Tingkatkan Ekonomi Pesisir, KKP Garap Budidaya Lobster 

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong perkembangan industri budidaya lobster nasional. Hal tersebut dalam rangka memperluas lapangan kerja bagi masyarakat pesisir.

“Budidaya benih lobster jadi masukan dan keinginan masyarakat karena dianggap strategis dan memberikan peran ganda, untuk kepentingan ekonomi masyarakat pesisir,” ungkap  Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya,Jumat (14/2/2020).

Dikatakan, budidaya lobster  berdampak positif bagi lingkungan yakni sebagai buffer stock lobster, melalui restocking sesuai fase atau siklus hidup lobster yang aman sesuai relung ekologisnya.

Pemanfaatan nilai ekonomi dan perlindungan kelestarian sumber daya benih lobster. Namun demikian menurut Slamet, pengembangan industri budidaya nasional masih membutuhkan waktu dan beberapa pekerjaan rumah yang harus dicarikan solusinya.

Dia menyebutkan ada enam tantangan dalam pengembangan industri budidaya, termasuk lobster, yakni masalah pakan, benih, penyakit, produktivitas, performa produk dan tata niaga pasar. Untuk pembenahan hal tersebut, diperlukan waktu dua tahun.

“Dalam waktu maksimal dua tahun ini, keenam tantangan ini bisa clear dibenahi dengan melibatkan kerjasama antar stakeholders,”tukasnya.

Untuk itu, Ia mendorong kebijakan industri budidaya lobster nasional, menjadi agenda prioritas nasional, bukan hanya sektoral dalam hal ini KKP saja. Tetapi melibatkan antar kementerian lainnya.

KKP sendiri saat ini tengah memetakan spot-spot ketersediaan sumber pakan segar seperti kekerangan yang mendekati kawasan budidaya dengan membangun sentra budidaya kekerangan di sekitar kawasan budidaya lobster untuk suplai kebutuhan pakan segar, disamping mendorong UPT untuk melakukan perekayasaan formula pakan buatan yang efisien.

Hal tersebut melalui penjajakan kerjasama dengan Univetsitas Tasmania dalam improve teknologi perbenihan.

Ketiga, kaitannya dengan produktivitas dan pengendalian penyakit, KKP akan mendorong UPT melakukan riset dan perekayasaan teknologi yang fokus pada peningkatan produktivitas dan SR, begitu halnya dengan kualitas atau performa produk hasil panennya.

Sementara terkait penataan di hilir meliputi tata niaga pasar sebagai upaya meningkatkan nilai tambah bagi pembudidaya  produk lobster ukuran konsumsi asal Vietnam memiliki harga jual yang tinggi dan terpaut jauh dengan Indonesia.

Menurut Slamet ini yang perlu dibenahi terutama memperbaiki performa produk hasil budidaya dan mengefisiensikan rantai distribusi pasarnya.

Untuk mempersingkat perputaran ekonomi dan pelibatan lebih banyak lagi tenaga kerja, KKP akan menerapkan manajemen produksi dengan pola segmentasi.

Saat jelasnya Ditjen Perikanan Budidaya telah menyiapkan pedoman teknis sebagai acuan pembudidayaan lobster berkelanjutan.

Pedoman ini juga mengatur bagaimana kegiatan pembudidayan lobster dengan mempertimbangkan pemetaan lokasi, registrasi pembudidaya lobster, penetapan quota tangkap benih dan pengaturan re-stocking.

Untuk mempercepat alih terap teknologi, KKP juga akan mendorong percontohan inovasi teknologi budidaya lobster di beberapa lokasi. Untuk itu dia, mengajak seluruh stakeholders, utamanya para pengusaha swasta nasional untuk berperan meningkatkan investasi pada industri budidaya lobster nasional.

“Kita harus mampu mengungguli Vietnam sebagai eksportir lobster terbesar dunia dengan nilai devisa yang besar dan itu mengandalkan hasil budidaya. Kita, punya sumber daya benih melimpah dan kini saatnya untuk bisa mandiri menjadikan sebagai sumber ekonomi,” pungkas Slamet.

Lihat juga...