Pelestarian Tari Tradisional Butuh Peran Serta Sejumlah Pihak

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Pelestarian kesenian tradisional salah satunya bidang tarian masih dipertahankan oleh dunia pendidikan di Lampung Selatan (Lamsel).

Yepi Okmariza, tenaga pendidik di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kalianda menyebut tarian tradisional yang dilestarikan salah satunya tari Muli Bukipas dan Siger Pengunten.

Tarian Muli Bukipas diakui Yepi Okmariza merupakan gambaran kegembiraan gadis gadis diiringi dengan alunan musik yang menyenangkan. Tarian tersebut dimainkan oleh sebanyak enam orang gadis dengan mengenakan kostum yang semarak. Mengenakan topi siger dengan aksesoris yang unik membuat tari itu disajikan dalam rangkaian penyambutan tamu.

Yepi Okmariza (kanan) dan Linda (kiri) tenaga pendidik PAUD asal Kecamatan Kalianda Lampung Selatan yang melestarikan tarian tradisional Muli Bukipas sekaligus diajarkan kepada para siswa, Sabtu (15/3/2020). -Foto: Henk Widi

Pelestarian tari tradisional menurut Yepi Okmariza dilakukan agar generasi muda mengenal tari khas asal Lampung. Sebab tari Muli Bukipas diajarkan kepada siswa PAUD hingga SMA. Sejumlah tarian khas Lampung lain yang diajarkan pada siswa sebagian kegiatan ekstrakurikuler juga cukup beragam. Tari yang diajarkan meliputi Tuping, Bedana, Nyambai, Melinting dan sejumlah tarian lain.

“Pada sejumlah wilayah selain tarian khas Lampung sesuai dengan kearifan lokal masyarakat juga diajarkan sejumlah tarian asal Jawa Barat, Jawa Tengah, Padang, daerah lain agar siswa juga mengenal keberagaman tarian tradisional daerah lain di Indonesia,” terang Yepi Okmariza saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (15/3/2020).

Tarian Muli Bukipas yang dilatih dan ditampilkan oleh Yepi Okmariza dan lima tenaga pendidik diakuinya butuh latihan rutin. Ia menyebut dengan ketekunan tarian yang diiringi dengan musik menyenangkan itu dalam dua pekan bisa ditampilkan. Memanfaatkan smartphone iringan musik yang sudah disimpan tidak harus menggunakan pemain musik langsung.

Tarian Muli Bukipas diakuinya merupakan tari kreasi baru yang diajarkan bagi siswa. Pada penampilan dengan pasangan pria tarian itu disebut dengan Muli Mekhanai Bukipas.

Selain tarian itu jenis tarian khas Lampung yang masih rutin diajarkan kepada siswa adalah tari Sigeh Pengunten. Tarian yang mempresentasikan keberagaman itu merupakan tarian untuk menyambut tamu penting.

“Sebelumnya tari Sigeh Pengunten disebut dengan tari Sembah dengan ciri khas aksesoris Siger jadi ritual penyambutan tamu,” beber Yepi Okmariza.

Selain oleh tenaga pendidik,tarian tradisional Lampung disebutnya banyak diajarkan pada sejumlah sekolah. Selain sekolah sejumlah sanggar yang mulai dibentuk pada sejumlah desa ikut melestarikan kesenian tradisional. Melalui kepedulian pada pelestarian kesenian tradisional ia berharap generasi muda mencintai budaya yang ada di daerahnya.

Tarian tradisional menurutnya bagi generasi muda menjadi cara mengenalkan budaya. Sebab sebagian siswa yang berasal dari beragam daerah Indonesia akan mengenal budaya daerah lain. Dilatihnya siswa sejak dini pada sejumlah kesenian tradisional menjadi cara mengedukasi agar saling menghormati keberagaman.

Iin Mutmainah, Direktur Kreatif Komunitas Dakocan Lampung saat ditemui Cendana News di Bakauheni, Minggu (15/3/2020). -Foto: Henk Widi

Iin Mutmainah, Direktur Kreatif Komunitas Dakocan Lampung, menyebut tarian merupakan cara edukasi keberagaman. Sebab sejumlah tarian muncul dari sebuah cerita tertentu di masyarakat sebagai kearifan lokal yang dipertahankan. Peran sejumlah pihak melestarikan tari tradisional bisa meningkatkan karakter yang baik bagi generasi muda.

“Sejumlah tarian merupakan gambaran kehidupan sehari hari masyarakat bahkan berangkat dari kisah di masa silam,” bebernya.

Iin Mutmainah menyebut sebagai motivator pada dunia pendidikan, selain seni tari mendongeng bisa membentuk karakter. Sejumlah dongeng yang memiliki pesan moral kehidupan bisa ditampilkan dalam bentuk tarian. Kreativitas tenaga pendidik untuk mengajarkan nilai moral melalui kesenian, dongeng sekaligus menghormati kearifan lokal yang ada di masyarakat pada generasi muda.

Sejumlah tari tradisional sebagai bagian kearifan lokal mulai dikombinasikan dengan tari kreasi baru. Bentuk kearifan lokal pada tarian tradisional pada kisah perjuangan pahlawan Raden Inten II adalah tari Tuping. Tari itu menggambarkan perjuangan 12 pasukan Raden Inten II melawan penjajah. Selain tenaga pendidik, setiap desa miliki peran melestarikan tarian tradisional sesuai kearifan lokal masing-masing.

Lihat juga...