Perkutut Lokal Masih Diminati Penghobi Burung di Lamsel

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Burung perkutut lokal dengan nama ilmiah Geopelia striata masih diminati oleh sebagian penghobi di Lampung Selatan (Lamsel).

Burung dengan suara khas membuat sejumlah penghobi membentuk komunitas yang dikenal dengan Kung Mania,sebutan pecinta perkutut. Sebagian penghobi perkutut membentuk kerukunan atau paguyuban.

Misro, pecinta perkutut asal Desa Sinar Palembang,Kecamatan Candipuro memelihara perkutut sejak sepuluh tahun silam. Burung perkutut yang dimilikinya saat ini berjumlah sekitar enam ekor. Sebagai kecintaannya pada perkutut setiap burung diberi nama sesuai ciri fisik. Nama burung yang dimilikinya meliputi kancil, kliwon, precil, senen, bawor dan badut.

Misro ,salah satu peserta lomba kicau burung perkutut asal Desa Sinar Palembang Kecamatan Candipuro ,Lampung Selatan yang ikut dalam lomba kicau perkutut di Desa Buring,Kecamatan Penengahan, Minggu (22/3/2020). -Foto Henk Widi

Burung perkutut lokal menurutnya diperoleh dari proses memikat. Memikat merupakan cara menangkap perkutut liar dengan perkutut yang sudah dilatih. Setelah dipikat perkutut liar akan dilatih agar memiliki suara yang merdu. Kemerduan suara perkutut atau dikenal manggung kerap dipertandingkan. Pada kegiatan perlombaan perkutut Misro menyebut telah ikut perlombaan puluhan kali.

“Perlombaan perkutut yang saya ikuti mulai tingkat kecamatan hingga kabupaten dan saat ini sudah memiliki belasan piagam dan sertifikat sebagai penanda suara perkutut yang saya miliki telah ikut dalam sejumlah kompetisi,” terang Misro saat ditemui Cendana News, Minggu (22/3/2020).

Sebagai penghobi perkutut Misro menyebut pemeliharaan burung tersebut cukup sederhana. Sebab dengan pakan berupa ketan hitam, sorgum yang diperoleh dari kios penjualan pakan burung ia bisa menjaga burung tersebut hingga berkicau. Pemeliharaan perkutut dengan cara yang baik membuat kualitas suara yang dihasilkan cukup merdu untuk dinikmati setiap hari.

Burung perkutut yang telah terlatih menurutnya akan berbunyi setiap saat. Sebagai burung yang dikenal memiliki nilai positif tersebut Misro menyebut memelihara perkutut memberi aura positif bagi rumahnya. Setiap hari burung yang dipelihara akan ditempatkan pada gantangan. Gantangan merupakan tiang bambu yang diberi tali untuk mengerek sangkar perkutut setinggi mungkin.

“Saat ditempatkan pada gantangan yang tinggi, perkutut yang telah berbunyi akan berinteraksi dengan burung lain,” bebernya.

Sebagai cara menguji suara burung perkutut miliknya, Misro ikut perlombaan yang digelar Paguyuban Perkutut Sukabaru. Gelaran lomba tersebut diikuti oleh sekitar 71 penghobi dari Kecamatan Kalianda, Candipuro, Penengahan, Ketapang dan sejumlah kecamatan lain. Perlombaan yang diikuti oleh Misro untuk perkutut lokal alam  berupa kelas A dan kelas B.

Basirun, Ketua Kerukunan Perkutut Lokal Sukabaru sekaligus ketua panitia lomba perkutut lokal di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Minggu (22/3/ 2020). -Foto Henk Widi

Basirun, ketua Paguyuban Perkutut Lokal Sukabaru (KPLSKB) menyebut sebanyak 71 peserta ikut dalam perlombaan. Peserta disebutnya terbagi dalam sebanyak 35 peserta kelas A atau suara kecil dan sebanyak 36 peserta kelas B atau suara besar. Kegiatan perlombaan perkutut lokal menurutnya menjadi ajang silaturahmi penghobi perkutut. Sebab selama ini penghobi perkutut di wilayah Lamsel cukup banyak.

“Pecinta perkutut lokal memiliki paguyuban atau komunitas mulai tingkat desa hingga kecamatan dan akan saling bertemu saat kompetisi,” beber Basirun.

Basirun menyebut semula perlombaan akan ditunda akibat larangan berkumpul cegah penyebaran corona (Covid-19). Namun karena jadwal acara sudah ditentukan jauh hari dan peserta sudah datang, perlombaan tetap digelar setengah hari. Perlombaan tersebut menjadi ajang silaturahmi para pecinta perkutut meski hanya dilakukan dalam waktu singkat.

“Kami tetap mengikuti aturan larangan untuk berkumpul cegah corona sehingga pelaksanaan dipercepat,” beber Basirun.

Berdasarkan penilaian wasit, sejumlah perkutut berhasil menyabet juara dengan suara terbaik. Perkutut yang mendapatkan juara pertama pada kelas A adalah perkutut Pacar milik Badiman asal Desa Kelaten,Kecamatan Penengahan. Juara kedua perkutut berna Rebet milik Gimin asal Bangunrejo dan juara ketiga perkutut bernama Jojo milik Nok warga Buring.

Pada kelas B, perkutut bernama Kliwon milik Sunyoto asal Candipuro berhasil mendapat juara 1 pada kelas B. Selanjutnya juara 2 perkutut bernama Bejo milik Bambang warga Kalianda dan perkutut bernama Dadung milik Heri warga Pematang Pasir, Ketapang. Sejumlah pemenang lomba perkutut mendapatkan piagam, trophy dan uang pembinaan untuk meningkatkan minat penghobi perkutut lokal.

Lihat juga...