Banyaknya Penderita Tanpa Gejala Timbulkan Kurva Covid-19 Naik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kurva penderita COVID 19 di Indonesia saat ini adalah fase pertama, yaitu kasus sedang meningkat secara signifikan. Hal ini, diperkirakan, akibat banyaknya penderita yang tidak menunjukkan gejala.

Ketua Satgas COVID 19 Dompet Dhuafa, dr. Yeni Purnamasari, menyatakan, dari angka yang disampaikan per tanggal 30 Maret 2020 pukul 12.00 WIB, kurva Indonesia sedang naik.

“Dinyatakan, ada 1.414 kasus positif, 75 orang sembuh dan 122 orang meninggal yang tercatat dari 31 provinsi. Kalau kita lihat, maka Case Fatality Rate (CFR)-nya adalah 8,62 persen,” kata dr. Yeni saat menemui media melalui aplikasi zoom, Senin (30/3/2020).

Kalau dibandingkan pada skala global, ia menyatakan memang lebih tinggi persentase Indonesia.

“Tercatat 537.899 kasus positif dan 33.966 jiwa yang meninggal di 202 negara. Artinya CFR-nya 6,31 persen,” ungkapnya.

Ia menjelaskan tingginya penyebaran dan paparan di Indonesia diakibatkan karena 80 persen dari orang yang terkena, tidak menunjukkan gejala.

“Karena tidak ada gejala maka orang tersebut tidak melakukan social distancing maupun physical distancing. Kalau yang menunjukkan gejala, biasanya langsung membatasi pergerakan,” urainya.

Oleh karena itu, dr. Yeni, menyatakan pentingnya social dan physical distancing ini dilakukan secara patuh oleh semua masyarakat.

“Kalau tidak dilakukan dengan baik, maka penyebarannya bisa terjadi secara lebih cepat lagi. Saat ini Dompet Dhuafa pun sudah tergabung dengan BNPB serta berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan dinas kesehatan provinsi maupun kota,” ujarnya.

dr. Yeni meminta semua elemen masyarakat untuk bekerja sama dalam melakukan tindak pencegahan COVID 19 ini.

“Kita berharap kurvanya tidak terlalu tinggi. Dan pergerakannya tidak melonjak tinggi. Ini hanya bisa dilakukan jika semua pihak berupaya bersama untuk menerapkan gaya hidup sehat dan bersih,” tandasnya.

Jubir RS Persahabatan, DR. dr. Erlina Burhan, M.Sc, SpP(K), mengingatkan, bahwa pencegahan penyebaran ini bisa dilakukan dengan rutin mencuci tangan, mandi dan secara disiplin tidak menyentuh area muka.

Jubir RS Persahabatan, DR. dr. Erlina Burhan, M.Sc, SpP(K) saat konferensi pers online, Senin (30/3/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Rajin cuci tangan, mandi setelah beraktivitas di luar rumah dan jauhi kerumunan orang, jika memang terpaksa harus keluar rumah,” ucapnya dalam kesempatan terpisah.

Dan ia juga mengingatkan agar semua orang secara sadar untuk melakukan teknik batuk dan bersin yang benar.

“Tutupi mulut dengan tisu, lalu buang tisunya di tempat sampah. Setelah itu cuci tangan. Kalau tidak ada antiseptik, bisa dengan sabun. Karena lemak yang menyelimuti tubuh virus akan hancur dengan sabun. Jangan lupa untuk tetap sehat dengan menerapkan gaya hidup sehat. Makan seimbang dan istirahat cukup,” pungkasnya.

Lihat juga...