25 TAHUN LALU, PRESIDEN SOEHARTO PREDIKSI KONDISI INDONESIA DI 2020

25 Tahun Lalu, Presiden Soeharto Prediksi Kondisi Indonesia di Tahun 2020

“Jika pemuda nanti kesensem dengan produk yang murah namun hasil produksi luar negeri atau impor, hancur daripada bangsanya. Karena produk dalam negeri tidak ada yang beli, pabriknya tutup, lantas semuanya tidak bisa bekerja, tidak bisa makan,”

Presiden Soeharto dalam Temu Wicara Pencanangan Gerakan Nasional Pelestarian dan Pengamalan Nilai Kepahlawanan Surabaya, 23 November 1995 menyebutkan, pelaksanaan kirab remaja dimaksudkan untuk menggembleng para remaja menjadi kader-kader bangsa. Ini dilakukan supaya para kirab remaja menjadi kader-kader yang bisa turut mempersatukan bangsanya.

Dari tiap-tiap provinsiditunjuk 28 orang, masing-masing dari 27 peserta dikirim ke seluruh Provinsi dan satu menjadi tuan rumah. Hal tersebut ditujukan agar setiap provinsi mempunyai mata dan telinga untuk mengetahui kondisi dan keadaan dari seluruh wilayah Indonesia.

Setelah selesai dan kemudian berkumpul, anggota kirap remaja dapat mengadakan diskusi dan menyampaikan apa pengalamannya yang telah disaksikan. Mulai dari kebudayaan maupun juga kekuatan dari pada masing-masing provinsi dapat dianalisa.

“Ini akan bisa menemukan cara-cara yang terbaik untuk menyempurnakan, yang kedepan akan menjadi modal yang baik dalam diri sebagai kader-kader bangsa,” terang Presiden kedua Republik Indonesia, Jenderal Besar HM Soeharto.

Pak Harto menekankan, yang penting pertama akan timbul dari jiwa kepahlawannya untuk mencintai tanah airnya. Kalau sudah mencintai tanah airnya, pemuda diyakini tidak akan melepaskan tanggung jawabnya untuk dapat mengabdikan dirinya kepada negara dan bangsa, baik saat membangun maupun dalam keadaan bahaya.

“Lebih-lebih dalam menghadapi globalisasi yang sekarang, kita akan melakukan liberalisasi perdagangan bebas untuk negara berkembang pada tahun 2020, 25 tahun lagi. Anak-anak remaja sekarang, mungkin anak-anak pelajar sekarang harus disiapkan benar-benar untuk mencintai tanah air, untuk mencintai produk dalam negeri,” sebut Bapak Pembangunan.

Hal ini ditujukan agar saat persaingan bebas, pemuda yang hidup di tahun 2020 akan menjadi benteng untuk mempertahankan dari pada kelangsungan hidup negara dan bangsa dalam menghadapi banjirnya barang-barang impor.

“Jika pemuda nanti kesensem dengan produk yang murah namun hasil produksi luar negeri atau impor, hancur daripada bangsanya. Karena produk dalam negeri tidak ada yang beli, pabriknya tutup, lantas semuanya tidak bisa bekerja, tidak bisa makan,” sebut Pak Harto.

Pak Harto mengingatkan semua kalangan untuk dapat mempersiapkan kekuatan cinta tanah air. Mulai dari dunia pendidikan, terlebih dari perguruan tinggi.

“Bukan kita curang tapi kita menyelamatkan negara. Kita harus meningkatkan daya saing. Tapi andaikata tidak, senjatanya yakni mulai sekarang adalah nasionalisme dan mencintai tanah air, mencintai produk dalam negeri harus mulai dari sekarang,” tegas Pak Harto.

Narasi ini bagian dari Video Temu Wicara Presiden Soeharto pada Pencanangan Gerakan Nasional Pelestarian dan Pengamalan Nilai Kepahlawanan di Surabaya, 23 November 1995

Lihat juga...