Sembilan Anak di Sikka Meninggal Akibat Demam Berdarah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Penyakit berbasis lingkungan, Demam Berdarah Dengue ((DBD) yang menyerang warga kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bertambah dari hari ke hari dan menyebabkan 9 anak meninggal dunia.

Korban ke delapan meninggal Senin (24/2/2020) bernama Imelda Senhora Marin berusia 4,7 tahun berasal dari desa Watugong, kecamatan Alok Timur. Sementara selang 4 hari korban kesembilan yang juga anak-anak meninggal dunia di RS TC Hillers Maumere.

“Benar, korban meninggal akibat DBD dan sempat dirawat selama dua hari di rumah sakit,” kata dr. Clara Y. Francis, direktur RS TC Hillers Maumere, kabupaten Sikka, provinsi NTT, Jumat (28/2/2020).

Direktur RSUD TC Hillers Maumere, dr. Clara Y. Francis, ditemui beberapa waktu lalu. Foto: Ebed de Rosary

Dokter Clara menyebutkan, korban masuk ke RS sejak Rabu (26/2/2020) dan mendapat penanganan medis namun sudah terserang DBD hari keempat sehinggga dirawat di ruang Unit Gawat Darurat (UGD).

Dirinya berharap agar gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dapat berjalan maksimal sehingga bisa menekan kasus karena ruang perawatan di rumah sakit telah dipenuhi pasien DBD.

“Korban masuk ke rumah sakit sudah terserang demam berdarah hari keempat. Saat masuk trombosit korban 29 ribu dan paginya turun hingga mencapai 7 ribu. Pemilik kos harusnya juga memiliki tanggung jawab mengontrol anak kos mereka siapa tahu ada yang sakit sehingga bisa ditangani lebih awal,” sebutnya.

Lingkungan yang bersih kata Clara, akan mencegah berkembangbiaknya nyamuk Aedes Aegypti penyebab demam berdarah sehingga gerakan membersihkan rumah dan lingkungan harus dilakukan setiap hari.

Sementara itu, Moses Noe ayah korban bernama Maria Florida Lani Gigo, siswi SMAN 2 Maumere asal desa Parabubu, kecamatan Mego, membenarkan anknya meninggal akibat terserang demam berdarah.

Anaknya kata Moses, sempat menjalani perawatan sejak Rabu (26/2/2020) sekitar jam 17.00 WITA karena diantar oleh teman kos. Sebab mengalami panas tinggi dan mendapat perawatan di rumah sakit.

“Kami diberitahu dan ke rumah sakit mendapati anak kami sedang mendapatkan penanganan medis di UGD. Semalam dia meninggal dunia di rumah sakit saat sedang dirawat,” ungkapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, mengatakan, apabila ditemukan ada tanda-tanda, korban harus segera dibawa untuk melakukan pemeriksaan darah di laboratorium.

Laboratoriun yang dimiliki oleh dinas kesehatan kata Petrus, sudah di luar kapasitas sehingga pihaknya mendatangkan alat tes darah dan ditempatkan di posko kantor dinas kesehatan sehingga masyarakat bisa memeriksakan darahnya secara gratis.

“Kita sudah menambah tempat tidur di rumah sakit dan tenaga medis. Kita juga menambah alat tes darah agar pelayanan bisa lebih baik dan masyarakat yang ingin memeriksakan darah secara gratis bisa datang ke dinas kesehatan,” ungkapnya.

Lihat juga...