Sumber Nadi Berbenah, Wujudkan Kampung Bonsai di Lamsel

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sumber Nadi menjadi salah satu desa di pesisir Timur Lampung Selatan (Lamsel) dikenal sebagai destinasi wisata bonsai. Dari sekitar 319 kepala keluarga di desa tersebut hampir 80 persen di antaranya membudidayakan bonsai. Seni mengerdilkan pohon sesuai dengan bentuk aslinya di alam banyak dilakukan oleh warga.

Sejumlah warga bahkan memiliki bonsai dengan jumlah yang beragam dengan harga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Keindahan tanaman hias bonsai yang ditempatkan tepat di halaman rumah warga membuat desa tampak memikat.

I Made Suwarno, Sekretaris Desa Sumber Nadi mengatakan sejumlah warga mulai bergabung membentuk komunitas Nadi Bonsai. Keberadaan komunitas pecinta bonsai mendukung desa itu sebagai desa wisata.

I Made Suwarno, Sekretaris Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan menyediakan bibit tanaman sentigi untuk bahan pembuatan bonsai mewujudkan desa wisata bonsai, Minggu (23/2/2020). -Foto: Henk Widi

Sejumlah tanaman yang menarik dijadikan bonsai meliputi beringin atau ficus, sentigi, kelapa, serut dan sejumlah pohon. Keunikan bentuk dan jenis bonsai yang ditempatkan pada halaman rumah dilengkapi dengan bale bengong,tempat bersantai. Keindahan bonsai pada sejumlah halaman warga semakin menarik saat hari raya Galungan yang dilengkapi dengan penjor.

“Penetapan desa wisata bonsai dengan pertimbangan banyaknya warga yang menanam bonsai mempercantik suasana desa sekaligus menjadi daya tarik bagi pecinta bonsai yang akan melihat, belajar dan membeli bonsai,” terang I Made Suwarno saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (23/2/2020).

Keunikan desa Sumber Nadi sebagai desa wisata bonsai menurutnya tidak diragukan. Sebab bonsai yang ditanam warga sebagian berusia minimal tiga tahun hingga puluhan tahun. Keunikan pembuatan bonsai yang cukup lama menjadi tempat edukasi bagi pecinta bonsai. Terlebih keberadaan komunitas bonsai terdiri dari pelatih pembuat bonsai (trainer), pembuat pot. Pecinta bonsai bahkan bisa membeli pot sesuai keinginan.

Pengembangan desa wisata bonsai menurut I Made Suwarno menjadi bagian inovasi desa. Pada masa kepemimpinan I Ketut Sinda Atmita selaku kepala desa, kreativitas warga terus didukung. Penggunaan dana desa (DD) untuk pengembangan desa wisata bonsai sekaligus menjadi keseriusan pemerintah desa mewujudkan tujuan tersebut.

“Keseriusan pemerintah desa dalam mewujudkan desa wisata bonsai akan menjadi cara mewujudkan desa,” beber I Made Suwarno.

Warga yang memiliki bonsai menurutnya akan mendapatkan penghasilan tambahan. Sebab sebagian bonsai yang sudah terbentuk memiliki harga yang cukup fantastis. Sebab harga bonsai lengkap dengan pot bisa dijual dengan harga mulai Rp500ribu hingga Rp50juta. Semakin unik, usia bonsai yang dijual akan meningkat terlebih bonsai tersebut diikutkan dalam kontes atau pameran.

Wayan Bude (kanan) pembuat pot bonsai yang digunakan para pecinta bonsai sebagai bagian mewujudkan desa wisata bonsai di Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang,Lampung Selatan, Minggu (23/2/ 2020). -Foto: Henk Widi

Wayan Bude, pembuat pot dan pecinta bonsai mengaku desa wisata bonsai memberi dampak positif. Sebab sebagian warga mulai membudidayakan bibit bonsai untuk mendapatkan bonsai yang bagus tanpa merusak alam. Pesanan pot bonsai juga semakin meningkat dengan harga Rp500ribu hingga jutaan rupiah.

“Saya sebagai pot bonsai semakin banyak mendapat permintaan dan akan mempercantik suasana desa,” bebernya.

Pengembangan desa wisata bonsai mendapat dukungan Madroi, Camat Ketapang. Ia menyebut inovasi desa dalam pengembangan wisata akan mendukung kunjungan ke desa itu. Sebab sebagai desa yang dikenal dengan ciri khas seperti kampung adat di Bali bonsai semakin menambah keindahan.

Komitmen Desa Sumber Nadi sebagai desa wisata bonsai menurutnya harus tetap dijaga. Sebab sebagai desa wisata sejumlah sarana pendukung harus lengkap. Sebuah destinasi wisata menurutnya harus memiliki sapta pesona dan daya dukung yang baik. Daya dukung tersebut meliputi Atraksi, Amenitas dan Aksebilitas (3A).

“Selain sebagai desa wisata bonsai keindahan alam dan desa seperti di Bali bisa menjadi daya tarik,” tegasnya.

Sebagai desa wisata bonsai, konsistensi warga menurutnya harus dijaga. Sebab promosi yang cukup gencar harus diwujudkan dengan penataan desa yang baik. Keberadaan desa wisata bonsai sangat terdukung oleh keberadaan komunitas Nadi Bonsai yang akan menjadi pusat edukasi bonsai di Lamsel. Sembari belajar pecinta bonsai bisa melihat keindahan desa yang keindahannya seperti di Bali tersebut.

Lihat juga...