Musim 2020 Tertunda, MotoGP Dipusingkan Agenda Kejar Tayang

Pebalap tim Monster Energy Yamaha MotoGP Valentino Rossi di Grand Prix Malaysia, Sirkuit Sepang, Malaysia (3/11/2019) – Foto Ant

JAKARTA – Setelah pandemi virus corona memaksa musim balapan 2020 tertunda, MotoGP kini bergulat dengan waktu untuk menentukan nasib kejuaraan dunia tahun ini, di tengah ancaman kerugian secara finansial.

Dorna, selaku promotor, telah membatalkan kelas premier di Qatar, di mana hanya Moto2 dan Moto3 yang berlaga di Sirkuit Losail awal bulan ini. Kemudian di tengah tekanan aturan pembatasan perjalanan, tiga seri berikutnya, yaitu Thailand, Texas dan Argentina diputuskan ditunda pelaksanaanya.

Sedangkan tiga balapan selanjutnya yang digelar pada Mei, yakni Spanyol, Prancis dan Italia, masih dalam tanda tanya. Jika balapan tahun ini bisa digelar, entah mulai kapan, Dorna akan memundurkan akhir musim sebanyak dua pekan ke 29 November.

Kemungkinan besar juga tak akan ada sesi jeda musim panas, yang berlangsung 13 Juli hingga 2 Agustus, karena Dorna akan memasukkan sejumlah balapan di periode tersebut. Hal itu dilakukan, mempertimbangkan batasan dari logistik, perbedaan waktu serta cuaca dan musim. “Tujuan kami adalah menjaga kejuaraan ini dengan jumlah balapan semaksimal mungkin,” kata CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta, Rabu (25/3/2020).

Kalender yang direvisi nantinya akan mendapati tujuh pekan yang padat, dengan enam balapan secara beruntun. Hanya tersedia waktu libur satu pekan di antara balapan. “Secara fisik kami bisa melalui semuanya, Secara mental itu akan menjadi ujian bagi kita semua,” kata pebalap Suzuki Joan Mir.

Sementara itu bos tim satelit KTM, Tech3, Herve Poncharal mengatakan, setiap tim memerlukan balapan untuk mendapat keuntungan secara finansial. “Jika tak ada lagi Grand Prix, tak ada lagi pemasukan yang terkait dengan sponsor dan uang hadiah,” kata Poncharal, yang membawahi dua tim di MotoGP dan Moto3 itu.

Membalap di trek tanpa penonton juga bukan suatu solusi. “Balapan tertutup, secara ekonomi, tak memungkinkan. Kami memerlukan pemasukan,” tandasnya.

Sedangkan bos tim satelit Yamaha, SRT, Johan Stigefelt, memandang sisi positif jika jumlah balapan di kalender tahun ini berkurang. “Dalam skenario itu, kami juga akan tak terlalu sering bepergian jadi biaya perjalanan akan berkurang dan sebagainya,” tandasnya.

Pembatalan Grand Prix Qatar juga memunculkan masalah teknis. Motor kompetitor diinspeksi pada Kamis sebelum seri pembuka tersebut telah lewat proses homologasi. Dan setelah itu tim, kecuali KTM dan Aprilia yang belum lama bergabung, tak bisa melakukan upgrade mesin mereka dan hanya diperbolehkan mengganti aero-body satu kali setiap pebalap. Menyikapi itu MotoGP menyatakan, untuk alasan kesetaraan dan keadilan homologasi harus dilakukan secara remote dan digital sedini mungkin.

Pandemi virus corona juga akan berdampak terhadap pengembangan motor dari setiap tim kompetitor untuk tahun 2021. Formula 1 telah terlebih dahulu memutuskan untuk menunda penerapan regulasi teknis tahun 2021 ke 2022, namun MotoGP belum mengambil keputusan. “Kami akan bepergian dan membalap hingga akhir tahun ini, mungkin sampai Desember. Itu berarti musim depan akan mulai lebih dini,” kata Stigefelt. (Ant)

Lihat juga...