Harga Anjlok, Peternak Memilih tak Menjual Ternaknya

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Anjloknya harga jual komoditas ternak baik sapi, domba, maupun kambing sebagai dampak penyebaran virus corona beberapa waktu terakhir memaksa para peternak di Bantul, Yogyakarta merugi akibat tak bisa menjual ternak mereka.

Para peternak mengaku lebih memilih untuk menyimpan ternak mereka hingga harga jual kembali stabil seperti semula. Meskipun mereka harus kesulitan memberi makan ternak-ternak tersebut sebagai akibat wabah virus corona.

Salah seorang peternak yang juga Ketua Kelompok Ternak Mina Ngremboko Argomulyo Sedayu Bantul, Rakimin, membenarkan hal tersebut. Ia menyebut adanya pandemi virus corona atau Covid-19 benar-benar telah memukul ekonomi masyarakat tak terkecuali para peternak.

“Dampaknya tentu saja ada. Harga jual ternak hancur. Para peternak jelas merugi karena harga beli dan harga jual tidak sebanding,” katanya kepada Cendana News, Selasa (31/03/2020).

Anjloknya harga jual sapi misalnya hingga mencapai Rp2-3 juta per ekor, memaksa Ramikim untuk menahan ternak sapinya agar tidak dijual. Terlebih bagi para peternak yang fokus memelihara ternak sapi untuk pembesaran seperti dirinya.

“Kebetulan saya punya beberapa ekor sapi. Sebagian untuk pembesaran, dan sebagian untuk anakan. Kalau untuk anakan mungkin tidak terlalu pengaruh karena hanya menjual ternak saat anakan lahir saja. Tapi untuk pembesaran jelas pengaruh sekali,” ungkapnya.

Lebih lanjut Rakimin dan sejumlah peternak lainnya mengaku tidak tahu sampai kapan bisa menahan ternak mereka untuk tidak dijual. Pasalnya setiap hari mereka harus mengeluarkan tenaga dan biaya untuk memberi pakan ternak-ternaknya.

“Karena kita memelihara ternak juga butuh biaya pakan. Belum juga tenaga untuk mencari rumput. Sementara di tengah kondisi virus corona seperti sekarang ini, kebutuhan semakin banyak dan mahal. Jika kondisi tidak juga membaik tentu akan sangat merugikan peternak,” ungkapnya.

Lihat juga...