Usaha Demplot Ternak Sapi Argomulyo Mulai Menampakkan Hasil

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Memasuki tahun ke-3, usaha demplot ternak sapi yang digagas Yayasan Damandiri melalui KUD Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo di kelompok ternak Ngudi Rejeki dusun Kaliberot Argomulyo Sedayu Bantul semakin menampakkan hasil yang menggembirakan.

Ketua kelompok ternak Ngudi Rejeki dusun Kaliberot Argomulyo Sedayu Bantul, Rakimin, (dok CDN)

Dari total sebanyak 15 ekor bibit sapi bantuan Yayasan Damandiri melalui program Desa Cerdas Mandiri Lestari yang dikelola warga sejak akhir 2017 lalu, hingga saat ini tercatat sudah ada sebanyak 4 ekor sapi yang melahirkan anakan. Jumlah itu meningkat dibandingkan pada periode akhir 2019 lalu. Dimana baru 3 ekor sapi tercatat melahirkan anakan.

“Di awal tahun 2020 ini ada tambahan satu ekor sapi yang melahirkan anakan. Sehingga total sudah ada 4 ekor sapi yang berhasil berkembang biak. Ini kabar gembira bagi kelompok ternak Ngudi Rejeki,” ujar ketua kelompok ternak Ngudi Rejeki dusun Kaliberot Argomulyo Sedayu Bantul, Rakimin, kepada Cendananews Rabu (26/02/2020).

Rakimin menyebutkan, selain 4 ekor sapi yang telah berhasil melahirkan anakan, hingga awal tahun 2020 ini sebanyak 7 ekor sapi bantuan juga tercatat sedang bunting. Sehingga jika berjalan lancar tanpa kendala, pada tahun 2020 ini akan ada tambahan 7 ekor anakan sapi lahir di kelompok ternak Ngudi Rejeki.

“Dengan usia kebuntingan bermacam-macam. Walaupun memang 3 ekor sapi indukan belum di cek secara langsung oleh dokter hewan. Namun kemungkinan besar ke tiganya sudah bunting,” katanya.

Dengan kelahiran 4 ekor anakan sapi tersebut, maka hingga saat ini total jumlah ternak yang ada di kelompok ternak Ngudi Rejeki berjumlah 18 ekor. Pasalnya dari 15 bantuan sapi indukan, beberapa waktu lalu terdapat 1 ekor sapi mengalami sakit parah sehingga akhirnya harus dipotong.

“Sesuai kesepakatan dengan pihak koperasi dan yayasan, setiap anakan yang lahir bisa dijual oleh peternak. Nanti hasilnya dibagi antara peternak dan koperasi. Dimana untuk anakan pertama, hasilnya 80 persen untuk peternak dan 20 persen untuk koperasi. Sedangkan untuk anakan ke dua, 70 persen untuk peternak dan 30 persen untuk koperasi,” ungkapnya.

Dengan sistem bagi hasil ini, para peternak di desa Argomulyo jelas lebih diuntungkan. Pasalnya satu ekor anakan sapi betina umur 2-3 bulan harganya bisa mencapai Rp7-8 juta. Sementara untuk anakan jantan harga jualnya bisa lebih tinggi, mencapai Rp9-10juta tergantung kondisi ternak.

“Biasanya jika lahir, para peternak akan membeli sendiri anakan tersebut. Sehingga mereka bisa punya anakan sapi secara pribadi sepenuhnya. Bisa untuk tabungan, jika sewaktu-waktu butuh biaya atau keperluan bisa dijual,” ungkapnya.

Lihat juga...