Siswa SMP di Pulau Dewata Beradu Mengetik Aksara Bali di Komputer

Para siswa yang tengah serius mengetik aksara Bali dengan menggunakan komputer dalam lomba serangkaian Bulan Bahasa Bali 2020 di Taman Budaya, Denpasar – Foto Ant

DENPASAR – Siswa-siswi SMP dari berbagai daerah di Pulau Dewata, beradu mengetik aksara Bali. Lomba menulis tersebut dilakukan dengan komputer.

Lomba digelar sebagai rangkaian Bulan Bahasa Bali 2020, di Taman Budaya, Denpasar, Sabtu (22/2/2020). “Lomba mengetik aksara Bali di komputer ini secara tidak langsung mengajak siswa SMP untuk mengenal aksara Bali. Kami harapkan, melalui penggunaan komputer ini bisa menumbuhkan inovasi dalam mengembangkan atau memanfaatkan aksara Bali menjadi sesuatu yang lebih kreatif,” kata I Made Sudiana, salah satu juri lomba di sela-sela acara Wimbakara (lomba), Sabtu (22/2/2020).

Dengan lomba itu para siswa dan generasi muda Bali pada umumnya, bisa terpancing untuk lebih jauh mendalami bahasa, aksara, dan sastra Bali. Dari pengamatan secara keseluruhan, masih ada peserta yang belum memahami teknik mengetik di komputer, meskipun di dalam komputer tersebut sebenarnya sudah ada penjelasan cara penggunaan.

Selain itu, peserta juga harus paham tentang uger-uger atau tata cara peletakan aksara di dalam sebuah kalimat. “Beberapa bagian perlu diedit. Peserta harus tahu juga tentang uger-uger penulisan aksara Bali. Harus dikuasai,” ujar pria yang kesehariannya bekerja di Balai Bahasa Bali tersebut.

Program Bali Simbar, yakni digitalisasi aksara Bali ke dalam komputer, memang sudah dikenalkan sejak 1996 oleh penemunya, I Made Suatjana. Program ini terus mengalami perkembangan. Seiring waktu, ada juga yang mengembangkan program serupa. “Saya rasa perkembangan ini memberi ruang kepada anak-anak untuk kreatif. Karena font aksara Bali sekarang tidak hanya Bali Simbar, tetapi juga font-font yang lain yang dibuat oleh anak muda kreatif di Bali,” ucap Sudiana.

Perkembagan huruf atau font, kegunaan dari aksara Bali diharapkannya bisa semakin berkembang. Misalnya memanfaatkannya untuk hal-hal yang berbau tradisional agar bisa menjadi produk kreatif. “Seperti baju bertuliskan huruf Bali, pernak-pernik juga banyak, atau desain grafis yang menarik. Dengan demikian kebudayaan Bali dikembangkan lebih luas,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...