Kuliah di Cina, Dokter Ina Beri Tips Hadapi Covid-19

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Saat virus COVID-19 mengganas di Cina, dr. Arfelina Sugiarto masih berada di Guangzhou, Cina. Meski tak separah Wuhan, namun di Guangzhou juga banyak yang terpapar virus tersebut, sebab banyak pendatang dari Wuhan yang pulang ke kota tersebut.

“Saya pulang ke Indonesia awal bulan Februari dan setelah itu tidak bisa kembali lagi ke Cina, karena semua penerbangan ke sana ditutup,” jelas dokter Ina, sapaan Arfelina Sugiarto, Minggu (29/3/2020).

Terkait kondisi Indonesia, khususnya Banyumas saat ini yang sedang berupaya untuk memerangi COVID-19, dr. Ina bertutur, masyarakat harus disiplin mematuhi anjuran pemerintah untuk stay at home. Itu merupakan landasan awal untuk bisa secepatnya keluar dari wabah COVID-19.

“Saya melihat, kedisiplinan masyarakat masih kurang, masih ada orang yang berada di jalan dan tidak menggunakan masker. Itu sangat berbahaya dan akan sulit memutus penyebaran COVID-19, jika tidak disertai kesungguhan dan kedisiplinan masyarakat,” katanya.

Saat kondisi seperti sekarang ini, seluruh penduduk Cina mengkarantina diri sendiri di rumah masing-masing. Jika terpaksa harus keluar rumah karena ada keperluan yang sangat penting, misalnya membeli bahan pangan, maka wajib menggunakan masker.

Kedisiplinan masyarakat Cina sangat terasa, bahkan angkutan umum serta gedung-gedung baik mal ataupun lainnya, tidak akan memperbolehkan orang tanpa masker masuk.

“Di sana, sebagian besar masyarakat menggunakan angkutan umum dan saat COVID-19 mewabah, orang tanpa masker dilarang naik, aturan tersebut diterapkan secara tegas,” jelas dokter tamatan Sun Yat Sen University ini.

Selain soal kedisiplinan masyarakat, dr. Ina juga menyoroti lamanya waktu untuk mengetahui hasil tes swab. Di Cina, untuk mengetahui seseorang positif atau negatif corona, hanya dibutuhkan waktu dalam hitungan jam. Sehingga langkah-langkah medis selanjutnya bisa secepatnya dilakukan.

Namun, di Indonesia masih butuh waktu sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil tes. Lamanya jeda waktu ini, bisa menyebabkan banyak hal terjadi. Mulai dari pembengkakan biaya medis, kemudian terjadi interaksi seorang suspect dengan orang lainnya yang berpotensi menimbulkan penularan.

dr. Ina mengatakan, untuk mempercepat hasil tes, dibutuhkan campur tangan pihak swasta, misalnya dengan mendirikan laboratorium.

Sementara itu, saat berkesempatan bertemu dengan Bupati Banyumas, Achmad Husein, Bupati meminta saran dan masukan untuk penanganan dan pencegahan COVID-19 di Banyumas.

“Jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Banyumas terus bertambah, begitu pula dengan yang positif corona, apa yang harus dilakukan supaya pencegahan yang dilakukan efektif,” kata Husein.

Ina menuturkan, untuk mengambil keputusan lock down memang harus melalui banyak pertimbangan, karena akan berimbas kepada banyak hal. Sehingga yang perlu dilakukan adalah, membangun kesadaran masyarakat supaya bisa disiplin tetap berada di rumah, serta disiplin menggunakan masker saat terpaksa harus keluar rumah.

Lihat juga...