Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Litigasi Mewisuda 62 Lulusan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Litigasi, Dr. H. Achmad Ubbe, SH., MH, mewisuda 62 lulusan, terdiri dari 35 orang program sarjana program studi Ilmu Hukum dan 27 orang program Diploma, tiga program studi Administrasi Peradilan. Kepada para lulusan diharapkan menjadi SDM berkualitas di bidang litigator dan administrasi peradilan.

“Sejalan dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat, diupayakan dengan peningkatan kualitas lulusan Alumni STIH Litigasi menjadikan SDM berkualitas di bidang litigator dan administrasi peradilan melalui penyempurnaan kurikulum,” kata Ketua STIH Litigasi, Dr. H. Achmad Ubbe, SH., MH saat upacara wisuda di Graha Pengayoman, Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta, Sabtu (22/2/2020).

Penyempurnaan kurikulum tersebut kata Achmad Ubbe, dimana 75 persen bermuatan kajian hukum praktis dengan satuan pengajaran mengenai layanan bantuan hukum dan teknik praktik peradilan.

“Selebihnya 25 persen satuan acara pengajaran tentang kajian teoritis dan sosiolegal-kultural sesuai perubahan dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Akademi Litigasi Indonesia (ALTRI) yang saat ini bernama STIH Litigasi didirikan untuk memenuhi kebutuhan SDM Panitera Pengadilan. Sejak lulusan perdana ALTRI tahun 1991 hingga 2014 tetap mendapat formasi di lingkungan MA.

“Data pelacakan Alumni ALTRI atau STIH Litigasi sejak didirikan tahun 1987 hingga 2019 tercatat 1881 alumnus, 769 atau 43 persen di antaranya bekerja di lingkungan peradilan. Sisanya bekerja di bidang hukum atau pelayanan dan bantuan hukum kepada masyarakat, seperti advokat, tenaga administrasi di kantor hukum serta sektor swasta,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Yayasan Pengayom Warga, Kementerian Hukum dan HAM, Drs. H. R. Mardjaman, B.c., IP, mengatakan, STIH Litigasi terus berusaha meningkatkan kinerjanya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas dalam mencapai standar nasional pendidikan tinggi.

Dimana sebut Mardjaman berbagai usaha telah dilakukan untuk merealisasikan Tri Dharma perguruan tinggi, dengan kualitas bahan ajar, dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa serta sarana dan prasarana.

“Salah satu cara meningkatkan kualitas perguruan tinggi, STIH Litigasi sedang menyusun program e-academic. Saya minta agar program ini dapat dilestarikan pemanfaatannya sehingga semua kegiatan terintegrasi dalam teknologi informasi yang canggih. Perguruan tinggi di era melinial harus mampu menjawab dan menuntaskan segala tantangan yang dihadapi dengan cepat, tepat, teliti dan hasil yang terukur,” katanya.

Menteri Hukum dan HAM, dalam sambutannya yang dibacakan Dirjen HAM, Dr. Mualimin Abdi, SH., MH, menyebutkan bahwa proses wisuda bagian dari rangkaian perjalanan suatu pendidikan yang harus ditempuh atau diselesaikan.

Wisuda merupakan peristiwa penanda seorang mahasiswa telah berhasil menyelesaikan studi dan siap mengimplementasikan keilmuan.

“Wisuda STIH Litigasi hari ini bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, tetapi ini awal dari dimulainya pembelajaran yang sesungguhnya. Yaitu mempraktikkannya ke dalam kehidupan nyata, dan berperan menyukseskan pembangunan bidang hukum, dengan menjaga tegaknya supremasi hukum dan menjadikan hukum sebagai ‘panglima’,” ujarnya.

Selain Dirjen HAM, Kemenkum HAM hadir juga Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Dr. Abdullah, SH., M Si, Plt Kepala L2 Dikti Wilayah III DKI Jakarta Dr. M. Samsuri dan Pengurus Yayasan Pengayom Warga Kementerian Hukum dan HAM.

Untuk lulusan terbaik program sarjana program studi ilmu hukum dalam upacara wisuda tahun ini adalah Mohammad Rizki Fadillah dengan IPK 3.69, kedua Elsa Ewalde Nofika Kiik Mau dengan IPK 3.61 dan ketiga Marfia Sasgita Putri dengan IPK 3.54.

Sedangkan untuk lulusan terbaik program Diploma Tiga program Administrasi Peradilan adalah Tiara Nurul Adhanis dengan IPK 3.73, kedua Sarah Nadia dengan IPK 3.62 dan ketiga Radiantika Endang Wunindya dengan IPK 3.56.

Lihat juga...