Bisnis Ayam Hias, Raup Untung hingga Puluhan Juta

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Keindahan bulu hingga suara khas dari ayam hias, dipercaya mampu menjadi obat pelepas lelah usai bekerja. Tidak hanya itu, tingkah polahnya yang unik, menjadikannya sebagai pilihan masyarakat sebagai hewan peliharaan. Tingginya minat tersebut, menjadikan ayam hias memiliki nilai ekonomis tinggi, sehingga potensial untuk dibudidayakan.

“Harga ayam hias bermacam-macam, tergantung dari jenisnya. Harga tersebut juga bisa berubah lagi, jika ayam hias tersebut pernah juara kontes, anakan juara, atau jumlahnya terbatas. Untuk perbandingan sebutir telur ayam Ringneck Pheasant atau ayam pegar kalung dihargai Rp50 ribu, padahal belum tentu telur ini nantinya berhasil menetas atau tidak,” papar peternak ayam hias, Edi Purwanto , saat ditemui di Wisma Pemda Jateng, Semarang, Senin (9/3/2020).

Peternak ayam hias, Edi Purwanto , menunjukkan ayam ketawa miliknya, saat ditemui di Wisma Pemda Jateng, Semarang, Senin (9/3/2020). -Foto Arixc Ardana

 Diterangkan, ayam Ringneck Pheasant menjadi salah satu jenis ayam hias, yang cukup banyak peminatnya. Berwarna merah kecoklatan, dengan bulu leher berwarna putih mengelilingi leher, sekilas seperti kalung, menjadikan banyak orang yang jatuh hati pada ayam pegar kalung ini.

“Ringneck ini asalnya dari Tiongkok dan Tibet, tapi sekarang sudah banyak diternakkan di daerah Solo dan Bawen Kabupaten Semarang. Jenis ini bertelur sepanjang tahun, bahkan bisa setiap hari satu telur selama tiga bulan. Kalau dikali Rp50 ribu per telur, dari telurnya saja sudah menghasilkan sekitar Rp4,5 juta,” terangnya.

Harga jual ayam hias juga relatif stabil, umumnya dihitung berdasarkan umur, 1-5 bulan. Dirinya mencontohkan untuk ayam American Silkie. Ayam ini memiliki keunikan dengan bulu seperti kapas, yang menutupi seluruh permukaan tubuhnya. Keberadaannya yang terbatas dan jarang dimiliki banyak orang, membuatnya menjadi salah satu primadona ayam hias.

“Harganya cukup lumayan, untuk anakan umur 2 bulan harganya bisa mencapai Rp2 juta. Untuk yang usia dewasa, pasti lebih mahal, bisa lima kali lipatnya,” imbuhnya.

Demikian juga, harga untuk ayam batik, ayam ketawa, ayam cemani hingga ayam Polandia, atau pun jenis ayam hias lainnya. “Selain jenis ayam hias impor, ayam khas asli Indonesia, peminatnya juga cukup banyak seperti ayam Cemani asal Kedu Temanggung Jateng hingga ayam Ketawa asli Sulawesi Selatan,” tandasnya.

Jenis ayam batik asal Italia, juga menjadi incaran penghobi ayam hias, saat dipamerkan di Wisma Pemda Jateng, Semarang, Senin (9/3/2020). -Foto Arixc Ardana

Anggota Komunitas Pecinta Ayam Kontes Indonesia (Komando) Pemprov Jateng tersebut, menuturkan dari segi perawatan ayam hias, relatif mudah, seperti halnya pemeliharaan ayam pada umumnya.

“Kebersihan bulu, menjadi hal terpenting dalam perawatannya. Jadi diusahakan kendang selalu kering, tidak basah atau lembab, karena dapat mendatangkan bakteri, virus serta kutu pada bulunya. Selain itu, juga perlu dimandikan setidaknya seminggu sekali, diberi shampoo. Untuk menjaga kesehatan bulu, juga bisa diberi vitamin  dan minyak ikan,” lanjutnya.

Dari pakan, umumnya dikombinasikan antara dedak, bekatul, jagung halus, beras merah, voer, biji-bijian serta buah-buahan, seperti papaya. “Pakannya bisa dikombinasikan, yang penting cukup kandungan lemak, protein, karbohidrat, mineral dan vitamin. Buah-buahan juga penting, bisa untuk menambah antibiotik tubuh,” jelasnya lebih lanjut.

Sementara, peternak sekaligus penghobi ayam hias lainnya, Ahmad Rifai menuturkan, keberhasilan dalam ternak ayam hias juga dipengaruhi dari faktor penetasan. Dirinya memaparkan, untuk penetasan tidak menggunakan sistem pengeraman, melainkan dengan menggunakan mesin tetas.

American Silkie, jenis ini memiliki keunikan dengan bulu seperti kapas, yang menutupi seluruh permukaan tubuh, saat dipamerkan di Wisma Pemda Jateng, Semarang, Senin (9/3/2020). -Foto Arixc Ardana

Hal tersebut dilakukan agar mempercepat dan memaksimalkan produksi. “Kalau ditetaskan dengan cara pengeraman, sering kali telurnya malah tidak jadi atau gagal menetas. Lebih aman menggunakan mesin tetas, cara sederhana dengan bantuan lampu penerangan bohlam kuning, jangan lampu putih,” terangnya.

Untuk memudahkan, telur-telur tersebut diberi tanda, sehingga bisa diketahui kapan tersebut diletakkan hingga perkiraan waktu menetas. Setelah menetas, anakan ayam hias tersebut juga dipindakan ke kandang kecil dengan lampu lampu penghangat.

“Hampir sama seperti menetaskan ayam pada umumnya. Untuk memperkuat imun tubuh, biasanya saya beri vitamin dan obat, yang sudah dicampurkan pada minuman anakan ayam. Selanjutnya ketika  anakan ayam sudah berusia sekitar 3 bulan, baru kemudian dipindahkan ke kandang besar,” tandasnya.

Rifai menuturkan sejauh ini permintaan ayam hias cukup tinggi. Dalam sebulan, dirinya mengaku bisa mencapai omzet sekitar Rp20 juta rupiah, dari penjulana anakan dan telur ayam hias. “Saya sering ikut pameran, saat ada lomba kontes atau pameran. Jualannya dari mulut ke mulut saja, teman-teman penghobi juga sering kontak saya jika butuh ayam hias,” pungkasnya.

Lihat juga...