Berburu Barang Antik di Kota Lama Semarang

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Ada beragam destinasi menarik di kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah. Tidak hanya wisata sejarah, gedung arsitektur era kolonial Belanda, namun juga barang antik atau jadul. Salah satunya di Galeri Industri Kreatif, yang menempati bangunan milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Letaknya di seberang belakang Gereja Blenduk.

Beragam jenis produk yang dijajakan beragam, mulai dari harga puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah. Mulai dari yang kecil seperti pita kaset, uang koin, kacamata, lukisan, lampu, keris sampai yang besar seperti mesin jahit, televisi, hingga sepeda ontel.

Pada awalnya, pasar tersebut hanya berasal dari komunitas pedagang dan penggemar barang antik, yang setiap minggu ke dua berjualan di sekitar Taman Srigunting. Hingga akhirnya berkembang, dan pasar klithikan buka setiap hari. Seiring dengan program revitaliasi Kota Lama, para pedagang tersebut kemudian direlokasi ke Galeri Industri Kreatif.

Salah seorang pedagang antik, Arifin, tengah membersihkan dagangan miliknya dari debu, di Pasar Barang Antik Kota Lama Semarang, yang kini menempati Gedung Galeri Industri Kreatif, Minggu (22/3/2020). –Foto: Arixc Ardana

Bagi wisatawan yang ingin sekadar melihat atau foto selfie, pun boleh. Tidak hanya barang antik dan jadul, beragam barang tradisional pun ada dengan materi kayu dan bambu. Selain itu, ada juga barang-barang tahun 1980-an hingga 1990-an.

“Ada beragam produk. Soal harga bervariatif, tergantung produknya. Semuanya dilihat dari kondisi barang hingga tahun pembuatan,” papar Arifin, salah satu pedagang antik, Minggu (22/3/2020).

Tidak jarang meski barang yang dijual sama, namun memiliki harga yang berbeda. Hal tersebut tergantung dari keaslian, keunikan, kondisi barang dan lain lain.

Dirinya mencontohkan, setrika arang. Model setrika bermaskot ayam jago, menjadi yang paling diburu. Jumlahnya yang terbatas, membuat setrika kuno ini menjadi buruan kolektor. Demikian juga dengan lampu petromaks, yakni lampu penerangan yang sempat jaya sebelum ada jaringan listrik.

“Umumnya yang beli memang penghobi barang antik, ada juga pengusaha kafe, resto atau hotel. Untuk melengkapi desain interior, mereka mencari barangnya di sini,” lanjutnya.

Selain barang antik, ada juga barang repro. Modelnya lama, namun dibuat baru. Hal tersebut disampaikan, Haris, pedagang lainnya.

“Kita sampaikan ke pembeli kalau ini repro, jadi mereka tidak dikecewakan. Meski repro, tapi kalau kondisinya bagus, juga tidak kalah dengan yang asli,” terangnya.

Sementara di tengah penyebaran virus corona, pihaknya berharap pandemi tersebut bisa segera berakhir, sehingga gairah wisatawan kembali meningkat. Termasuk mengujungi lokasi pasar antik tersebut.

Lihat juga...