Gulma

CERPEN GANDI SUGANDI

AKU sebulir biji rumput grinting. Pagi ini untuk persiapan nanti siang yang terik, sengaja makan hara lebih banyak serta lebih banyak menyerap air di tanah yang lembap terkena embun.

Saat-saat ini sedang kemarau, aku selalu takut saat siang hari karena tanah yang menjadi tempat tinggalku menjadi hangat bahkan sesekali panas—ya itulah waktuku untuk bergulat hidup atau mati.

Hari ini aku selamat, siang telah berlalu, waktu telah sore, sinar mentari berwarna oranye. Kemudian saat senja, aku kembali memakan unsur hara di permukaan tanah sampai kenyang, juga minum agar di saat malam tak kelaparan sehingga bisa tidur pulas.

Aku sudah berminggu-minggu seperti ini untuk benar-benar bertahan, tak tahu kapan akan berakhir. Aku sangsi bila mengecambahkan diri. Kalau aku memaksakan, ternyata kemarau masih lama, dari mana mendapatkan cukup minum? Bukankah terik matahari tak dapat dilawan?

Dalam kesendirianku selama ini aku tak henti berdoa agar hujan jatuh. Aku pun ingin tumbuh hidup. Ingin melihat burung terbang, ingin melihat mereka yang suka mampir, dan tentunya ingin menatap langit yang biru itu.

Sebelumnya, sekian minggu aku terkandung di badan ibu, bersama banyak saudara sekeluarga besar yang nyaris menutupi taman yang seluruh permukaannya bertabur batu kerikil.

Tetapi ketika itu di pertengahan musim hujan, atas suruhan bapak pemilik taman depan halaman rumah ini, tukang kebun mencerabuti kami sampai akar agar tak beranak pinak lagi.

Kami ditumpuk, diguyuri bensin. Saat korek api menyala, membaralah api. Kami marah tetapi percuma karena hanya sebagai makhluk diam. Tetapi ibuku beruntung karena berada di paling bawah tumpukan.

Biji-biji yang ada di tubuh ibu tak semua gosong mati, dan akulah salah satunya. Selain itu, ada juga bulir-bulir saudara lain yang tertiup angin, melayang, terlempar, terselip ke bawah batu-batu kerikil. Tukang kebun tak tahu bahwa kami yang kecil ini banyak yang selamat.
***
DI pinggir taman tempatku berdiam, ada kakak yang sudah merasa kesal ingin cepat-cepat berkecambah. Aku menyabarkannya, “Tunggulah ini masih kemarau. Kau bisa-bisa mati kehausan.”

Kakakku malah kukuh tak menerima saran. “Ini hidupku, bukan hidupmu. Bukankah rezeki telah ada yang mengatur?”

Lalu di suatu pagi kakak membelah. Kuncup daunnya timbul, putih kehijauan. Kakak harus benar-benar berjuang pada saat tiba siang karena benar-benar kepayahan, kehausan.

Kemudian setelah melewati berhari-hari, pada suatu siang pun sinar matahari benar-benar bengis, kakakku meringis menangis-nangis hingga menyerah gugur.

Waktu pun berlalu hingga tiba pulalah rintik-rintik air jatuh dari langit. Kali ini giliran adik yang begitu bersemangat menyangka ini sudah mulai musim hujan. Dengan percaya diri membelah mengecambah menjelang malam.

Rupanya dugaannya salah. Hujan hanya turun kemarin. Hari ini juga hari-hari selanjutnya tak turun. Adikku benar-benar kelabakan kewalahan. Hingga pada akhirnya menyusul kakak.

Minggu-minggu berlalu, hujan kini teratur turun nyaris setiap hari. Ya, ini sudah saatnya musim hujan. Aku mengecambah, kemudian daun-daunku dan daun-daun saudara-saudaraku menggeliat di antara batu-batu kerikil.

Bersama yang lain, kami saling sapa. Inilah pertama kali melihat sinar matahari. Ooh… betapa besar bentuk bulatnya! Kami yakin jaraknya jauh. Oh! Tak dapat dibayangkan betapa panasnya bila dekat.

Kami semua bisa cepat tumbuh. Daun-daun mengilat. Air hujan membawa unsur-unsur penting lain untuk makanan kami. Hingga tibalah masa itu, ketika bapak menengok kembali rumahnya yang memang dibiarkan kosong. Bapak bicara pada tukang kebun.

“Bagaimana? Sudah ada yang berhasrat untuk menyewa?”

“Belum, Pak. Katanya, harganya kemahalan.”

“Aku kira tidak, itu sudah cukup. Ini sudah harga wajar. Ya kalau begitu untuk sementara, kau tinggali saja rumah ini sampai ada yang sepakat. Hanya aku titip, taman di depan harus selalu tertata rapi. Tak boleh ada rerumputan.”

“Baik Pak. Besok aku akan memulai membersihkannya.”

Duh. Kejadian seperti dulu saat kami diberangus kiranya akan terulang. Kami berharap ada keajaiban. Esoknya saat Subuh, semua cemas menunggu kedatangan tukang kebun. Kami semua bersedih.

Saat sinar matahari mulai menyinari, seharusnya bergembira karena mendapat hangat juga vitamin D. Tetapi tidak! Di antara kami nyaris tak ada tegur sapa. Namun, sampai matahari sepenggalah, tukang kebun belum juga datang, hingga untuk beberapa saat kami semua tenang.

Tetapi ketika kami teringat kembali bahwa tukang kebun itu akan datang, kami kembali bersedih. Ketika siang, hujan kembali turun.

Batu-batu kerikil membasah menjadi bersih cemerlang. Limpahannya menembus tanah-tanah di bawahnya. Ya seharusnya semua gembira bersuka ria kala deras air tercurah dari langit.

Kami semua berusaha untuk menjadi senang, tetapi tetap saja sia-sia. Pada akhirnya air hujan bercampur dengan air mata.

“Kuharap tukang kebun itu tak datang,” kataku, ketika suasana sepi.

Baca Juga

“Semoga,” teman sebayaku berharap.

“Sepertinya iya,” teman yang lain ikut bicara meyakinkan.

Baru saja teman yang lain membuka mulutnya hendak nimbrung, terdengar suara bising deru motor tukang kebun. Kami semua terkesima.

Membayangkan bahwa sebentar lagi akan berlumur bara. Tetapi tunggu, terdengar gerutuan. “Maklum saja bapak itu seorang yang perfeksionis. Rumput-rumput baru tumbuh segitu, harus sudah dicerabuti. Mendingan nanti saja ah. Kalau rumput-rumput sudah setinggi betis. Lagi pula, katanya bapak kan mau ke luar negeri dulu setahun.”

Kami semua bersorak. Berarti masih bisa hidup lebih lama lagi. Kemudian tukang kebun itu melepaskan sepotong papan beserta tiangnya yang diikat di jok motornya. Dia berbicara lagi.

“Bapak itu menyuruhku untuk memelihara rumah ini? Hi! Ngeri! Di dalamnya banyak hantu. Ada kuntilanak. Ada nenek tua. Juga kadang-kadang ular. Pokoknya aku tak akan kuat bila harus tinggal di rumah ini. Ya sudah. Mendingan aku pasang saja plang pengumuman ini, Rumah yang Representatif ini Disewakan. Hubungi No WA081…. Sudah, beres.”

Tak lama, tukang kebun pun pergi.

Lalu minggu-minggu berganti. Tukang kebun itu, tak pernah mampir lagi. Bahkan sampai berbulan-bulan. Tetapi di akhir tahun, dengan wajah muram, dia datang! Kali ini marah-marah.

Kami semua takut. Namun rupanya ditujukan pada bapak itu.

“Duh, mengapa bapak ingkari janji? Sudah lama tak mentransfer uang upah. Kalau begitu, aku kapok, tak akan ke sini lagi.”

Kami semua antara percaya dan tak percaya dengan perkataan tukang kebun ini. Bila benar begitu, berarti akan hidup merdeka!

Waktu bergerak.

Dari keluarga lain, seumpama teki, rumput jarum, atau juga yang lainnya, tumbuh pula. Menyembul di antara kerikil-kerikil, batu-batu, hingga leluasa menjulang.

Semua hidup bahagia di taman ini. Bisa bersenda gurau, saling bercerita tentang leluhur, juga bercita-cita sama agar berketurunan abadi.

Waktu bergerak.

Aku sendiri pun rumput grinting, makin tinggi, sudah pula berbunga, berbiji, putih kecil-kecil. Berbentuk seperti bulir padi, hanya sekitar 2 milicenti. Saat tertiup angin, biji-bijiku menyebar ke seantero taman.

Kemudian dapat dengan mudah tumbuh di sela-sela kerikil. Saat aku mendongak ke dinding tembok depan rumah bagian bawah, kulihat ada yang menyembul.

Aku berseru! Itu kersen! Daunnya mungil bergerigi, batangnya berwarna lucu, pink, seperti juga nanti warna buahnya yang matang. Tumbuh tepat di pinggir dinding.

Aku tahu, bijimu sampai ke sini karena terbawa kotoran burung. Lalu ketika aku melihat ke talang air di bawah genteng sebelah kanan muka rumah, ada pula perdu paku-pakuan. Sedangkan di sebelah kirinya, ada sebongkah anggrek.

Papan pengumuman dan tiang kayu penyangganya pun kini sudah tertutupi dari jenis kami yang merambat. Tukang kebun tak pernah lagi datang, benar-benar sudah tersinggung pada bapak. Juga bapak tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya, entahlah.

Pada akhirnya, kami menutupi taman. Ada juga putri malu, yang kini sudah tak malu-malu lagi menampakkan diri. Bahkan alang-alang, meskipun tak diundang.

Di semua bagian bawah dinding rumah telah pula ditumbuhi lumut. Sedangkan di sekeliling pinggir dindingnya, ada juga beberapa rumput lain yang tumbuh liar.

Tapi benarlah tak ada yang abadi. Aku yang sudah menjadi ibu kaget, ketika di satu pagi tiba tiga manusia. Mereka bicara. Lalu, kata seorang pewaris rumah ini, “Habiskan semua gulma.”

“Oh!” Aku menjerit disebut gulma. “Manusia lupa, cacing-cacing penyubur tanah hidup di bawah kami, sebagian dari kami juga adalah pakan utama hewan herbivora.” ***

Gandi Sugandi,  alumnus Sastra Indonesia Universitas Padjajaran Bandung yang bekerja di Perum Perhutani.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Naskah orisinal hanya dikirim ke Cendana News. Belum tayang di media lain baik cetak, online, atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. 

Lihat juga...