibangun pada akhir abad ke-17, terdiri dari 16 ruang di tiga lantai, dan berakhir di ruang peristirahatan terakhir Gibran.

Pada masing-masing ruang dan lantai dihubungkan lorong-lorong gua dan tangga-tangga batu. Pada lorong ruang ke tiga, museum Gibran baru terasa dengan Gibran.

Di ruang ini ditempatkan perabot Gibran di studionya di New York. Furnitur studionya dibawa ke Lebanon. Juga buku-buku milik Gibran, manuskrip-manuskrip dan 440 lukisan asli dari tangan sang pelukis.

Barang-barang peninggalan Gibran ini sangat terawat. Ada meja dan kursi, alat masak, kanvas, serta tempat tidur yang pernah digunakan sang pujangga. Barang pribadi Gibran juga dipamerkan. Di atas tempat tidur tampak pahatan wajah Khalil Gibran.

Di ruang ke empat, tergantung sembilan lukisan Gibran. Begitulah seterusnya ke ruang berikutnya, sampai tiba di ruang goa dimana terdapat semacam lobang kecil, tempat peti jenazah Gibran diletakkan.

Saya duduk di depan makam Kahlil Gibran sambil termenung. Di depan patungnya. Wajahnya tetap menunduk. Seolah itu pose yang disenanginya. Seperti juga lukisannya. Jarang dengan wajah menatap. Kebanyakan menunduk.

Saya tatap wajah patungnya. Tiba-tiba saja saya ingin bertanya. Ini pertanyaan lama dulu waktu mahasiswa.

“Mengapa sedih? Kenapa cintamu begitu platonik? Tidak bisakah kau bawa lari si Selma Karami? Atau Mary Haskell? Malah kau membuat sendiri sayap-sayapmu patah. Rasanya kau suka mendramatisir supaya melankolis dan menjadi karya. Berarti kau egois juga. Kenapa tidak kau lamar Selma sebelum dilamar orang lain? Kenapa tidak kawin lari kalau memang mencintai? Rasanya kamu hanya senang pacaran saja he..he.. Kenapa juga tidak kau datangi May Ziyadah ke Palestina atau Mesir? Toh kau bisa bepergian sampai Amerika, Perancis dan balik ke Lebanon?”

Wajah itu tetap menunduk. Rambutnya yang panjang dan kumisnya menghias bibirnya yang selalu terkatup. Jarang saya lihat tersenyum. Sepertinya wajah muram. Apa pujangga harus berwajah muram? Apa filosof harus berwajah angker?

“Wajahmu ganteng. Kenapa kau tak bisa flamboyan seperti William Shakespiere? Atau seperti Chairil Anwar yang begitu ekspresif mengatakan cinta? Atau seperti Rendra yang beristri beberapa?”

Aku jadi ingat sajak Rendra yang ditujukan pada calon istrinya Sunarti, Jl Sagan No 9 Yogya. Puitis dan berkesan. Waktu berlalu. Hening dan hanya tiupan angin dingin.

“Sekarang aku ingin menggugatmu. Entah ada artinya atau tidak. Aku sebut namamu, Kahlil Gibran berulangkali karena kau pernah menyebut namaku sering kali. Dalam karyamu, Sang Nabi. Kau tahu siapa namaku? Namaku Ali Mustofa. Asli Indonesia.”

Puncak Gunung Mar Elias dan Gunung el Mekmel di bentangan Pegunungan Lebanon, putih berkilauan tertutup salju. Lerengnya masih berwarna hijau pepohonan cedar dan coklat dinding batu alam.

Pohon cedar yang kokoh tetap mempesona. Makanya ada di bendera Lebanon. Juga Gibran. Masih mempesona. Meski aku sekarang menggugatnya. ***

Sunaryo Broto, sastrawan yang bekerja di Pupuk Kaltim, Bontang. Penerima nominasi pegiat literasi Kaltim dan Kaltara dari Kantor Balai Bahasa Kaltim.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain, baik cetak, online, atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada konfirmasi, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.  

Lihat juga...