Amirullah Amin: Ada Upaya Pemutarbalikkan Sejarah G30S PKI

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

arsekal Muda TNI-AU (purn) H. Amirullah Amin, saat menjadi pengantar bedah buku 'PKI Dalang dan Pelaku Kudeta G 30 S/1965, Rabu (11/3/2020). Foto: Agus Nurchaliq

KEDIRI — Saat ini sudah banyak upaya-upaya terselubung yang dilakukan untuk memutarbalikkan sejarah terkait peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 (G30S/1965) dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) justru mengaku menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Hal inilah yang kemudian mendasari dibuatnya buku berjudul ‘PKI Dalang dan Pelaku Kudeta G 30 S/1965’ oleh Profesor. Aminuddin Kasdi, MS dan kawan-kawan.

“Latar belakang bapak Aminuddin cs menulis buku ini, karena beliau terpanggil untuk menulis tentang fakta sejarah yang menyatakan bahwa sebetulnya dalang dan pelaku dari peristiwa G 30 S/1965 adalah PKI,” ucap Marsekal Muda TNI-AU (purn) H. Amirullah Amin, saat menjadi pengantar bedah buku ‘PKI Dalang dan Pelaku Kudeta G 30 S/1965’ dalam peringatan 55 tahun teror PKI di Kanigoro, yang digagas Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) dan Gerakan Bela Negara (GBN), Rabu (11/3/2020).

“Jadi buku ini memang ditulis berdasarkan fakta sejarah dan kejadian-kejadian di lapangan,” imbunya.

Menurut Amirullah, Bapak Aminuddin sebagai penulis buku tersebut merasa terpanggil karena adanya pemutarbalikan sejarah yang mengatakan bahwa PKI tidak terlibat didalam pemberontakan G 30 S dan justru menjadi korban dari peristiwa tersebut.  Tetapi sebenarnya mereka lupa bahwa ada hukum kausal sebab dan akibat terjadinya korban itu.

“Mereka tidak membicarakan atau menulis tentang sebelum kejadian G30S dimana mereka sudah banyak melakukan pembunuhan. Tetapi yang mereka usut adalah pasca G30S karena mereka berusaha untuk meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa TNI dan Islam di Indonesia adalah pelaku yang membuat PKI menjadi korban,” ungkapnya.

Puncaknya, mereka coba menerbitkan undang-undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang isinya seolah-olah nantinya bahwa mereka yang benar, mereka minta rekonsiliasi dan kemudian merasa berhak meminta kompensasi.

“Tapi Alhamdulillah tokoh-tokoh senior termasuk bapak KH Ibrahim Rais kemudian datang ke Mahkamah Konstitusi (MK) agar UU KKR jilid 1 itu dibatalkan dan akhirnya berhasil. Namun sekarang mereka menuntut lagi ingin membuat UU KKR jilid 2,” sebutnya.

Lebih lanjut disampaikan Amirullah, hal yang sebenarnya penting untuk diketahui adalah bahwa komunis di dunia ini sudah hancur, dimana Rusia sudah tidak lagi menggunakan paham komunis sebagai ideologi negaranya, termasuk juga negara-negara di eropa. Meskipun masih ada beberapa negara seperti China, Quba, Venezuela yang menganut ideologi komunis.

“Meskipun boleh dikatakan ideologi komunis sudah tidak berlaku di dunia, tapi kenapa di negara kita ini justru masih tetap eksis dan berusaha muncul kembali. Karena tujuan mereka sebenarnya adalah untuk balas dendam atas kegagalan mereka di tahun yang lampau,” terangnya.

“Jangan sampai generasi tua ini jika sudah meninggalkan dunia ini tidak ada yang meneruskan lagi. Kami inginkan kedepan anak-anak muda yang bisa berbicara didepan yang bisa menjadi garda terdepan untuk menangkis kebangkitan komunis di negara Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...