BMKG Prakirakan Musim Kemarau Lebih Lambat dari Waktu Normal

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto, M.Sc saat ditemui di Gedung B BMKG Jakarta, Senin (16/12/2019) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan musim kemarau tahun 2020, diprakirakan akan terjadi pada Agustus. Dengan 43,3 persen zona musim akan memulainya lebih lambat dari waktu normal. Dan diprakirakan, musim kemarau tahun ini akan lebih basah dibandingkan musim kemarau tahun 2019.

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto, M.Sc menyatakan, berdasarkan hasil pantauan, hingga akhir Februari 2020, hampir seluruh daerah Indonesia sudah memasuki musim penghujan, yaitu 98 persen.

“Hingga pertengahan Maret 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di dua Samudera yaitu Samudera Pasifik Ekuator dan Samudera Hindia menunjukkan tidak terdapat indikasi akan munculnya anomali iklim El Nino/La Nina dan Dipole Mode (Indian Ocean Dipole Mode),” kata Siswanto saat dihubungi, Rabu (25/3/2020).

Ia memaparkan bahwa Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan wilayah Pasifik tengah dalam kondisi netral dengan indeks Nino 3.4 = 0.41.

“Demikian juga IOD dalam kondisi netral dengan indeks DM adalah -0.29. Sehingga, kita perkirakan kondisi ENSO Netral bertahan hingga Agustus 2020,” ujarnya.

Siswanto menyatakan terdapat peluang potensi terjadinya La Nina pada kuartal akhir tahun 2020.

“Meskipun kecil, kurang dari 33 persen, terpantau potensinya ada di akhir tahun. Kondisi IOD netral juga diprediksi bertahan hingga April 2020. Terdapat peluang meskipun kecil, yaitu 20 persen terjadi Dipole Mode positif pada Mei hingga September 2020. BMKG mengevaluasi perkembangan Status ENSO dan IOD setiap bulan,” ucapnya lebih lanjut.

BMKG memprediksi peralihan angin monsun akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara pada April 2020, lalu wilayah Bali dan Jawa, kemudian sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi pada Mei 2020 dan akhirnya Monsun Australia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada bulan Juni hingga Agustus 2020.

“Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 17 persen diprediksi akan mengawali musim kemarau pada bulan April 2020, yaitu di sebagian kecil wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa. Sebanyak 38.3 persen wilayah akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei 2020, meliputi sebagian Bali, Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi. Sementara, 27.5 persen di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua akan masuk awal musim kemarau di bulan Juni 2020,” papar Siswanto.

Ia menyebutkan jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis Awal Musim Kemarau periode 1981-2010, maka Awal Musim Kemarau 2020 di Indonesia diprakirakan mundur pada 148 ZOM yaitu 43.3 persen, normal pada 128 ZOM yaitu 37.4 persen dan maju pada 66 ZOM yaitu 19.3 persen.

“Apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis Akumulasi Curah Hujan Musim Kemarau periode 1981-2010, maka secara umum kondisi Musim Kemarau 2020 diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 197 ZOM atau 57.65 persen,” ujarnya.

Namun sejumlah 103 ZOM yaitu 30.1 persen, akan mengalami kondisi kemarau yang lebih kering, yaitu curah hujan musim kemarau lebih rendah dari rerata Klimatologi. Dan 42 ZOM atau 12.3 persen akan lebih basah, yaitu curah hujan lebih tinggi dari reratanya.

“Untuk puncak musim kemarau diprediksi, sekitar 9.9 persen daerah Zona Musim akan memasuki puncak musim kemarau pada bulan Juli, sedangkan 64.9 persen pada bulan Agustus dan sekitar 18.7 persen pada bulan September,” pungkasnya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menghimbau para pemangku kepentingan dan masyarakat untuk tetap mewaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih awal, yaitu di sebagian wilayah Bali, Nusa Tenggara, Jawa Barat bagian utara, Jawa Tengah bagian utara dan selatan.

“Perlunya peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya yaitu di sebagian Aceh, sebagian pesisir timur Sumatera Utara, sebagian Riau, Lampung bagian timur, Banten bagian selatan, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah bagian tengah dan utara, sebagian Jawa Timur, Bali bagian timur, NTB bagian timur, sebagian kecil NTT, Kalimantan Timur bagian tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, dan Maluku bagian barat dan tenggara,” kata Dwikorita melalui keterangan tertulis.

Ia juga meminta pemangku kepentingan dan masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan ketersediaan air bersih.

Para pemangku-kepentingan dapat lebih optimal melakukan penyimpanan air pada musim hujan ini untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya di masyarakat melalui gerakan memanen air hujan. Dan terus memantau informasi dari BMKG,” tandasnya.

Lihat juga...