UNDIP Ciptakan Tangan Mekanik untuk Disabilitas

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Setelah berhasil meluncurkan tangan bionik, Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI PT) Teknologi Kesehatan Center for Bio Mechanics, Bio Material, Bio Mechatronics, and Bio Signal Processing (CBIOM3S) Undip, kini memperkenalkan tangan mekanik bagi penyandang disabilitas.

Ada sejumlah perbedaan antara tangan mekanik dan bionik, meski sama-sama diperuntukkan bagi penyandang disabilitas. Di antaranya dari kekuatan beban, bahan yang digunakan, teknologi, hingga harga.

“Secara teknologi, lebih tinggi tangan bionik, karena sudah dilengkapi sensor yang mampu menangkap gerak otot tangan, sehingga jari-jari pada tangan bionik bisa digerak-gerakkan untuk memegang dan mengangkat benda, dengan beban maksimal delapan kilogram,” papar Ketua PUI PT Teknologi Kesehatan CBIOM3S Undip, Rifky Ismail, saat ditemui di Laboratoirum Terpadu Undip, Tembalang, Semarang, Kamis (20/2/2020).

Menggunakan teknologi 3D Printer, sejumlah komponen dapat dihasilkan dan dirangkai dalam proses pembuatan tangan mekanik dan bionik di Laboratoirum Terpadu Undip, Tembalang, Semarang, Kamis (20/2/2020). –Foto: Arixc Ardana

Penggunaan tangan bionik 2020, ini masih terbatas bagi penyandang disabilitas yang masih memiliki lengan di bawah siku, karena menggunakan otot di bawah siku sebagai perintah kerja.

Tangan bionik atau bionic hand 2020 tersebut, merupakan generasi ke empat. Sebelumnya, sudah ada bionik Asto, Bimo dan Albiondi.

Harga satu unit tangan bionik 2020, antara Rp85 juta hingga ratusan juta, tergantung kompleksitas pembuatan, bahan baku tangan, baterai, soket, motor penggerak hingga sensor yang digunakan.

“Harganya relatif mahal, karena ada sejumlah item yang belum bisa kita buat sendiri, dan harus impor, seperti sensor. Selain itu, kita juga menyesuaikan permintaan konsumen. Misalnya terkait bahan baku tangan, apakah menggunakan karbon atau bahan lain, serta teknologi tambahan,” tambah Gilar Pandu Annanto, selaku Chief Operation Officer (COO) perusahaan startup PT Karya Mandiri Diponegoro, yang membantu pengembangan dan penjualan produk.

Diakui, dengan harga minimal Rp85 juta, bagi sebagian orang, cukup tinggi. Hal tersebut mendorong PUI PT Teknologi Kesehatan CBIOM3S Undip, juga melakukan pengembangan tangan mekanik, bagi penyandang disabilitas.

“Fungsinya hampir sama, namun ada sejumlah perbedaan. Misalnya, jari-jari tangan digerakkan secara mekanik, ketika siku tangan kita tekuk, jari-jari tersebut akan menggenggam, sehingga bisa untuk memegang benda,” papar Gilar.

Chief Operation Officer (COO) Gilar Pandu Annanto, menunjukkan tangan mekanik untuk disabilitas, karya PUI PT Teknologi Kesehatan CBIOM3S Undip di Laboratoirum Terpadu Undip, Tembalang, Semarang, Kamis (20/2/2020). -Foto: Arixc Ardana

Selain itu, kekuatan angkat beban tangan mekanik juga berbeda, hanya lima kilogram, lebih rendah tiga kilogram dari tangan bionik.

“Sementara untuk harga juga beda, antara Rp3 -10 juta. Selisih harga ini, juga tergantung dengan bahan dan spesifikasi yang diiingkan oleh konsumen,” terangnya.

Uniknya, selain penggunaan karbon, mereka juga menawarkan enceng gondok sebagai bahan tangan mekanik atau bionik. Dijelaskan, enceng gondok tersebut dihasilkan oleh UMKM di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

“Jadi, bahan enceng gondok ini diperoleh dari Danau Rawapening, Ambarawa, kemudian diolah oleh salah satu UMKM di Magelang, dibentuk semacam tikar enceng gendok. Enceng gondok lembaran ini kemudian kita cetak sesuai kebutuhan dan dikeraskan, sehingga kuat dan keras,” paparnya.

Pihaknya berharap, dengan adanya tangan bionik atau pun tangan mekanik tersebut, dapat membantu masyarakat penyandang disabilitas, sehingga mereka mampu beraktivitas seperti umumnya.

“Sementara kita baru mengembangkan untuk tangan, namun tidak menutup kemungkinan juga melakukan riset dan penelitian untuk kaki mekanik atau kaki bionik,” pungkas Gilar Pandu.

Lihat juga...