Warga Keluhkan Bau Sampah dari TPS Lapangan Miring

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Warga di lingkungan Lapangan Miring, RW 001, Kelurahan Jakasampurna, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan bau busuk yang ditimbulkan dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah di sekitar lingkungan setempat.

Hal tersebut akibat pengangkutan sampah yang dilakukan UPTD Lingkungan Hidup (LH) Kecamatan Bekasi Barat dianggap tidak maksimal. Padahal setiap Kepala keluarga (KK) sudah ditarik Rp8000 setiap bulan untuk biaya angkutan sampah.

“Banyak warga mengeluhkan, karena pengangkutan yang dilakukan pihak UPTD tidak tuntas. Setiap datang truk pengangkut masih menyisakan banyak sampah, artinya tidak maksimal,” ujar salah satu Ketua RT setempat kepada Cendana News, Rabu (19/2/2020).

Dia mengaku mendapat laporan dan keluhan warga, karena selama ini mereka terus diuber untuk bayar Rp8000/bulan. Namun pengangkutan sampah tidak maksimal.

Menurutnya, tarikan iuran tersebut tidak besar tetapi kalikan saja berapa jumlah KK di wilayah RW001. Dia mengatakan KK di lingkungan tersebut lebih dari 500 KK.

Ketua RW 001, Kamiriyanto, mengakui bahwa tarikan Rp8000 untuk biaya angkutan sampah dari UPTD OH Bekasi Barat. Dia mengatakan biaya tersebut lebih rendah dibanding wilayah lainnya, Rabu (19/2/2020). -Foto: M. Amin

Kamiriyanto, Ketua RW 001, Kelurahan Jakasampurna, dikonfirmasi terpisah terkait hal tersebut membenarkan adanya tarikan Rp8000 per KK untuk biaya ke UPTD LH yang melakukan pengangkutan sampah dari TPS ke tempat pembuangan akhir di Bantargebang.

Dia menyebut pungutan yang dilakukan untuk setor ke UPTD LH Bekasi Barat tersebut kecil jika dibandingkan di tempat lainnya.

“Kesepakatan tarik Rp8000 itu sudah murah sebenarnya jika dibanding dengan tempat lainnya. RW hanya memfasilitasi, dan itu Rp8000/KK semua disetor ke UPTD,” tegas Kamiriyanto.

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa fasilitas TPS yang digunakan di lingkungan tersebut adalah lahan milik perusahaan yang belum di pakai. Dikatakan lingkungan RW 001 sendiri tidak memiliki lahan. Belum tentu rumah di lingkungannya mengizinkan tempat tersebut digunakan untuk TPS.

Sementara, Udin, petugas di TPS yang melakukan pemilahan sampah, mengatakan mobil pengangkut milik UPTD LH Bekasi Barat, datang tiga hari sekali. Dia mengakui dalam satu minggu mobil sampah datang tiga kali.

“Memang setiap angkut banyak sisanya, tergantung volume sampah, dan mobilnya hanya satu kalo pas banyak sampah tentu sisa, kadang juga ga sisa tapi itu jarang,” tukasnya.

Lihat juga...