Musim Kemarau 2020 Mulai Terjadi Awal April

Perahu milik nelayan terdampar di sekitar Sungai Jeneberang yang mengering di Desa Bili-Bili, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (30/10/2019) – Foto Ant

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, awal musim kemarau 2020 akan dimulai pada April mendatang.

“Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 17 persen diprediksi akan mengawali musim kemarau pada April 2020, yaitu di sebagian kecil wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Senin (23/3/2020).

Untuk puncak musim kemarau, diprediksi sekira 9,9 persen daerah ZOM akan memasuki puncak pada Juli. 64,9 persen mengalami puncak di Agustus, dan sekira 18,7 persen mengalami puncak kemarau di September. Datangnya musim kemarau, berkait erat dengan peralihan Angin Baratan atau Monsun Asia menjadi Angin Timuran atau Monsun Australia.

BMKG memprediksi, peralihan angin monsun akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara pada April 2020. Bergeserk ke wilayah Bali dan Jawa, kemudian sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi pada Mei 2020 dan akhirnya Monsun Australia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada Juni hingga Agustus 2020.

Lebih lanjut dikatakan, sebanyak 38,3 persen wilayah yang akan memasuki musim kemarau pada Mei 2020, meliputi sebagian Bali, Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi. Daerah yang akan memasuki kemarau di Juni adalah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua, semuanya sekira 27,5 persen.

Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis awal musim kemarau untuk periode 1981-2010, maka awal musim kemarau 2020 di Indonesia diprakirakan mundur pada 148 ZOM (43,3 persen), normal pada 128 ZOM (37,4 persen) dan maju pada 66 ZOM (19,3 persen).

Selanjutnya, apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis akumulasi curah hujan musim kemarau pada periode 1981-2010, maka secara umum, kondisi musim kemarau 2020 diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 197 ZOM (57,65 persen).

Namun sejumlah 103 ZOM (30,1 persen), akan mengalami kondisi kemarau bawah normal atau lebih kering, yaitu curah hujan musim kemarau lebih rendah, dari rerata klimatologis dan 42 ZOM (12,3 persen). Dan akan mengalami atas normal atau lebih basah yaitu curah hujan lebih tinggi dari reratanya. (Ant)

Lihat juga...