Terus Meningkat, Pasien DBD Terpaksa Dirawat di Lorong RS TC Hillers Maumere

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Meningkatnya jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD), membuat para pasien yang dirujuk ke RS TC Hillers Maumere, Nusa Tenggara Timur, terpaksa dirawat di lorong ruangan Unit Gawat Darurat (UGD).

Pemerintah kabupaten Sikka, pun telah menambah sebuah ruangan di gedung Poliklinik RS TC Hillers Maumere dengan menempatkan 9 tempat tidur lipat bertuliskan Kementerian Sosial Republik Indonesia.

“Kita mengantisipasinya dengan menambah ruangan dan tempat tidur sebanyak 9 unit untuk pasien DBD anak-anak,” kata Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, Selasa (18/2/2020).

Saat mengunjungi RS TC Hillers Maumere, Robi, sapaannya, menyebutkan pihaknya juga akan menambah tenaga medis di rumah sakit yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) ini.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, saat mengunjungi pasien DBD di RS TC Hillers Maumere, Selasa (18/2/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Tenaga medis akan diambil dari fasilitas kesehatan lain, prosedurnya akan diatur oleh dinas kesehatan, agar penanganan pasien DBD bisa maksimal dilakukan.

“Total penderita DBD sudah hampir menembus angka 600 kasus, karena situasi cuaca yang tidak menentu. Terkadang hujan dan panas sehingga kampanye untuk pencegahan terus kita lakukan,” tegasnya.

Jumlah korban yang sudah meninggal dunia mencapai lima orang anak, kata Robi, dan soal penumpukan pasien di UGD pemerintah akan normalkan, sehingga pasien anak-anak akan dipindahkan ke sebuah ruangan di gedung Poliklinik.

Dokter  Clara Y. Francis, Direktur RS TC Hillers Maumere membenarkan melubernya pasien hingga memenuhi lorong di ruangan UGD rumah sakit ini akibat melonjaknya pasien DBD.

Clara menyebutkan, semua ruangan perawatan yang ada di rumah sakit ini sudah penuh, karena banyak sekali pasien demam berdarah yang setiap hari dirujuk ke  rumah sakit ini.

“Kapasitas tempat tidur di ruangan perawatan sudah penuh, sehingga pasien yang datang termasuk pasien DBD, terpaksa ditempatkan di lorong UGD. Kapasitas ruangan rawat inap sudah penuh,” ungkapnya.

Manajemen rumah sakit, kata Clara, selalu memantau bila ada pasien yang keluar, pasien baru yang membutuhkan perawatan akan segara dimasukan ke ruang rawat inap yang ada.

“Kita berharap, para pasien demam berdarah yang bisa ditangani di Puskesmas sebaiknya ditangani di sana dahulu, karena ruangan rawat inap kami penuh. Selain itu, tenaga medis juga tidak mencukupi kalau semua pasien harus dirawat di sini,” ungkapnya.

Lihat juga...