SDN Margahayu XIII Masih Menunggu Gedung Baru

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Sekolah Dasar (SD) Negeri Margahayu XIII, Bekasi Timur Kota Bekasi, Jawa Barat, hingga kini masih menerapkan pembagian sistem shift kepada peserta didiknya. Hal tersebut akibat terbengkalainya pengerjaan gedung baru yang sampai sekarang belum ada kejelasan. Padahal, Komisi IV DPRD Kota Bekasi akhir bulan lalu sudah ke lokasi, tapi belum memberikan perubahan apa pun.

“Kami masih memberlakukan tiga shift, kalau hujan kelas 1 diliburkan, karena air menggenangi ruang kelas,” ujar Nasan, Kepala Sekolah SD Negeri Margahayu XIII, kepada Cendana News, Kamis (20/2/2020).

Ia menjelaskan, penerapan tiga shift tersebut diatur untuk kelas pagi mulai pukul 07.00-12.00 WIB untuk anak kelas VI, lalu disambung pukul 12.30-17.00 WIB untuk kelas V. Kemudian kelas IV dan III masuk pukul 14.30 WIB.

Nasan mengaku, sebagai kepala sekolah hanya manajer, soal pembangunan itu kewenangan pihak Disperkimtan Kota Bekasi. Menurutnya, pernah menanyakan langsung ke Disperkimtan katanya, April bangunan dilanjutkan.

“Saya gak tahu kapan pastinya, terserah, yang penting peserta didik masih bisa belajar, meski seadanya. Seperti jika hujan anak-anak dipulangkan atau belajar di teras saja, karena ruangan banjir,” ujarnya, mengaku tadi pagi hujan sejak semalam menyebabkan ruang kelas banjir hingga selutut orang dewasa.

Diketahui, saat ini SD Negeri XIII Margahayu memanfaatkan enam lokal. Tetapi tiga lokal kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Pembangunan gedung baru sendiri terkendala oleh pihak pelaksana, bahkan pembayaran upah tukang sampai sekarang belum dibayar dan belum ada kejelasan.

Dengan kondisi sekarang, guru lainnya mengaku ikut kesulitan dalam mengajar. Karena harus menyesuaikan dengan shift pembagian waktu mengajar.

“Repot sebenarnya dengan kondisi sekarang. Apa lagi tiga lokal sudah memprihatinkan. Kalau ditanya harapan, tentu ingin gedung baru bisa segera difungsikan,” tukasnya.

Sementara itu dikonfirmasi terpisah, Ricky, selaku penanggung jawab tukang mengatakan, hingga sekarang belum ada titik temu terkait pembangunan SD Margahayu XIII. Uang tukang, yang belum dibayar ada sekira Rp200 jutaan.

Namun demikian, ungkap Ricky, dirinya sebagai penanggungjawab tukang, masih menunggu pencairan SMP XIII. “Kebetulan pelaksana di SD Margahayu XIII, dan SMP XIII satu owner. Pencairannya belum selesai seratus persen. Jadi, kami nunggu pencairan di SMP XIII,” tukasnya.

Dia mengaku sudah dikoordinasikan kepada kepala dinas terkait dan sudah disetujui pembayaran akan langsung dipotong utang. Ricky mengaku terus mengawal pencairannya.

Lihat juga...