Status Indonesia Negara Maju Berdampak pada Komoditi Ekspor

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Peneliti Institute of Development for Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus menyebutkan, bahwa  pengubahan status Indonesia sebagai negara maju akan berdampak kepada komoditi yang selama ini diekspor ke negara Amerika Serikat (AS).

“Jika pemerintah tidak menolak keputusan US Trade Representative (USTR), maka akan ada penurunan ekspor Indonesia ke AS sekitar 2,5 persen,” kata Heri pada konferensi pres ‘Salah Kaprah Status Negara Maju’ di Jakarta, Kamis (27/2/2020) sore.

Menurutnya, penurunan ekspor utamanya terjadi pada kelompok tekstil dan produk tekstil (TPT) 1,54 persen, alas kaki turun 2,2 persen karet 1,1 persen, dan CPO 1,4 persen. Juga  produk mineral dan pertambangan 0,3 persen dan komponen mesin listrik 1,2 persen.

Lebih lanjut dia menjelaskan, apabila USTR melakukan penyelidikan terhadap ragam produk impor dari Indonesia. Maka ini, kata dia, akan menyebabkam hambatan perdagangan melalui kenaikan bea impor AS menjadi lebih tinggi.

Hal ini dapat menimbulkan implikasi, bahwa ke depan produk ekspor Indonesia menjadi lebih mahal di pasar AS karena pengenaan tarif. Sehingga kalau Indonesia tidak segera memperbaiki daya saing produk ekspor di pasar AS, maka akan berdampak penurunan nilai ekspor ke AS.

“Konsekuensi dengan adanya tarif yang lebih tinggi, maka setiap negara yang ekspor ke AS harus bersaing dalam aspek kualitas, harga produk, aspek kesehatan dan keamanan lingkungan,” ujar Heri.

Selain itu,  jika Indonesia berstatus negara maju akan terancam tidak mendapatkan fasilitas Generalize System of Preference (GSP) tidak hanya dari AS.Tapi juga dari  Australia, Kanada, Belarusia, Uni Eropa, Islandia, Jepang, Kazakhstan, Selandia Baru, Norwegia, Rusia, Swiss, dan Turki.

Dampak lainnya lagi yaitu, tidak lagi mendapatkan kemudahan dan fasilitas soft loan pinjaman luar negeri. Serta technical assistance dari negara maju, biaya keanggotaan badan dunia meningkat, hingga perlakukan dari dunia usaha seluruh dunia yang berbeda.

“Implikasinya, biaya sebagai negara maju itu sangat besar dan memberatkan keuangan negara maupun domestik,” tukasnya.

Lihat juga...