Senja di Tepi Sungai Shotover

CERPEN TRIANA RAHAYU

CUKUP berpikir setengah jam untuk memutuskan. Lima belas menit untuk mematangkan rencana. Mencocokkan jadwal yang ada. Kami berdua kemudian terbang ke daratan selatan bumi. Melepaskan diri dari permasalahan yang mengakar di pikiran.

Sungai yang berada di South Island, Selandia Baru ini mengalir di jajaran pegunungan Alpen Selatan menuju Danau Wakatipu melalui kota Queenstown. Aku sekarang sedang bernafas di atmosfer yang melingkupinya. Berkecipak di antara derasnya arus sungai.

“Tangkap dayung ini, Andini…!” Geo berteriak. Suaranya tertelan di antara gemuruh air. Tenggelam dalam riak gelombang yang tak bersahabat.

Susah payah aku berusaha melawan keganasan arus. Menggerak-gerakkan tanganku yang terasa kaku. Berusaha menggapai dayung yang disodorkan Geo. Beberapa detik yang lalu aku terlempar keluar dari perahu akibat terjangan jeram besar yang kami lewati.

Begitu aku berhasil menggenggam ujung dayung, dengan cepat Geo menarik tubuhku, bergabung kembali bersama tim, masuk ke dalam perahu. Disambut tatapan penuh kekhawatiran dan pertanyaan yang seragam dari para lelaki di dalam perahu.

Are you oke?”

Aku nyengir. Menggerakkan bibirku yang terasa kaku. Baret-baret luka yang menggoresi tanganku terasa perih.

Geo mengusap lembut punggung tanganku kemudian menggenggamnya dengan kuat.

Perahu kembali meluncur. Bercengkerama dengan derasnya arus sungai yang kembali tak bersahabat.

“Yuu.. huu…” Teriakan-teriakan lantang kembali terdengar saat jeram-jeram kecil menyerupai lidah air mulai mempermainkan perahu. Sesaat tubuh kami terguncang hebat bersama tarian perahu yang meliuk-liuk. Meniti arus yang mengalir deras tanpa kompromi.

Ready… Red Rocks we are coming,” Geo berteriak kencang. Suaranya terdengar timbul tenggelam di antara gemuruh air.

Melewati patahan yang cukup dalam, perahu terhempas tajam ke udara. Serentak dayung terangkat. Saat perahu kembali ke permukaan, empasan air di sekitar perahu membuat tubuh basah seketika, disambut suara teriakan yang tak henti bergema di kawasan tebing dengan bebatuan berwarna kemerahan.

Wajah-wajah puas dengan adrenalin di batas pencapaian tertawa lepas. Kenikmatan yang baru saja kami reguk bersama tak dapat diekspresikan kata.

Namun hanya sesaat kami dapat tertawa lepas. Mother in Law, jeram panjang di depan siap mengguncang perahu kembali. Semua berkonsentrasi penuh, menggenggam erat pangkal dayung. Dengan tatapan mata menyalang, siap menaklukkan jeram yang menanti dengan arus yang mengombak beringas.

Melewati jeram yang jaraknya saling berdekatan, perahu terguncang hebat. Terombang-ambing lidah air dengan rentan waktu yang cukup lama. Beberapa kali perahu hampir terbalik.

Tapi, bukannya ciut, nyali semakin tertantang, meradang dan tak ingin terkalahkan. Perjuangan beberapa menit berlalu. Dan kami tetap tak terkalahkan.

Di depan sana, sebuah terowongan sepanjang seratus meter, bekas galian para penambang emas abad lampau. The Tunnel telah siap menanti. Dari jauh, lidah air yang berlomba-lomba memasuki mulut terowongan seperti memanggil-manggil tak sabar.

Mendadak jantungku berdegub kencang. Kusempatkan melirik Geo sesaat. Geo tersenyum hangat. Memberi semangat.

Suara gemuruh yang hebat terdengar saat perahu meluncur memasuki terowongan sempit dan gelap. Bulu kudukku langsung bergidik, ngeri. Berkali-kali perahu membentur dinding terowongan. Membuat kami sibuk memainkan dayung.

Awalnya terdengar teriakan Geo, disusul Brian, disambung teriakan yang lainnya, membuat suasana gaduh, menggema panjang di dalam terowongan yang sempit.

Dan akhirnya… cahaya mulai terlihat di ujung sana, mulut terowongan itu seperti tersenyum hangat. Membuat bibirku pelan-pelan tersenyum lega.

Perahu sekarang meluncur pelan. Menikmati sisa-sisa arus yang mengalun lembut. Tempat berdirinya bangunan shotover jet mulai terlihat, merupakan titik akhir dari berarung jeram. Teriakan-teriakan panjang, tangan yang saling bertepukan, tak henti terdengar.

Mengekspresikan kepuasaan dengan nada penuh kebanggaan. Satu jam lebih petualangan rafting di sungai shotover benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam dan tidak mungkin terhapus dari ingatan.

Sesaat setelah perahu merapat ke tepian, aku langsung menjatuhkan tubuh di atas butiran-butiran pasir yang lembut.

“Kamu hebat, Andini.” Geo menepuk-nepuk pundakku, ikut menjatuhkan tubuh di sampingku.

Aku hanya meliriknya sekilas. Debaran jantungku masih turun naik.

Geo mengambil tanganku, mendekatkan ke wajahnya.

“Sakit…?” tanyanya sambil meneliti luka baret yang menggaris panjang di lengan dan telapak tanganku.

Aku hanya diam. Tak sanggup berkata-kata, udara sepertinya baru mengisi setengah dari rongga pernafasanku.

“Sebentar! aku ambil kotak obat di mobil.”

Kutarik tangan Geo dengan cepat. Menahan gerak tubuhnya yang akan beranjak bangkit. “Tidak perlu, ini sama sekali tidak sakit,” tolakku halus.

Geo menatap tajam. Ekspresinya tak percaya.

Lihat…!” Aku menggesek tanganku yang satunya di atas goresan luka yang memerah. Mencoba meyakinkan Geo. Walau sebenarnya aku menyembunyikan rasa sakit yang lumayan perih di bagian luka ini. “Tidak apa-apa, kan!”

“Baru dua hari kita di sini, kamu sudah berubah jadi cewek bandel.” Geo mengacak-acak rambutku. Kembali duduk.

“Ini semua, kan karena kamu!”

“Lho… kenapa aku?” Geo seperti tak terima dengan tuduhanku.

“Ide gila ini, semua kan, karena kamu.”

“Tunggu… tunggu…” ralat Geo cepat. “Siapa yang bersemangat untuk datang ke sini, saat kuceritakan ada satu tempat yang sangat indah di Queenstown. Tempatyang sering kudatangi saat merindukanmu?”

“Maksudku, kalau bukan karena kamu, aku tidak tahu nikmatnya melakukan rafting di sungai shotover. Ini pengalaman baru, tapi langsung membuatku jatuh cinta, dan semua karena kamu.”

“Oh…” Geo memonyongkan bibir. “Aku pikir kamu menyesal karena menerima ajakanku untuk datang ke tempat ini.” Kini senyumnya mengembang. Memamerkan deretan giginya yang putih.

“Tidak mungkin…” Aku menggeleng cepat. “Ini semua memang gila. Tapi aku sungguh terhipnotis dengan kegilaan ini. Kamu tahu,” aku memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. “Bahkan bernafas benar-benar terasa nikmat di sini. Aku merasa hidup. Lupa semuanya.”

“Lupa denganku juga?”

Kulirik Geo dengan tatapan tajam. Menyikut perutnya kuat.

“Jawab dulu dong!” Geo malah nyengir.

“Mau di jawab apa?”

“Jawaban jujur dari orang yang sedang amnesia.”

“Oke…” kutatap wajah Geo lurus-lurus. “Dengar ya…” pintaku dengan sangat. “Cuma kamu yang tersisa di celah pikiranku, sayang…”

Baca Juga

Sepatu Bola

Ruang Tamu

Gulma

“Yang lain ke mana?”

“Hanyut terbawa arus sungai shotover saat aku jatuh, terhempas dari perahu tadi.”

“Ha…ha…ha… “ Tawaku dan Geo pecah secara bersamaan. Sampai tubuh kami terguncang-guncang. Sampai airmataku ikut menitik. Entah apa yang ditertawakan. Mungkin mentertawakan nasib yang tak berpihak pada kami.

“Hei… apa kalian masih betah di sini? “Suara teriakan dari arah belakang membuat tawaku dan Geo perlahan surut. Dari balik stir mobil, Alex melambaikan tangannya.

Kami berdua bangkit. Berjalan mendekati mobil yang mulai bergerak pelan. Teman-teman Geo yang tadi bergabung dalam satu tim mengarungi jeram sungai shotover sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

“Duluan saja! Masih ada yang ingin kutunjukkan pada turis kita yang satu ini.” Geo melirikku sesaat.
Keningku langsung berkerut.

“Surga,” Geo tersenyum penuh makna.

“Oh…” Semua lelaki di dalam mobil itu terlihat mengerti kemana arah pembicaraan Geo. Seperti di komando mereka serentak mengangguk.

“Ya… jangan lewatkan keajaiban itu.” Vage yang bertubuh gempal ikut bersuara.

“Kenapa kita tidak sama-sama saja ke sana?” kucoba memberi saran. Baru sehari aku mengenal mereka. Geo langsung menghubungi salah satu teman kuliahnya ini saat kami akan berangkat menuju Queenstown.

Karakter teman-teman Geo yang ramah membuatku merasa nyaman dan tak canggung berada di antara mereka.

Sorry Andini, bukannya kami tidak mau, tapi takut mengganggu romantisme kalian berdua,” ucap Peter sambil senyum-senyum penuh arti.

“Apa…” aku terbelalak tak mengerti.

Geo malah tertawa kecil, kemudian menarik tubuhku masuk ke dalam pelukannya. Mencium keningku.
Kusikut tubuh Geo agar melepas pelukannya.

Geo malah tertawa lepas, diikuti senyuman penuh arti dari para sahabatnya.

Belum sempat aku memberi perjelasan pada teman-teman Geo tentang apa yang baru saja mereka lihat, mobil perlahan bergerak, meninggalkanku dan Geo.

“Sampai bertemu lagi…” Lelaki-lelaki itu berteriak. Tepat di saat mobil perlahan berbelok di tikungan.
Geo melirik arloji di tangan kanannya. “Ayo Andini, kita harus cepat kalau tidak ingin kehilangan momen yang paling indah di tepi sungai shotover!” ajaknya sambil menarik tanganku.

Aku mengalah. Niat untuk membahas sikapnya beberapa menit yang lalu, yang telah membuat pipiku memerah malu di hadapan teman-temannya seketika pupus. Semangat Geo melunturkan semua niatan itu.

Hanya butuh beberapa menit untuk mengganti pakaian yang basah. Memasukkan beberapa barang yang tersisa saat rafting tadi. Kami langsung bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.

“Boleh aku yang menyetir?”

No, Duduk yang manis dan nikmati semuanya!”

Kuangkat kedua bahu. Lagi-lagi aku mengalah.

Mobil Alex yang dipinjamkan selama kami berada di Queenstown, membawaku dan Geo menyusuri jalan pegunungan dengan tebing cadas yang menjulang dan lembah dengan ngarai dalam di kiri-kanannya.

Membelah jajaran pegunungan Coronet Peak dan Marsden Mountain yang merupakan jajaran pegunungan Alpen Selatan. Sementara dari kejauhan hamparan padang rumput hijau membentang di bawah langit yang mulai menebar warna jingga yang menawan.

Jalanan benar-benar lengang. Seperti khusus diperuntukkan bagi kami berdua untuk melintasinya. Menikmati dengan hikmat senja di bawah atmosfer sungai shotover yang sungguh menawan.

Sementara dari balik kemudi tangan Geo terus menggenggam erat tanganku dan tangan satunya lagi serius mengendalikan stir mobil. Benar-benar romantis. Setelah melewati sebuah tanjakan curam mobil perlahan berhenti.

“Ayo turun!” ajak Geo tak sabar.

Geo menarik tanganku untuk mengikutinya. Berjalan menuruni jalan setapak yang tersembunyi dari lintasan jalan. Memilih satu tempat yang paling strategis, kemudian mengajakku duduk pada salah satu batu besar tepat di atas tebing jurang yang dalamnya mencapai ratusan meter, mengarahkan telunjuknya lurus-lurus ke depan.

Seketika mataku tergiring mengikuti arah telunjuk Geo. Aku pun terkesiap. Menemukan sketsa alam yang terhampar di hadapan.

Langit senja yang merona jingga memantulkan warna keemasan pada ngarai dan tebing cadas yang menjulang tinggi, sementara aliran sungai shotover bak uraian benang perak yang membelah pegunungan.

“Sumpah! ini indah sekali Geo,” ucapku terkagum-kagum. Tak menemukan kata yang lebih tepat lagi untuk menggambarkannya. Terkesima menemukan lukisan senja dengan Viev point terindah di tepi sungai shotover.

“Ini tempat yang kusebut surga!” Geo menarik nafasnya dalam-dalam. Menarik semua sketsa alam yang indah di depan matanya.

“Aku sering duduk di sini, saat merindukanmu. Membayangkan kamu juga sedang menyaksikan matahari yang sama di Jakarta.” Geo menarik tanganku. Meletakkan di dadanya, erat-erat.

“Dan sekarang, aku bahagia sekali bisa menikmati matahari itu terbenam bersamamu.” Senyum khasnya mengembang lebih indah dari biasanya.

Seketika aku tersadar, di balik sifat Geo yang terkesan kaku, lelaki yang kukenal setahun yang lalu di sebuah seminar Ekologi, kemudian kami menjadi dekat dan mengikrarkan diri sebagai sepasang kekasih, sebelum dia melanjutkan studi strata duanya ke kota ini, dan kami menjalani hubungan long distance relationship, ternyata menyimpan sisi romantis yang lebih besar dari yang kubayangkan selama ini. Bahkan pintar bermain dengan kata-kata.

“Andini berjanjilah untuk terus mengingat hari ini!” matanya kini menatapku dalam. Memohon dengan sangat.

“Ya,” ucapku lirih.

“Biarkan kita menikmati senja ini sebagai sepasang kekasih untuk terakhir kali.” Kuhela nafas. Perih di dada ini terasa lagi setiap mengingat keputusan yang telah kami sepakati, setelah aku dan Geo mengalami perdebatan panjang.

Andai saja aku tidak terlambat untuk mengenalkan Geo sebagai kekasihku kepada mama yang tinggal di Solo, sebelum mama mengenalkan Om Bram, tentu keadaan tidak akan menjadi serumit ini.

Dua puluh dua tahun mama membesarkanku seorang diri dan akhirnya kembali membuka hati untuk menerima kehadiran seorang lelaki di hidupnya, bagaimana mungkin aku bisa menghancurkan kebahagiaannya itu.

Kutatap Geo dengan kornea mata yang berkabut. Geo mengusap pipiku lembut.

“Karena besok, saat kita kembali ke Indonesia, saat Papamu dan Mamaku mengikrarkan janji suci pernikahan, kita harus mengubah perasaan di hati ini menjadi cinta antara adik dan kakak,” ucapku dengan tangis yang tertahan.

Perlahan Geo menarik tubuhku. Menjatuhkan kepalaku di bahunya. Dibiarkan airmataku membasahi kerah jaket yang dikenakannya.

Dalam hening, saling menguatkan dengan berpegangan tangan erat, kami menikmati detik-detik tenggelamnya matahari di tepi sungai shotover, hingga senja menjadi gelap. ***

Triana Rahayu, penulis asal Langsa dan kini berdomisili di Bogor. Alumnus Institut Pertanian Bogor. Sejumlah karyanya terbit di media cetak dan daring seperti: Majalah Femina, Majalah Kartini, Tabloid Nova, dan lainnya.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya yang dikirim orisinal hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online, juga buku. Karya dikirim ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan tak ada konfirmasi dipersilakan dikirim ke media lain.

Lihat juga...