SKPT Sumba Timur Percontohan Industri Rumput Laut Nasional

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjadikan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, sebagai kawasan percontohan industrialisasi rumput laut nasional.

KKP terus mendorong produktivitas rumput laut di wilayah tersebut agar lebih berkualitas ekspor. Hal tersebut bentuk realisasi dari instruksi Presiden Jokowi melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 33 tahun 2019 tentang Roadmap Industrialisasi Rumput Laut Nasional.

“Industrialisasi rumput laut nasional merupakan sebuah langkah strategis yang akan menjembatani keterlibatan lintas sektoral dari mulai proses produksi di hulu hingga ke proses pengolahan dan pemasaran di hilir,“ ujar Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, berdasarkan rilis yang diterima Cendana News, Senin (17/2/2020).

Dikatakan bahwa potensi rumput laut di Sumba Timur, jika dimanfaatkan secara optimal maka akan turut mensuplai ketersediaan bahan baku industri yang berkualitas dalam mendukung program percepatan industrialisasi rumput laut.

KKP mengharapkan peran aktif dan kontribusi Pemerintah daerah setempat untuk dapat menjaga keberlanjutan usaha yang telah dibangun bersama tersebut.

“Dengan demikian, misi awal pembangunan SKPT di Sumba Timur dapat memberikan dampak positif bagi pergerakan ekonomi daerah,” pungkas Slamet.

Diketahui KKP telah menggelontorkan berbagai bantuan ke SKPT Sumba Timur, meliputi pembangunan prasarana budidaya rumput laut seperti para-para, rumah ikat, dan perahu fiber, sarana budidaya rumput laut, sarana kebun bibit rumput laut, sarana goemembran, kapal penangkap ikan, ice flake machine, coolbox, mobil pickup, dengan total bantuan mencapai diberikan melalui Kabupaten Sumba Timur sebesar Rp53,6 miliar.

Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas, Sri Yanti, menyatakan bahwa SKPT Sumba Timur merupakan salah satu SKPT terbaik di Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas dari keterlibatan Pemda dan masyarakat sekitar.

“Keberadaan BUMD PT. Algae Sumba Timur Lestari (ASTIL) merupakan elemen penting sebagai penyerap hasil produksi masyarakat Sumba Timur. Namun untuk meningkatkan nilai tambah dan memperluas peluang pasar, maka PT. ASTIL perlu didorong untuk bisa melakukan diversifikasi produk dari Chips menjadi produk Karaginan (Semi Refined Carageenan/SRC),” kata Sri.

Sementara, Sonia Tapar Kupung, Ketua kelompok Tangar Mahamu dari desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, menyatakan, siap untuk terus mengawal bantuan yang telah diberikan oleh pemerintah bersama dengan anggota kelompok yang lain.

“Kami harap pemerintah tidak lelah untuk terus memberikan pendampingan dan pelatihan kepada masyarakat untuk meningkatkan kapasitas pembudidaya rumput laut di Sumba Timur ini,” tandasnya.

Lihat juga...