Tenaga Kesehatan Indonesia Terkendala Masuki Pasar Global

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Dengan menghilangnya batasan negara dalam hal lapangan pekerjaan, peluang tenaga kerja bidang kesehatan Indonesia untuk bekerja di negara lain terbuka lebar. Tapi sayangnya, masih banyak kendala yang dihadapi oleh para tenaga kerja kesehatan Indonesia. 

Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Dr. Kuntjoro AP, MARS menyebutkan kebutuhan tenaga kesehatan berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan industri kesehatan.

“Kebutuhan akan tenaga kerja kesehatan dari negara lain itu besar. Sebagai contoh, selama 10 tahun terakhir, kebutuhan caregiver dari Taiwan dan Jepang masing-masing adalah 10.000 orang dan dua ribu orang,” kata Kuntjoro saat menjadi pembicara pada acara IHEX 2020 di JCC Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Ia juga menyatakan, Amerika Serikat, Australia, beberapa negara di wilayah Timur Tengah, juga membutuhkan tenaga kerja kesehatan serupa.

“Seharusnya ini bisa menjadi peluang bagi tenaga kerja kesehatan Indonesia untuk mendapatkan pengalaman dan penghasilan di negara orang lain. Tapi angka menunjukkan, kebutuhan tersebut, tidak bisa terpenuhi oleh Indonesia,” ujarnya.

Kuntjoro menyebut ada beberapa kendala yang menyebabkan sumber daya manusia bidang kesehatan Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

“Yang pertama, saya lihat, adalah terkait motivasi untuk bekerja di luar negeri dari mereka itu kurang,” ungkapnya.

Dan bagi yang termotivasi, masih harus melewati persaingan yang lebih ketat dengan sumber daya manusia bidang kesehatan dari negara lainnya.

“Ada beberapa kasus, saat tenaga kerja kita bersaing dengan tenaga kerja Philipina, pihak calon pengguna lebih cenderung memilih yang dari Philipina,” ucapnya lebih lanjut.

Selain memiliki perbedaan budaya yang meliputi disiplin dan dedikasi kerja, juga ada ada masalah pada kemampuan bahasa.

“Negara-negara di ASEAN, selain Indonesia, sudah mewajibkan tenaga terampil mereka untuk belajar bahasa Indonesia. Sayangnya, tenaga terampil Indonesia tidak mau belajar bahasa mereka. Kalaupun ada,  angkanya sangat sedikit,” ungkap Kuntjoro.

Ia melanjutkan, masalah yang paling besar berikutnya adalah terkait perbedaan pengetahuan.

“Adanya perbedaan kurikulum pendidikan dan kompetensi yang lebih tinggi terkait bidang kesehatan di negara lain, menyebabkan tenaga kerja kesehatan Indonesia, sulit untuk memasuki pasar negara lain,” pungkasnya.

Lihat juga...