Terbatas Dana, PAUD di Sikka Ini Tetap Bina Anak Berkebutuhan Khusus

Editor: Makmun Hidayat

 MAUMERE — Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Karya Ilahi di Kelurahan Waioti kota Maumere Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu sekolah yang mumpuni dalam mendidik anak berkebutuhan khusus.

PAUD yang pernah dikunjungi isteri Wakil Presiden Jusuf Kalla kala itu tepatnya bulan April 2018, tak terasa sudah memasuki usia 11 tahun dan tetap berjalan dalam keterbatasan sarana dan prasarana.

“Bulan Maret ini kami sudah 11 tahun berkarya dimana di ulang tahun ini kami mengusung tema Berkarya Nyata Tanpa Banyak Bicara,” kata pendiri PAUD Karya Ilahi di kota Maumere, Ursula Maria, Kamis (13/2/2020).

Ursula Maria pendiri PAUD Karya Ilahi di Maumere, yang melayani anak berkebutuhan khusus saat ditemui di sekolahnya, Kamis (13/2/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ursula mengatakan, tema ini dipilih karena pelindung sekolah ini St. Yosep yang tidak banyak bicara dan selain itu merefleksikan sekolah ini yang menerapkan prinsip tidak perlu bicara teoritis dan membubung tinggi tapi berbuat nyata bagi perkembangan keterampilan anak.

Teori dalam kenyataan di lapangan dalam menerapkannya kadang tidak sesuai sehingga pihaknya harus membuat modifikasi metode pembelajaran supaya dapat bermanfaat bagi anak.

“Kami selama ini bekerja untuk membiayai diri sendiri. Ada subsidi silang dimana mengandalkan sumbangan orangtua murid. Orangtua yang mampu memberikan lebih dan yang tidak mampu digratiskan,” tuturnya.

Ruangan belajar sebanyak 6 ruangan dengan ukuran 2X3 meter terang Ursula, dimana ada 2 ruangan yang disekat lagi dengan ukuran yang lebih kecil hingga menjadi 6 ruangan belajar.

Jumlah murid 30 orang dan guru 8, sebutnya, ditambah satu orang bagian tata usaha dan satu disabilitas netra yang masih bisa melihat namun hanya dalam jarak 2 meter dimana dirinya bekerja sebagai petugas kebersihan selain juga mengembangkan keterampilan menganyam pot bunga.

“Kita memberdayakann sekaligus memperkerjakannya dengan harapam ada yang melihar potensi dia dan tertarik memberdayakannya. Ada hal-hal yang di luar kemampuan kita  tetapi bisa kita lakukan,” tuturnya.

Metode pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah ini yakni satu kelas, satu guru, satu siswa namun guru Ursula, ada yang dua guru satu siswa dan semua muridnya anak-anak berkebutuhan khusus.

Pihaknya juga sedang merancang Sabtu inklusi dan sudah menyurati beberapa sekolah terdekat agar bisa mengirim muridnya untuk bisa bersekolah bersama di tempat ini.

“Alangkah indahnya perbedaan tanpa membedakan.Itu yang  kita angkat dalam Sabtu inkkusi ini. Kami berharap dengan adanya Sabtu inklusi ini anak-anak berkebutuhan khusus juga bisa bermain dan belajar dnegan anak-anak normal atau sebaliknya,” ujarnya.

Fransiska salah seorang warga kota Maumere yang keponakannya bersekolah di tempat ini mengaku sangat salut dengan semangat dan spirit sekolah ini yang terus berkarya meskipun minim fasilitas dan dana.

Menurut Fransiska, apa yang dilakukan sekolah ini patut ditiru karena pendirinya berani mendirikan sekolah yang jarang sekali ada di Kabupaten Sikka dan tidak mengharapkan bantuan pemerintah.

“Saya salut dengan Ibu Ursula yang tidak mau menjadi guru dan pegawai negeri mapan dan lebih memilih mendirikan sekolah dan mengabdi bagi anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Pemerintah, kata Fransiska, harus memerhatikan pendidikan dasar seperti PAUD dan membantu mengalokasikan dana dari APBD sebab pemerintah kabupaten memiliki tanggung jawab mengelola pendidikan dasar hingga jenjang sekolah manengah pertama atau sederajat.

Lihat juga...