PAK HARTO SUKSES MENGUBAH INFLASI 650 PERSEN MENJADI SWASEMBADA BERAS

Pak Harto Sukses Mengubah Inflasi 650 Persen Menjadi Swasembada Beras

Awal Orde Baru, Pelita pertama kepemerintahan Presiden kedua Republik Indonesia, Jenderal Besar HM Soeharto dihadapkan kepada permasalahan ekonomi, karena mewarisi inflasi yang mencapai 650 persen.

Tidak mempunyai dana, uang untuk membeli pupuk, untuk membeli obat-obatan, untuk membeli bibit hingga biaya penanaman yang baik, menjadi kendala utama petani saat itu. Pemerintahan Orde Baru terus mengupayakan agar ada jalan dalam meningkatkan produksi pertanian, yakni berupaya untuk menyediakan pupuk. Diyakini hal tersebut dapat mengatasi permasalahan dan meningkatkan produksi.

Di tengah keterbatasan dana akibat inflasi 650 persen, pemerintah mulai menggalakkan intensifikasi Panca Usaha melalui usaha bimbingan massal (Bimas). Tahap pertapa, pemerintah menggunakan sistem gotong-royong dengan menggandeng pihak swasta untuk menyediakan sarana dan prasarana produksi, kemudian dipinjamkan kepada rakyat. Setelah panen, barulah petani membayar kepada pihak swasta.

“Alhamdulillah, Bimas Gotong Royong tidak begitu lama, disusul kemampuan negara dan kepercayaan dari negara lain maupun juga lembaga-lembaga dunia, kita diberi pinjaman untuk membangun,” terang Presiden Soeharto dalam Temu Wicara pada Kunjungan Kerja ke Subang Jawa Barat (Panen Raya), 2 April 1994

Setelah pemerintah dan negara mampu, Bimas Gotong Royong dihentikan dan diganti Bimas umum, disamping menganjurkan bagi rakyat yang telah mampu melakukan intensifikasi sendiri untuk membeli sarana prasarana produksi tersebut.

“Tapi yang mampu mandiri masih kecil. Umumnya semuanya mengikuti Bimas umum, pemberian kredit yang disediakan oleh pemerintah untuk dapat menaikkan produksi,” sebut Pak Harto.

Langkah berikutnya, pemerintahan mengusahakan lagi dengan secara intensif khusus. Lebih-lebih, Pemerintah dalam membangun industri mengutamakan industri yang mendukung pertanian.

“Pabrik pupuk kita dahulukan, kita bersyukur bahwasanya pemerintah konsisten membangun pabrik pupuk dari 100.000 di permulaan, sudah sampai produksi 6 juta ton pupuk, meski masih sangat dirasakan kekurangannya,” terang Pak Harto.

Tahapan-tahapan tersebut terus berlanjut sampai kepada insus, kemudian supra insus dan akhirnya, produksi per hektare meningkat, walaupun ekstensifikasi atau penambahan areal sawah masih kecil. Tapi dengan meningkatkan produksi per hektare, melewati intensifikasi sampai pada supra insus, tahun 1984 Indonesia bisa mencapai swasembada beras.

Lihat juga...