Dharma Wanita FK UB Adakan Ceramah Kesehatan soal Covid-19

Editor: Makmun Hidayat

MALANG — Wabah virus corona atau Covid-19 saat ini telah menjadi isu kesehatan internasional, termasuk di Indonesia. Penyebaran virus yang terbilang cukup cepat tersebut, sedikit banyak membuat masyarakat merasa khawatir.

Menyikapi isu covid-19 tersebut, Dharma Wanita Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB) mengadakan ceramah kesehatan bertajuk ‘Corona Jangan Bikin Merana’.

Alhamdulillah sampai sekarang di Malang belum ada yang positif Covid-19. Tapi paling tidak melalui kegiatan ini harapannya bisa memberikan masukan kepada ibu-ibu supaya lebih sadar, tidak hanya terhadap penyakitnya, tetapi juga terhadap isu-isu yang terus terang saja belum tentu benar dan belum tentu bisa dipertanggungjawabkan isinya,” jelas Ketua Dharma Wanita FKUB, dr. Dini Rachma Erawati, SpRad (K), saat ditemui di lokasi acara Auditorium gedung A FK UB, Jumat (13/3/2020).

Ketua Dharma Wanita FKUB, dr. Dini Rachma Erawati, SpRad (K), menjelaskan acara ceramah kesehatan terkait isu Covid-19 di FK UB, Jumat (13/3/2020). -Foto: Agus Nurchaliq

Menurutnya, berbagai informasi terkait Covid-19 dibahas dalam acara yang dihadiri ratusan ibu-ibu, termasuk juga cara mencuci tangan yang benar sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan dan WHO sebagai salah satu langkah antisipasi penularan virus corona .

Disampaikan Dini, dalam sudut pandang kesehatan, sebenarnya untuk mencuci tangan ada cara dan aturannya. Karena selain tujuannya menjaga kebersih juga untuk menghindari kuman-kuman yang menempel pada tangan.

“Sebenarnya sudah banyak informasi dari Kemenkes atau organisasi terkait, termasuk rumah sakit tentang informasi cara mencuci tangan. Tapi mungkin untuk mencapai ke masyarakatnya masih belum banyak yang tahu, sehingga kita juga masukkan sebagai salah satu upaya preventif kepada masyarakat umum supaya bisa menghindarkan dirinya, keluarganya, lingkungannya dari infeksi penyakit,” ucapnya.

Sesuai arahan dari WHO dan Kemenkes, mencuci tangan yang paling baik adalah dengan menggunakan sabun antiseptik untuk menghilangkan kuman dan harus dengan air yang mengalir supaya tidak ada retensi atau kumannya tidak menempel lagi. Selain dengan sabun bisa juga memakai hand sanitizer.

Selanjutnya, ada waktu atau momen-momen yang tepat untuk cuci tangan, misalnya ketika akan menyentuh bayi,  keluar dari kamar mandi, atau ketika akan makan.

“Apalagi sekarang sedang ada wabah ini, harusnya waktu cuci tangannya jadi lebih banyak. Setelah kumpul bersama teman-teman harus cuci tangan, habis dari luar rumah, habis menyetir harus cuci tangan, habis keluar rumah juga harus cuci tangan,” sebutnya.

Kurang lebih ada 6 langkah dalam mencuci tangan yang baik dan benar, supaya nanti seluruh area dari tangan bisa bersih. Tidak hanya telapak yang dicuci, tapi disela-sela jari, kuku  juga termasuk yang akan dibersihkan.

“Harapannya, melalui ceramah kesehatan bisa memberikan kesadaran kepada diri mereka sendiri agar bisa menjadi budaya sehat bagaimana menjaga kebersihan, dan bagaimana berlaku saat dia sakit. Selanjut bisa memberikan informasi yang tepat kepada keluarga dan lingkungan sekitar terkait covid-19,” tuturnya.

Sementara itu pemateri ceramah kesehatan, dr. Didi Candradikusuma, SpPD, KPTI, mengatakan bahwasannya angka kematian yang disebabkan Covid-19 jauh lebih sedikit dibandingkan SARS dan Mers.

“Angka kematian dari SARS 10 persen, angka kematian dari MERS sebanyak 34 persen, sedangkan Covid-19 itu hanya 3,2 persen,” sebutnya.

Hanya saja, lanjutnya, isu Covid-19 ini menjadi viral karena datangnya di era teknologi, di mana beritanya bisa segera menyebar ke seluruh dunia, sehingga banyak sekali menyebabkan masalah sosial.

Menurutnya, penularan Covid-19 transisi dari manusia ke manusia bisa melalui percikan seperti percikan ludah, percikan bersin, dan percikan saat batuk. Bisa juga karena kontak dekat.

Ada tiga tingkatan status sebelum seseorang dinyatakan positif Covid-19 yaitu Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Suspect. ODP merupakan orang dengan gejala demam, kemudian batuk pilek ringan, tidak ada pneumonia meskipun sudah pergi ke negara terjangkit.

“Orang seperti ini tidak perlu di isolasi, pasien cukup dirawat jalan di rumah. Tapi hati-hati di rumah harus pakai masker dan menjaga kontak fisik dengan orang-orang di rumah serta tidak perlu diisolasi,” terangnya.

Sedangkan PDP orang ini memiliki gejala demam, batuk, pilek nyeri tenggorokan. Kemudian ada pneumonia atau radang paru-paru.

“Jadi kalau ada batuk pilek, demam, sebaiknya diperiksa foto toraksnya. Ada riwayat pernah melakukan perjalanan ke negara terjangkit,” ucapnya. seraya mengatakan konsekuensi PDP pasien harus dirawat dan diisolasi.

Lihat juga...